hiOleh:Made Nariana (Mantan Ketua Umum KONI Bali)
BANYAK kalangan menunggu-nunggu suatu saat Bali menjadi tuan rumah PON. Sasarannya selama ini, adalah tuan rumah PON 2020, setelah PON Jabar 2016. Berdasdarkan catatan di media, Papua sudah resmi mendaftarkan diri sebagai tuan rumah PON tahun 2020. Konon yang beriminat juga adalah Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sumut.
Berdasarkan kebiasaan yang ada di KONI (sekalipun tidak mutlak), tuan rumah PON diadakan bergiliran antara Jawa dan luar Jawa. Kalau tahun 2012 diadakan di Raiu, tahun 2016 kembali ke Jawa (untuk kali ini di Jabar). Setelah di Jawa, tahun 2020 nampaknya akan kembali ke luar Jawa. Apa Bali siap?
Sejak lama, banyak daerah menginginkan Bali siap menjadi tuan rumah PON. Namun selama ini Bali belum siap. Bagaimana tahun 2020? Kalau mau serius, mestinya bisa, namun dengan catatan mulai sekarang dipersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Ada belasan item yang diperlukan jika ingin menjadi tuan rumah PON. Beberapa hal yang pokok al. Komitmen pemerintah provinsi/kabupaten, penginapan (tempat penampungan atlet), venus (lapangan tempat pertandingan), kesiapan dana cash untuk operasional penyelenggaraan, SDM penyelenggara (termasuk wasit dan petugas lapangan), kesiapan masyarakat untuk menerima tamu, faktor keamanan, kesehatan (Rumah Sakit dan sejenisnya) dan beberapa hal lain sebagai faktor penunjang.
Bali secara total di 9 kabupaten harus siap menjadi tuan rumah. Pengalaman PON Riau tahun 2012, pertandingan cabang olahraga (cabor) disebar di sejumlah kabupaten. Kabupaten yang menjadi tuan rumah menanggung seluruh dana PON tersebut, sehingga dapat meringankan provinsi induknya. Di Raiu tempo hari, semua kabupaten berebutan ingin menjadi tempat pertandingan suatu cabor.
Apa makna supaya PON dilakukan di luar Jawa? Tiada lain, supaya daerah terangsang membangun fasilitas/sarana/prasarana olahraga. Dari segi prasarana Bali sebetulnya sudah memenuhi syarat, tinggal menambah beberapa lagi di kabupaten tertentu. Jembarana, Buleleng, Badung, Denpasar memiliki venus yang agak memadai. Kabupaten lain perlu dilengkapi supaya sesuai standar PON.
Kalau dipertandingkan 40–45 cabor di PON misalnya, tinggal dibagi 9 dengan skala prioritas. Misalnya Badung mendapat jatah 8 cabang, Buleleng 8, Denpasar 8, Jembrana 6. Ini berarti 30 cabor sudah tertangani dengan baik. Tinggal 10 cabor—15 cabor disebar di 5 kabupaten yang lain.
Jika cara gotong royong ini diterapkan, maka Bali menjadi satu kesatuan dalam melaksanakan PON, dan tamu PON yang tidak kurang dari 10.000 orang itu akan tersebar di seluruh Bali.
Sebagai tuan rumah PON, tidak semata-mata sebuah gengsi namun juga membawa dampak sosial – ekonomi bagi masyarakat sekitar atau Bali secara umum.
Muncul pertanyaan, di mana pembukaan PON yang memerlukan GOR memadai? Cukup merenovasi GOR Ngurah Rai di Denpasar. Di mana-mana dalam pembukaan PON, tidak seluruh atlet diikutsertakan. Setiap Provinsi diberikan jatah 100 atlet untuk pembukaan PON, sehingga GOR Ngurah Rai tidak penuh sesak.
Pembukaan PON tidak perlu bermewah-mewah, sebab intinya adalah menyalakan api PON, sambutan basa-basi serta hiburan. Kalau ada dana lebih, menggamburkan uang lewat kembang api juga boleh, namun hal itu tidak penting!.
Sebetulnya, Bali juga dapat melakukan pembukaan PON dengan gaya pembukaan PKB (Pesta Kesenian Bali) di mana setiap daerah diwajibkan menampilkan kesenian daerah masing-masing.
Jika Bali serius mau menjadi tuan rumah PON 2020, sejak sekarang dipersiapkan peta potensi Bali dibidang olahraga, termasuk penunjang lain seperti Rumah Sakit, Hotel, dan Venus. Bahkan juga lokasi tempat hiburan/mall/pasar dllnya. Urusan lokasi di mana membeli souvenir, Bali tidak perlu diragukan.
Dan jangan lupa, sebagai keseriusan sebagai tuan rumah, Bali harus menyiapkan dana Rp 1 milyar sebagai jaminan ke KONI Pusat. Provinsi Banten kalah tempo hari menjadi tuan rumah PON 2016 dari Jabar, karena tidak menyetor uang jaminan itu.
Kalau semua persyaratan sudah dipenuhi, dan peminatnya lebih dari satu, akan dilakukan voting untuk menentukan siapa dipilih oleh KONI Provinsi. Saya yakin Bali lebih unggul, karena secara geografis sangat lokasi Bali sentral (di tengah-tengah), dan nama Bali akan lebih menarik ketimbang kegiatan PON itu sendiri.
Bisa jadi peserta PON Bali dua kali lipat, karena keluarga pengurus KONI, Pembina dan keluarga atlet semuanya ingin wisata ke Bali. Kita harus bangga, magnet dan taksu Bali memang luar biasa! TOR-02

TINGGALKAN KOMENTAR