Langkah “Ragu” Kabau Sirah Menuju Pentas Liga 1

Langkah “Ragu” Kabau Sirah Menuju Pentas Liga 1

247
0
  • Oleh: Rizal Rajo Alam
    Gambar mungkin berisi: Yos Rizal, tersenyum, lensa kaca mata dan dekat
    Ragu bukan berarti tak berani. Tetapi masih diliputi rasa khawatir. Ragu, bisa belum memutuskan untuk jadi berani, karena masih harus menganalisa sebab akibatnya. Bisa juga ragu bermakna belum siap untuk bersikap.

    Kata ragu bisa diawali kata lain atau susulan kata yang sejalan untuk mempertegas keraguan itu. Tak ragu untuk bertindak, misalnya. Atau ragu melangkahkan kaki menuju sesuatu. Dan akan mengubah arti dan makna yang tersirat dalam dua kata tersebut.

    Seperti judul di atas yang diawali dengan dua kata; langkah ragu. Lalu diikuti kata-kata lain yang saling mengikat dan memberi makna. Intinya adalah sebuah kekhawatiran tim Semen Padang FC untuk menuju kompetisi Liga 1 musim 2019 mendatang.
    Bukan datang dari manajemen, pelatih atau pemain klub bergelar Kabau SIrah itu. Tetapi adalah analisa dari sudut pandang seseorang yang mengamati persiapan klub milik BUMN itu.
    Pandangan itu bisa sama, atau mirip dengan pandangan orang lain. Bahkan ada yang sama sekali berbeda. Karena pada hakekatnya, pendapat dan sudut pandang seseorang tak selalu sama. Inilah anugerah untuk memperkaya khasanah yang lalu tertuju kepada sebuah arah yang mendekati kebenaran. Atau bahkan sebuah kebenaran.
    Kenapa?
    Dalam dunia sepakbola, adalah kumpulan para pelaku dan penikmat, pengamat serta pendukung. Meski sama-sama beranjak dari sebuah “kegilaan” terhadap olahraga yang paling populer di jagad dunia itu, namun sudut pandang menjadi hal khusus sebagai warna-warni pentas sepakbola.
    Memang, kadang terkesan egois, karena merasa paling hebat dan paling benar. Meski sebenarnya, sehebat apapu seorang pengamat, pasti ia tak lebih mengetahui apa yang ada dalam tim tersebut. Karena yang paling gampang di lihat adalah sebuah pertandingan. Lalu menganalisa pertandingan tersebut. Tak lebih.
    Tetapi tentang siapa pemain yang masuk starting line-up, siapa pemain cadangan, siapa pemain yang turun sebagai pengganti, kapan si pemain diganti, hanya bisa dilhat dengan kasat mata. Karena banyak alasan untuk mengambil sebuah keputusan sebelum dan saat pertandingan berjalan. Dan yang tahu itu adalah pelatih. Karena ini soal teknik, taktik dan juga menyikapi kondisi yang ada dalam tim.
    Kalau apa yang ditulis berbeda dengan  pendapat dan analisa pembaca, juga sebuah kewajaran. Apalagi berbeda pandang dengan manajemen, pelatih dan para pemain itu sendiri.
    Lalu apa yang disebut dengan langkah ragu?
    Dua iven penting sudah dilewati Semen Padang, setelah memastikan tiket promosi ke Liga 1. Turnamen Piala Indonesia dan Piala Presiden. Keduanya berakhir sebelum sampai ke puncak iven. Piala Indonesia terhenti pada langkah ketiga. Piala Presiden kandas di babak penyisihan grup.
    Hasil ini di luar ekspektasi penikmat sepakbola di Sumatera Barat. Pasti, juga di luar harapan manajemen, pelatih dan pemain. Tetapi inilah kenyataan yang terjadi. Terseok di awal-awal turnamen, lalu tumbang sebelum sampai ke sasaran akhir.
    Bahkan, ketika kalah dua kali berturut-turut pada pentas Piala Presiden, memunculkan reaksi kurang sedap buat pelatih Syafrianto Rusli. Pelatih yang “menyampaikan”  Semen Padang degradasi musim kompetisi 2017, lalu mengangkat kembali setahun kemudian.
    Usai pertandingan melawan Bali United, sejumlah suporter yang tergabung dalam kelompok suporter Spartacks, menyerbu ruang jumpa pres Stadion Chandra Bakhti Bekasi. Mereka bertertiak meminta mantan pelatih Futsal PON Sumbar 2012 itu turun.
    Mungkin ini adalah bagian dari warna sepakbola itu sendiri. Tetapi sekaligus menjadi catatan khusus bagi pelatih dan juga manajemen. Terlepas dari pandangan mereka kalau ukuran seorang pelatih itu adalah memenangkan setiap pertandingan.
    Syafrianto yang menjadi titik ketidak-puasan, juga paham dan menyadari hal itu. Ia juga punya alasan kenapa pasukannya belum mampu menggapai asa sesuai keinginan para pendukung Semen Padang.
    Lagi, apapun alasan pelatih yang sebentar lagi mengantongi lisensi pelatih tertinggi di Asia, AFC Pro, tetap akan disikapi berbeda. Ada yang paham dan ada yang tetap merasa paling benar.
    Kalau menganalisa jawaban Syafrianto dalam beberapa kali dialog denganya, memang ada kesan kalau tim ini masih dalam keraguan menatap kompetisi Liga 1. Bukan ragu untuk ikut kompetisi, tetapi ragu dengan kekuatan yang ada saat ini untuk bisa bersaing di pentas kompetisi paling tinggi di Tanah Aiar.
    Alasan pokoknya tentu teknis. Lebih fokus lagi kepada materi pemain yang dimiliki saat ini.
    Pasca Liga 2, manajemen Kabau Sirah melepas sejumlah pemain. Lalu bergerak untuk merekrut pemain baru yang dinilai pantas untuk berkompetisi di kasta elit sepakbola Indonesia.
    Dari hasil rekrutan itu lalu di uji dalam dua turnamen, Piala Indonesia yang sudah dilakoni sejak dari Liga 2, serta Piala Presiden yang khusus untuk iven pramusim Liga 1. Hasilnya?
    Fakta terdekat tentu Turnamen Piala Presiden. Kandas di laga pembuka melawan Bhayangkara FC, lalu ditekuk Bali United. Meski menang meyakinkan di laga akhir penyisihan grup, tapi tak cukup lagi untuk bisa melengkah ke fase berikutnya.
    Dalam kasat mata, Semen Padang telah gagal. Gagal mencapai target yang tersiar ke publik. Gagal memenuhi harapan publik sepakbola Sumbar, baik yang di Ranah Minang maupun di perantauan.
    Ketidak-puasan muncul. Hal yang sama pasti juga dirasakan manajemen dan pelatih serta pemain. Lalu untuk menghibur diri, Piala Presiden bukan sasaran, tetapi target antara.  Turnamen ketiga yang digagas pasca kisruh PSSI itu, adalah ajang uji coba pemain, team work dan menambah jam terbang tim sebelum terjun ke kompetisi.
    Usai kegagalan Piala Presiden, Syafrianto mengakui bahwa timnya belum maksimal. Banyak hal yang harus dibenahi. Tak hanya soal taktik dai strategi di lapangan. Tetapi juga materi pemain yang belum memuaskan, terutama sial kualitas.
    Padahal dari sisi kwanitas, sudah lebih dari cukup. Paling tidak ada 27 pemain yang sudah terdaftar dan dibawa ke turnamen tersebut. Namun jumlah yang cukup belum bisa mencukupi harapan publik. Sementara publik sepakbola tak semuanya cakap melihat kecukupan itu. Sehingga munculkan reaksi ketidak-puasan yang meminta Syafrianto mundur jadi pelatih kepala.
    Syafrianto menjelaskan kalau jumlah yang ada belum cukup untuk mengharungi kompetisi mendatang. Inilah salah satu bentuk “keraguan” itu dalam menyonsong kompetisi.
    Artinya, sebagai pelatih ia masih berharap ada perubahan dalam kuantitas materi pemain. Untuk mengubah itu perlu rekrutmen baru. Termasuk pemain asing yang belum memperlihatkan kelebihannya sebagai pemain yang dibayar mahal.
    Sampai hari ini, menurut Syafrianto ia belum punya striker yang siap bertarung dan bersaing dengan striker tim lainnya. Baik asing maupun lokal.Tak hanya di lini depan, di lini pertahanan ia masih merasa was-was dengan materi yang ada.
    Baik asing maupun pemain lokal lama dan baru. Setelah Hengky Ardiles tak lagi masuk skuat Kabau Sirah, belum ada sosok yang bisa menggantikan perannya sebagai bek modern yang bisa berperan sebagai pemain bertahan dan pemain sayap sekaligus.
    Begitu juga di posisi centre bek. Meski Agung Prasetyo dan Novrianto sudah kembali dari cideranya, tetapi kepiawaian keduanya tak lantas ikut kembali. Traumatik cideranya mengubah karakter permainan mereka.
    Alasan itulah yang menyiratkan kalau ia sebagai pelatih kepala masih ragu dengan kemampuan timnya. Ia butuh tambahan atau mengganti  sejumlah pemain yang ada dengan pemain baru yang lebih menjanjikan kualitas persaingan.
    Satu pemain asing asal Republik Chad, Dany Karl Max, 32 tahun yang tengah menjalani trial bersama Semen Padang, juga belum membuat Syafrianto kepincut. Dikatakan, ia masih butuh waktu untuk melihat kemampuan yang sebenarnya dari mantan pemain Timnas negara Afrika Tengah itu.
    Nah, keraguan Syafrianto yang otomatis juga keraguan tim Semen Padang baru akan berkurang dengan menambah pemain baru. Pemain baru dengan kualitas lebih dari yang ada dan paling tidak setara dengan materi tim lainnya.
    Selama itu belum terwujud, maka keraguan itu akan terus ada. Setelah ada apakah keraguan itu akan terjawab?
    Kita tunggu saja, (Penulis adalah wartawan TribunOlahraga.com Biro Sumbar, tinggal di Padang)


Pengaturan

TINGGALKAN KOMENTAR