Oleh : Bert Toar Polii
Kryzstov Martens mengawali hari kedua dengan menyatakan kepuasaan atas keseriusan para pemain dalam mengikuti pelatihan yang dilakukannya. Setelah mempelajari hasil pelatihan hari pertama maka ia memutuskan, program selanjutnya akan dimulai pagi hari dengan konsentrasi pada system dan konvensi, siang setelah makan siang membicarakan teknik dummy play dan defense serta sessi terakhir memainkan papan yang pernah dimainkan di berbagai kejuaraan besar di dunia. Permainan pada sessi terakhir akan dibahas pada pagi hari sebelum diskusi tentang system, konvensi dan perjanjian antar pasangan.

Dalam pelatihan hari, hal yang penting ia sampaikan adalah bidding dalam bridge seperti music. Ada irama dan seni di music demikan juga dalam bidding di bridge.
Nah untuk berhasil dalam menentukan kontrak yang tepat maka kedua pemain harus berdansa mengikuti irama music dalam bertukar informasi. Tapi bukan music rok yang menggebu-gebu tapi music yang slow lebih tepat.

Foto Suharto Olii.

Agar bisa mengikuti irama music dalam berdansa tentu saja kita harus menguasainya dengan berlatih jika ingin menjadi pendansa yang baik. Hal yang sama juga dalam bidding, kita harus sabar untuk berbagi informasi sebanyak mungkin. Kesalahan paling fatal adalah terburu-buru, seperti yang dilakukan banyak pemain. Belum banyak informasi yang didapat sudah langsung tanya Ace dengan Blackwood.
Tapi satu hal yang harus dikuasai dengan baik adalah “hand evaluation”.
Ada beberapa factor yang perlu kita perhatikan tentang “hand evaluation” yakni :

1. High Card Point (HCP) atau A-4, K-3, Q-2 dan J=1
2. Distribusi dari 4333 sampai 7600
3. Posisi dari 10 termasuk 9 dan 8
4. Kualitas dari honor. Dalam kontrak trump, AK ok tapi kontrak NT, Q dan J
5. Distribusi dari honor.
6. Kualitas dari Suit.

Kenapa posisi dari honor menjadi sangat menentukan, mari kita lihat ketika kita memainkan kontrak slam di S dengan kombinasi trump S A654 – A Q763 tentu saja akan berbeda dengan A1095 – Q763. Pada posisi pertama, kontrak 6S hanya bikin jika posisi SK tepat dan terbagi 3-2. Sementara pada posisi kedua dengan main double finesse maka persentase untuk bikin menjadi sangat besar.””
Sebenarnya ini pelajaran dasar yang umumnya sudah diketahui para pemain kita. Namun dalam hal ini, pelatih ingin menekankan pentingnya untuk menguasai secara mutlak tentang “hand evaluation” agar bisa meningkatkan kemampuan “judgment” saat dibutuhkan seperti contoh diatas.

Hal ini terutama terjadi ketika kita melakukan cue-bidding di level tinggi kemudian ketika partner sign off masih diteruskan lagi dan kemudian kembali sign off di level 5. Disini kedua pihak menjadi tahu bahwa ada problem dalam kombinasi trump seperti yang diuraikan diatas. Angka 10 dan 9 menjadi sangat penting.
Sejalan dengan konsep cue-bidding diatas dimana 4NT sebagai Blackwood sudah terlewati maka bid 5NT berikutnya bukan Grand Slam Force tapi adalah tanya Ace atau pengganti Blackwood.
Salah satu contoh :
S K2 S A975
H AQ8753 H K6
D 104 D K54
C A62 C KQJ2

1H 1S
2H 2NT
3NT 4C
4S 4NT
5S 6NT

2H pegang 6+ kartu H, 2NT artificial forcing, 3NT tidak ada 3 kartu S dan tidak ada pendek. 4C cuebid fit H. Disini menjadi penting buat pemain untuk menentukan apakah pegangannya itu bagus untuk ikut cue bid apalagi ini sudah harus melewati kontrak 4H. Judgment berdasarkan hand evaluation tadi menjadi penentu. S Kx di warna partner serta HQ dan dua Ace atau total 5 kontrol menjadi factor plus yang membuat opener ikut cue bid 4S. Responder tanya Ace dan mendapat jawaban dua Ace plus HQ kembali memperlihatkan judgment yang baik dengan bid 6NT untuk melindungi DK karena ia sudah menghitung ada 12 trik, yaitu 6 trik H + 4 trik club dan SAK. (Penulis adalah pemain dan kolumnis bridge di berbagai media)

TINGGALKAN KOMENTAR