PADANG-(TribunOlahraga.com)

Miranda S Goeltom kembali terpilih memimpin Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB Gabsi) dalam Kongres Gabsi Ke-25 di Hotel Pangeran Beach, Padang, Jumat (7/12/2018). Dia mencatat sejarah sebagai wanita pertama yang memimpin Gabsi dalam dua periode berbeda.

Miranda sebelumnya pernah memimpin Gabsi masa bakti 2002 – 2006. Kini mantan Deputi Bank Indonesia itu akan menjalani tugasnya untuk periode 2018 – 2024. Dia menggantikan ketua umum sebelumnya Eka Wahyu Kasih yang kini terbelit kasus hukum.Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang berdiri dan pakaian

Berdasarkan kesepakatan dalam kongres, Miranda diberikan waktu sebulan sampai tanggal 7 Januari 2019 untuk menyusun susunan pengurus lengkap. Namun pada Upacara Pentupan Kejurnas Bridge di Padang, Sabtu (15/12/2018) nanti minimal sudah ada 5 Pengurus Inti, yaitu Ketum, Waketum, Ketua Harian, Sekjen dan Bendahara.

Dalam Kongres yang dihadiri 23 Pengurus Propinsi dan 37 Pengurus Kabupaten/Kota, Miranda terpilih secara aklamasi. Ini karena calon lainnya, Beni J Ibradi tidak bisa hadir di Kongres karena tengah menunggui istrinya yang sedang sakit. “ Ya, Beni Ibradi tidak bisa menghadiri Kongres Gabsi karena menunggui isterinya yang sedang sakit,” kata wakil dari DKI Amin Ramali.

Sesuai AD/ART, calon harus hadir di Kongres untuk membacakan visi dan misi seandainya terpilih. Miranda kemudian diberikan kesempatan menyampaikan visi dan misi serta keterpanggilannya untuk ada di Gabsi ditengah kesibukannya yang padat.

Miranda yang mengklaim keberhasilannya saat memimpin PB Gabsi mengaku tertantang untuk mengembalikan kejayaan olahraga bridge Indonesia. Atas dasar itulah dia mencalonkan diri untuk kembali memimpin PB Gabsi. Bahkan, dia berjanji akan menenuskan program bridge go to school dengan tujuan mencetak atlet muda berkualitas yang bisa menggantikan atlet senior.

“Saat saya memimpin PB Gabsi program bridge go to school itu berjalan dengan baik. Program ini kan harus diteruskan sehingga bisa mencetak atlet bridge berkualitas untuk menggantikan atlet bridge senior. Ke depan, saya ingin atlet bridge Indonesia yang memperkuat tim nasional sudah tidak lagi berusia di atas 50 tahun seperti yang terjadi sebelumnya,” katanya.

Selain program bridge go to school, Miranda menyebut program menggelar turnamen dan liga bridge profesional serta turnamn bridge antar wartawan. “Saya ingin ada turnamen bridge antar wartawan sehingga tercipta hubungan yang baik PB Gabsi dengan wartawan. Kalau wartawan bisa bermain bridge kan mereka bisa menulisnya dengan baik serta bisa mensosialisasikan program untuk peningkatan prestasi atlet bridge Indonesia,” ujarnya. TOR-10

TINGGALKAN KOMENTAR