GARUT-(TribunOlahraga.com)

Pekan Olahraga Daerah XIII Jawa Barat 2018 yang digelar di Gedung Gymnasium IPB Bogor Dramaga dari tgl 7-14 Oktober 2018 meninggalkan cerita keluh kesah mengenai peraturan yang tiba tiba disepakati dan di jalankan di detik detik terakhir.Gambar mungkin berisi: 8 orang, orang tersenyum, orang berdiri

Nurseno SP Utomo selaku Ketua PTMSI Kabupaten Garut dan sebagai Manager TIM Garut menyatakan keberatannya akan regulasi peraturan yang di tetapkan menjelang di selenggarakannya PORDA XIII Jabar.

” Ketika Rakerda di Bandung di sepakati pemain usia 27 kebawah plus 1, hingga kami menargetkan sebagai juara umum. Akan tetapi dengan turunnya Pemain Nasional yang berusia 28 tahun hingga membuat strategi yang telah kami rancang jadi bergeser. Dengan dikeluarkannya Technical Handbook yang di keluarkan oleh KONi semua kategori boleh diikuti oleh usia 28″ ujar Nurseno.Gambar mungkin berisi: 1 orang, tersenyum, berdiri

Nurseno mempertanyakan kenapa KONI bisa mengeluarkan peraturan lain yang sebenarnya telah kami sepakati sebelumnya di Bandung terutama. mengenai peraturan usia yang telah ditetapkan.

Padahal berdasarkan itu pihaknya memprediksi dengan pembinaan yang konsisten dan terarah berani mematok target menjadi Juara Umum. Tapi dengan hadirnya pemain nasional membuat prediksi tersebut meleset dengan technical handbook yang dikeluarkan oleh KONI secara mendadak ketika mendekati hari pertandingan.

” Awalnya kota Bogor melakukan protes akan Technical handbook tersebut, tetapi entah kenapa protes tersebut hilang redup. Di sini saya ingin menyatakan protes agar KONI dan pengprov mempunyai ketegasan, jangan mengorbankan atlet atlet daerah dan mimpi mimpi putra putri daerah dengan di hadirkannya pemain Nasional dan Internasional di ajang tingkat daerah. Bagaimana kita bisa mendapatkan bibit bibit unggul daerah, dan yang lebih utama jangan merubah peraturan yang telah di sepakati sebelumnya secara mendadak dan mengorbankan banyak pihak” tegas Nurseno.Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang tersenyum, orang berdiri dan luar ruangan

Semestinya, lanjut dia, regulasi peraturan harus jelas, agar kita terhormat dan mendapatkan kehormatan. Nurseno ingin menyampaikan hal ini kepada KONI Jabar pengprov kenapa hal ini bisa terjadi sehingga yang jadi korban adalah atlet.Nurseno sendiri masih menunggu jawaban dan klarifikasi atas kejadian ini

Di PORDA XIII Jabar ini, tim tenis meja Garut diperkuat  atlet atlet potensial seperti Fahmi, Hendi, Andre, Gibran, Ida, Rosy, Eva dan Nisa dengan pelatih Tantan.

Meski telah mendapatkan emas dan perunggu Nurseno masih tetap menunggu jawaban dari KONI Jabar dan pengprov. Bahkan Nurseno mengancam akan menahan atlet atletnya berlaga untuk sementara di tingkat daerah maupun tingkat nasional.Gambar mungkin berisi: 2 orang, termasuk Ato Suprapto, orang tersenyum, orang duduk

”Bukan atletnya yang kami permasalahan akan tetapi regulasi dan peraturan yang mengakibatkan mereka dapat bermain. Sehingga berimbas terhadap semua lini yang telah kami persiapkan dari jauh jauh hari.”paparnya.

Nurseno menyebut dengan pembinaan yang konsisten dan terarah selama enam bulan berbiaya sendiri wajar bila pihaknya menargetkan Juara Umum. Namun upaya itu kandas karena tidak konsistennya regulasi dijalankan. TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR