Oleh: Suharto Olii

Pada Minggu, (4/2) lalu tim tenis Indonesia harus mengakui keunggulan Filipina di ajang Piala Davis 2018 Grup II Zona Asia-Oseania dengan skor 1-4 di Lapangan Tenis Terbuka Gelora Bung Karno (GBK) Senayan Jakarta.

Pada laga yang berlangsung dua hari itu, tim Piala Davis Indonesia yang berintikan para pemain muda ini tampak masih kalah pengalaman, karena minimnya jam terbang.

Pengurus Pusat Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PP.Pelti) dengan nakhoda baru Rildo Anwar sejak awal memang akan fokus pada pembinaan petenis muda. Pemain senior Christopher Rungkat yang selama ini selalu menjadi tulang punggung Indonesia di ajang Piala Davis tak dimainkan.

Kebijakan PP.Pelti dengan lebih fokus pada pembinaan petenis muda harus kita apresiasi. Induk organisasi tenis tertinggi di tanah air itu punya langkah lebih strategis ke depan. Dengan fokus pada pembinaan petenis usia muda, selain mempercepat proses regenerasi juga kematangan para pemain itu sendiri.

Kekalahan 1-4 dari tim Filipina lebih banyak dikarenakan jam terbang para petenis muda kita ini sangat minim. Boleh jadi mereka sering nervous saat bertanding apalagi dalam posisi tertekan.

Lihat saja penampilan  Althaf Dhaifullah yang turun di partai pertama. Petenis berusia 17 itu, sesungguhnya punya kemampuan teknis permainan yang tak perlu kalah dibanding lawannya, Alberto Lim.

Namun karena minimnya jam terbang membuat dia tak mampu mengimbangi permainan  sehingga harus mengakui keunggulan andalan Filipina, Alberto Lim, dengan skor 3-6, 2-6.

David Agung yang turun di partai kedua memang mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 setelah menundukkan  Jeson Patrombon dengan skor 6-2, 7-5. Pada hari pertama kedua tim berbagi angka sama 1-1.

Pada hari kedua, yang memainkan tiga partai dengan komposisi 2 tunggal dan 1 ganda, partai ganda sesungguhnya menjadi kunci. Pasangan David Agung/Justin Barki yang main di partai ketiga ternyata tak mampu memberikan angka kemenangan bagi tim Indonesia.

Pasangan David Agung/Justin Barki meski sempat memberikan perlawanan ketat dipaksa menyerah atas pasangan Filipina, Francis Casey Alcantara/Zosimo Mendoza.

Kekalahan di nomor ganda itu praktis membuat David Agung yang kembali bermain di tunggal untuk partai keempat secara mental semakin tertekan. Karena dalam posisi ketinggalan 1-2, beban yang dipikul David cukup berat.

Fakta di lapangan pun demikian, David menyerah 3-6, 4-6 atas petenis Filipina Alberto Lim dan Indonesia dipastikan kalah 1-3. Dalam laga yang sudah tak menentukan lagi, Antohny Susanto juga tak berdaya menghadapi John Bryan Decasa Otico. Adik kandung David Agung itu menyerah 3-6, 3-6 atas John. Indonesia pun secara keseluruhan kalah 1-4 dari Filipina.

Kemenangan ini mengantarkan Filipina ke babak kedua Grup II zona Asia-Oseania. Sementara tim Indonesia akan melakoni laga krusial menghadapi Srilanka dan dituntut harus menang jika ingin  bertahan di zona Grup II. zona Asia-Oceania. Sebaliknya jika kalah, David dkk harus bertarung ke kasta lebih rendah, Grup III.

Meski dikalahkan Filipina 1-4, Ketua Umum PP.Pelti Rildo Anwar tak memperlihatkan ekspresi kekecewaannya. Ia bahkan memuji penampilan para pemain yang telah memperlihatkan semangat juang tinggi di lapangan.

Memang dalam laga melawan Filipina itu, para pemain kita kalah jam terbang. Dibanding para pemain Filipina yang rata-rata sudah melanglang buana ikut turnamen di luar negeri. Bahkan ada yang study di AS.

Untuk menambah jam terbang pemain muda, tak ada jalan lain yang harus dilakukan PP.Pelti kecuali memperbanyak turnamen berkualitas di dalam negeri dan memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya  kepada para pemain ikut turnamen di luar negeri.

Memang semua itu butuh dana yang tak sedikit apalagi untuk mengirim pemain keliling ikut turnamen di luar. PP.Pelti pun tak mungkin menanggung beban itu sendirian.  Harus ada dukungan pemerintah dan juga pihak swasta seperti yang terjadi pada era 1980-an hingga 1990-an.

Kolaborasi antara pemerintah dan swasta diyakni akan mampu mengatasi persoalan pendanaan yang selama ini selalu menghantui PP.Pelti. Jika dukungan pemerintah dan swasta dapat terwujud niscaya tenis Indonesia kembali bangkit dan mampu bersaing di tingkat dunia. (***)

 

pemeri

TINGGALKAN KOMENTAR