Dato Tahir lempar handuk (Foto/OLII)

JAKARTA:(TribunOlahraga.com)

Pengusaha top Dato’ Sri Tahir dikabarkan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI). Kabar ini membuat pelaksanaan Kejurnas PB PTMSI di Bywalk, Jakarta, 7 – 17 November, menjadi tidak jelas.

“Kabar mundurnya Pak Tahir membayangi Kejurnas di Jakarta itu yang dilaksanakan bersamaan dengan Kejuaraan SEATTA di Bali, 15 – 18November yang digelar Pengurus Pusat PTMSI pimpinan Ketua Umum Pak Oegroseno. Saya dengar Pak Tahir membuat surat pengunduran diri Senin sore. Surat itu katanya akan segera dikirim ke KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Pusat,” ujar Iwan, pecinta dan pelaku tenis meja yang menjadi pengurus salah satu klub di Jakarta.

Agar segala permasalahan menjadi terang, Iwan yang mengaku sedih dengan tidak kunjung usainya perpecahan yang menimpa mantan olahraga andalan Indonesia ini, meminta agar KONI Pusat membuka soal pengunduran diri Tahir itu. Namun dia menilai, langkah yang diambil oleh Tahir mencerminkan sikap bijak dari seorang pemimpin dan tokoh nasional.

“Itu menunjukkan Pak Tahir taat hukum karena kepengurusannya sudah dinyatakan tidak sah oleh Baori (Badan Arbitrase Olahraga Indonesia) karena Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang digelar KONI Pusat yang memilih Pak Tahir dinilai cacad hukum. Kemudian sikap Pak Tahir menunjukkan taat pada hukum negara dimana Mahkamah Agung dan Pengadilan Tata Usaha Negara menyatakan kepengurusan pimpinan Pak Oegrosenpo sah,” ujarnya.

Dia juga menilai, Tahir tidak tahan dengan kondisi pembantunya yang arogan dengan terus memaksakan kehendak melawan keputusan Baori, MA dan PTUN itu. Disebutkan, Tahir dulu mau maju karena dijadikan sebagai wayang saja dengan janji akan dipilih secara aklamasi. Namun nyatanya ada penolakan di Munaslub meskipun ada penekanan dan pemaksaan.

“ Jadi mundurnya Pak Tahir juga menunjukkan bahwa PP PTMSI di bawah pimpinan Pak Oegroseno lebih solid. Buktinya PP PTMSI yang dipercara pemerintah melaksanakan pertandingan Asian Games 2018 dan kini mendapat kepercayaan federasi internasional untuk menggelar kejuaraan Tenis Meja Asia Tenggara (SEATTA) di Bali. Tenis meja Indonesia membutuhkan orang yang komit untuk memajukan prestasi tenis meja,” ucap Iwan.

Melihat perkembangan ini maka Iwan meminta agar Kementrian Pemuda Dan Olahraga (Kemenpora) yang dipimpin Menpora Imam Nahrawi segera mengambil tindakan untuk mengakhir dualisme kepengurusan PTMSI. Menpora tidak perlu ragu lagi untuk mengakui yang sah menurut hukum. Jika tidak ada ketegasan dari Menpora maka tenis meja Indonesia akan semakin terpuruk.TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR