JAKARTA-(TribunOlahraga.com)

Kejuaraan Berkuda AE Kawilarang  Memorial II yang berakhir Minggu (16/6), di Lintasan Equestrian Pulo Mas Jakarta,  berlangsung meriah dan persaingan di antara peserta sangat ketat.

raymenSengitnya perebutan gelar di nomor-nomor bergengsi bahkan disaksikan langsung oleh mantan ‘rider’ nasional yang juga  mantan Sekjen Federasi Equestrian Indonesia (EFI),  Rafiq Radinal Mochtar.

“Sejak awal saya tak setuju kalau EFI memberikan sanksi (ban) pada seluruh ‘rider’ yang berkompetisi di Kejurnas EQINA,” ungkap Rafiq di sela-sela menyaksikan perlombaan 120, 130 dan 140 cm.

Selain Rafiq, ‘kehebohan’ gelaran AEK Memorial II di Pulo Mas ini juga mengundang kehadiran Menteri Perikanan dan Kelautan Cicip Syarif Sutardjo dan Direktur Ditpolsatwa Baharkam Polri, Brigjen Pol Affan Richwanto.

‘Hebohnya’ AEK Memorial II antara lain karena melombakan kelas 140 cm yang sebelumnya tak pernah digelar. Kelas ini lebih banyak  dilombakan di ‘single event’ tingkat Asia atau dunia. Di level Asia Tenggara, kelas tertinggi hanya 130 cm. Di SEA Games Myanmar, Desember nanti, kelas tertinggi ‘jumping’ justru 110 cm.

Di nomor puncak 140 cm yang memperebutkan Piala Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo itu, yang tampil adalah enam ‘rider pilihan’. Yakni, Ardi Hapsoro Hamidjojo yang beberapa menit sebelumnya sukses memenangi kelas 130 cm, lalu Brayen Brata Coolen yang menyambar gelar 130 cm pada perlombaan Sabtu. Lainnya, Ferry Sudarmadi, Raymen Kaunang, Yan Yan Hardiansah, dan Joko Susilo.

Dari enam ‘rider’ handal ini,  Raymen Kaunang dan Brayen Brata Coolen sama-sama membuat ‘clear round’. Raymen mencatat waktu 74.72 dt, sementara Brayen 80.04 dt. Ini membuat keduanya harus ‘jump-off’ untuk memastikan siapa yang layak merebut gelar. Sehari sebelumnya, Brayen membuat kejutan dengan memenangi nomor puncak 130 cm setelah kegagalannya di beberapa kelas.

Di kelas 140 cm ini para pesaing Raymen dan Brayen pesaing lainnya gagal tampil sempurna, termasuk Ardi Hapsoro yang bersama Grace 292 banyak membuat kesalahan, yakni tiga menit melampau limit waktu dan empat melanggar rintangan.

Pada ‘jump-off’ dengan limit waktu 67 detik itu, Raymen Kaunang yang juga atlet persiapan PON DKI itu kembali tampil menawan dengan membuat ‘clear round’ dengan waktu 45.10 dt, jauh dibawah limit 67 dt. Sementara, Brayen membuat beberapa kesalahan dan catatan waktu 53 dt.

AEK Memorial II Myang merupakan seri ke-4 Kejurnas EQINA 2013,  menggelar 12 kelas lompat rintangan. Yakni, 30-50 cm children (anak-anak),  30-50 cm adult (dewasa), 50-70 cm anak-anak, 50-70 dewasa, 70-90 yunior, 70-90 cm senior, 70-90 young horse, 100 cm yunior, 100 cm senior, 110 cm yunior, 110 cm senior, 120 cm terbuka, 130 cm terbuka, dan 140 cm terbuka.

ROMMY TERJATUH

Setelah pada Sabtu arena equestrian AEK Memorial II didatangi banyak tokoh penting di lingkungan Pemprov DKI Jaya, terutama Wagub Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), hari Minggu hadir ke Pulo Mas dan menyaksikan perlombaan Menteri Perikanan dan Kelautan Cicip Syarif Soetardjo dan Direktur Ditpolsatwa stable Brigjen Pol Affan Richwanto.

Direktur  Ditpolsatwa stable Baharkam Polri ini menyaksikan beberapa perlombaan beberapa kelas termasuk 70-90 cm senior.                    .

Pada kelas 70-90 cm senior ini dari 16 peserta, hanya tiga yang membuat ‘clear round’ sehingga untuk penetapan peringkat pertama hingga ketiga dilakukan melalui ‘jump-off’, yakni Jayadi, Heru Kuswara dan Rommy Virago..

Saat ‘jump-off’ ini, Jayadi dan Heru Kuswara sama-sama kembali membuat ‘clear-round’ meski catatan waktunya berbeda. Nasib sial dialami Rommy Virago yang tampil atas nama Sembrani Ditpolsatwa.

Pada putaran terakhir, kaki kanan kudanya, Aron, menjatuhkan papan rintangan. Setelah itu, Aron juga ‘menjatuhkan’ Rommy, putra ‘raja dangdut’ Rhoma Irama itu. Walau terjatuh, Rommy tetap menempati posisi ketiga karena kegagalanya terjadi saat ‘jump-off’ untuk menentukan urutan pemenang.

MENTERI CICIP

Medali dan hadiah untuk pemenang kelas 30-50 cm yang “dikuasai’ oleh ‘rider-rider’ cilik dari Taliabo stable Maluku Utara diserahkan oleh Menteri Kehutanan dan Kelautan Cicip Sjarif Sutardjo.   Cicip, yang mengaku memiliki lima ekor kuda equestrian, sudah tiba di arena AEK Memorial II sejak pagi hari.

“Saya jarang-jarang mendampingi istri untuk melihat anak berlomba,” ujar Cicip, yang sempat berdialog dengan Ketua Umum PP Pordasi Muhammad Chaidir Saddak dan Kabid Organisasi & Dana. Johanes Lukman Loekito.

“Apa maksudnya optimum time?” demikian antara lain ditanyakan Cicip.

Rupanya, Nima Ilayla Sutardjo, anak bungsu pasangan Cicip-Inge itu ikut berlomba di kelas 50-70 cm optimum time. Nima selama ini berlatih di Ananta Riding Club, di kawasan Gunung Putri.                             Pada keikutsertaannya di kelas 50-70 cm anak-anak optimum time ini, Nima menunggang salah satu kuda miliknya, Kharisma.

Disaksikan ayah dan ibunya, Nima tampak tampil percaya diri, untuk membuat ‘clear round’ dengan waktu 81.66 dt.

Persaingan di kelas 50-70 cm anak-anak optimum time ini diikuti delapan atlet, termasuk pemenang kelas 30-50 Hafa Mus dari Taliabo stable. Namun, Hafa Mus gagal mengulangi penampilan terbaiknya. Dia gagal menguasai Lexus sepenuhnya, sebab kuda yang ditungganginya itu membuat tiga angka kesalahan.

Penampilan kurang mengesankan juga mulanya dibuat Abigail Bosse. Seperti di kelas 30-50 cm, Abigail masih tetap menunggang Whiskey saat bersaing di kelas 50-70. Pada penampilannya yang pertama,  Abigail yang berlatih di Trijaya ini gagal membuat kudanya melompati semua rintangan.

Bagusnya, Abigail mampu memperbaiki penampilannya saat turun untuk kedua kalinya di kelas ini. Abigail dengan kuda Jack Sparrow kali ini membuat ‘clear round’ dengan waktu 76.15 dt. Catatan waktu itu menjadi yang terbaik di kelas 50-70 cm, yang membuat putri pasangan Teddy Bosse-Riry  ini menempati urutan pertama.

Di kelas 50-70 cm optimum-time ini persaingan lebih ketat tersaji di kelompok pria. Dari 20-an ‘entries’ di kelas ini, beberapa diantaranya adalah nama-nama top dari kelas lebih tinggi. Diantaranya, Raymen Kaunang dan Brayen Brata Coolen yang menjadi ‘raja’ di kelas 130 cm.

Kelas ini juga diikuti para ‘rider’ yang sudah mewarnai persaingan kelas 50-70 yang juga sudah dilombakan hari Sabtu. Yakni, kakak-beradik Galih Rasiono dan Anjasmoro Wibisono, serta Marco Wowiling dan Jayadi yang memenangi kelas 70-90 cm sehari sebelumnya.

Anjasmoro Wibisono Sabtu memenangi kelas 50-70 dewasa itu dengan mencatat waktu 71.77 dt. Dari delapan ‘entries’, dia memenangi dua kelas. Dia jauh lebih berhasil dibanding kakaknya, Galih Rasiono, yang gagal menuai prestasi dari ’12 entries’.

Persaingan di 12 kelas yang dilombakan di hari ketiga atau terakhir AEK Memorial II ini secara umum lebih seru. Sengatan matahari dari cuaca yang panas membuat hasil lomba jadi lebih sulit diperkirakan. Ini mungkin karena kuda-kuda juga ‘kepanasan’. Jayadi, misalnya, gagal menyuguhkan penampilan terbaiknya di kelas 100 cm senior setelah kudanya, Challenger, sempat menolak melewati salah satu rintangan. Padahal, Jayadi (Trijaya) sebelumnya sukses merebut gelar juara di kelas 30-50 cm dan 70-90 cm.

Yang menarik, persaingan yang ketat ini mengharuskan dilakukannya ‘jump-off’ untuk menentukan pemenang di kelas 1 meter yunior dan senior. Ini karena adanya dua ‘rider’ yang membuat ‘clear round’ di kategori yunior (Samuel Sampurno Prawiro dan Fernando Wowiling), dan empat ‘clear round’ di kategori senior.     Pada ‘jump-off’ kategori 100 cm senior ini, Jojo Jonathan tersisih setelah kudanya, Rimo, sempat menolak melompati salah satu rintangan dan justru Jojo yang terjatuh dari kudanya.

Sementara itu, khusus untuk kelas 100 cm yunior, digelar “borrowed horse”  yakni perlombaan  khusus diantara lima peringkat teratas hasil 100 m yunior itu. Hal ini untuk dilakukan untuk menantisipasi seleksi atlet SEA Games.

“Ini biasa dilakukan diantara negara2 penyelenggara SEA Games. Mereka meminjamkan kudanya untuk peserta lomba,” kata Nico Pelealu, atlet senior yang juga ‘judge’ di EQINA.TOR-02

 

TINGGALKAN KOMENTAR