JAKARTA-(TribunOlahraga.com)

Pada era 1970-an hingga 1980-an, nama Empy Wuisan menghiasi masa jaya tenis meja Indonesia. Empy bukan hanya sukses mencatat sukses di ajang selevel SEA Games, di tingkat Asia pun prestasinya cukup disegani.

Empy Wuisan yang lahir di Jakarta, 24 Juli 1950 itu mengukir prestasi terbaiknya di kawasan Asia. Asian Games misalnya Empy bersama pasangannya Sinyo Supit merebut medali perak nomor ganda putra pada tahun 1978 di Bangkok.Prestadi duet Empy/Sinyo itu sampai kini suklit disamai pemain Indonesia lainnya.Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, api, malam dan luar ruanganEmpy Wuisan dengan Api Obor Asian Games 2018. (Foto/ist)

Maka wajarlah jika panitia penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) memilih nama Empy Wuisan sebagai pembawa api obor saat dikirab keliling Jakarta. Empy Wuisan yang kemudian memperisteri mantan ratu tenis meja Indonesia, Diana Wuisan itu mendapat bagian ketika prosesi kirab api obor Asian Games 2018 itu memasuki wilayah Jakarta Utara.

Sudah pasti ada perasaan bangga menyelimuti hati seorang Empy Wuisan. Paling tidak sederat prestasinya di level Asia masih dihargai dan masyarakat pun tahu bahwa tenis meja Indonesia pernah mengukir prestasi membanggakan di tingkat internasional khususnya kawasan Asia.

Selain itu Empy akan lebih bangga lagi menjadi bagian dari sukses Asian Games 2018 Jakarta-Palembang ini. Kehadiran Empy Wuisan sebagai pembawa api obor Asian Games 2018 ini juga diharapkan mampu memotivasi para petenis meja Indonesia yang berlaga di pesta olahraga antar bangsa se-Asia yang ke-18 kalinya ini.

Untuk level SEA Games saja, tenis meja Indonesia pada kurun waktu 1970-an hingga awla 1990-an selalu menjadi momok menakutkan bagi lawan. Pada SEA Games 1993 di Singapura, tenis meja Indonesia sapu bersih 7 medali emas.

Namun kini prestasi tenis meja Indonesia sedang terjun bebas. Jangankan bicara di level Asia, untuk bersaing di tingkat SEA Games saja sudah sangat sulit. Kondisi itu semakin diperparah dengan konflik organisasi PTMSI yang sejak 5 tahun silam terbelah dua.

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.(Suharto Olii)

TINGGALKAN KOMENTAR