Toni Hoesodo (Foto/Jordin Bagas)

JAKARTA-(TribunOlahraga.com)

KONI Pusat selalu mendorong peningkatan standar kualitas kepelatihan di setiap cabang olahraga (cabor) terutama yang olimpiade. Hal itu dilakukan agar pelatih mampu menelorkan atler berprestasi dengan kualitas tinggi.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI Toni Hoesodo mengatakan hal itu kepada wartawan usai menutup Pelatihan Bimbingan Teknis di Hotel Boutique, Melawai, Jakarta, Selasa, (2/10).

Pelatihan Bimbingan Teknis yang diikti para induk organisasi cabang olahraga itu juga dikaitkan dengan evaluasi hasil Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.

Toni Hoesodo (Foto/JORDIN Bagas)

Menurut Toni, pelatih adalah salah satu instrument penting dalam upaya meningkatkan prestasi atet. Oleh karenanya, induk organisasi cabor (PP/PP) harus mampu melahirkan pelatih berkualitas. Jadi tak hanya membina atlet juga pelatih.

”Atlet dan pelatih, dua sosok yang tak bisa dipisahkan. atlet yang baik pasti lahir dari pelatih yang baik pula. Dan pelatih-pelatih kita juga harus mampu mengikuti perkembangan jaman yang semakin canggih,”kata pensiunan Jenderal Bintang Dua ini.

Menanggapi adanya perbedaan gaji antara pelatih asing dan dalam negeri, Toni tak memungkiri hal tersebut. Dia menyebut, pelatih asing memang tak mungkin gajinya sama dengan pelatih lokal karena kebutuhannya jelas berbeda.

Namun demikian lanjut Toni, pelatih asing yang didatangkan juga kualitasnya jangan sampai di bawah pelatih dalam neger. Idealnya, pelatih asing itu mentrasfer ilmu kepelatihannnya kepada para pelatih dalam negeri sehingga begitu mereka pulang ke negaranya, ilmu yang ditularkan bisa diterapkan dalam pembinaan secara nasional.

”Saya mengambil contoh di cabang olahraga tenis, yang sudah lama menggunakan metode seperti ini, Pelti mendatangkan pelatih asing yang tugasnya tak hanya memberikan pelatihan kepada atelt juga para pelatih. Dengan perkembangan ilmu teknologi yang semakin tinggi, tentu metedologi seperti itu mutlak dilakukan,”papar Toni.

Sukses besar yang dicapai kontingen Indonesia di Asian Games 2018 lalu, menurut Toni, tak lepas dari proses pembinaan yang selama ini dilakukan oleh cabang olahraga. KONI sebagai pengawas pendampin (Wasping) selalu memonitor perkembangan atlet yang dibina oleh cabor bersangkutan.

”Alhamdulillah, hasilnya kan luar biasa, 31 medali emas dan kontingen Indonesia menembus posisi empat besar. Suatu lonjakan prestasi yang tak diduga sebelumnya. KONI sejak awal hanya memprediksi antara 16-20 medali emas,”demikian Toni Hoesodo. TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR