Oleh: Rizal Rajo Alam

Gambar mungkin berisi: Yos Rizal, tersenyum, lensa kaca mata dan dekat
ORGANISASI Sepakbola Indonesia dalam dilema. Pasca pengunduran diri Ketua Umum Edy Rahmayadi,  20 Januari 2019 lalu dalam Kongres PSSI di Bali, kondisi  federasi sepakbola itu makin tak menentu. Menyusul masalah yang dialami Ketua Umum Joko Driono, yang tersandung kasus pengaturan skor.

Mungkin “bola liar” akan terus menggelinding. Tak berhenti pada Ketua Umum asal Ngawi, Jawa Tengah itu. Bisa menyerat semua petinggi di jajaran kepengurusan sepakbola Tanah Air tersebut.Hasil gambar untuk foto gusti randaGusti Randa, penunjukkannya sebagai Plt Ketum PSSI menuai protes (Foto/ist)

“Pasukan” Anti Mafia Sepakbola yang dikomandoi Kapolri, akan terus meransek maju untuk membersihkan semua lini yang duga terlibat. Bahkan, bukan tidak mungkin kasus ini juga bisa menyeberang ke berbagai provinsi, sebagai imbas kasus yang terus menggerus.

Karena pengaturan skor tentu tak cukup “dimainkan” oleh kalangan petinggi PSSI dan klub. Tetapi juga diperakan oleh para pengadil di lapangan; wasit. Yang menjadi “juragan” korp yang dulu dikenal dengan baju hitamnya itu, bisa terseret arus kasus.

Kondisi compang-camping di lapangan sepakbola memang bukan hal baru. Tak sebatas lapangan pertandingan yang digelar PSSI Pusat, seperti Liga 1, Liga 2 dan  Liga 3. Juga kerap memunculkan protes dan amarah pada laga-laga lokal, seperti Porprov atau turnamen yang nota benenya dilaksanakan oleh PSSI setempat.

Artinya konsentrasi Tim  Anti Mafia Pengaturan Skor, tak hanya pada kasus yang sudah terjadi di pentas Liga, bisa jadi akan terus merambah yang ada di daerah. Terutama yang terkait dengan penugasan wasit, serta hal-hal lain yang membuat wasit tak berkutik.

Semua elemen masyarakat bisa melaporkan kalau melihat, mencurigai atau merasa dirugikan dengan akal-akalan oknum yang selama ini keenakan bermain di luar lapangan. Menikmati keuntungan di atas dosa dan tanggungjawan anak buah di lapangan.

Beranjak dari deret kasus yang kini mendera PSSI, organisasi olahraga paling populer itu juga tengah dalam dilema internal. Penunjukan Gusti Randa sebagai pelaksana tugas Ketua Umum, konon juga tak melalui kesepakatan Komite Eksekutif (Exco) lainnya.

Gusti berdalih itu adalah ekstasi dari Ketua Umum, yang hanya bertugas menjalankan roda organisasi dan bukan menggantikan posisi Ketua Umum, yang kini tengah dalam masalah.
Ada dua tugas pokok, yang menurut pengacara dan mantan artis film itu, yang menjadi beban beratnya ke depan, setelah menerima surat “kuasa” dari Ketua Umum.

Pertama, melaksanakan program kerja yang sudah berjalan dengan sebaik-baiknya. Kedua, melaksanakan Kongres Luar Biasa (KLB), guna memilih Ketua Umum baru.
Refrizal, salah seorang Exco PSSI, juga mempertegas kalau Gusti bukan ditunjuk menggantikan Joko Driono sebagai Ketua Umum. Tetapi hanya menerima surat tugas biasa dari Ketua Umum untuk menjalankan tugas di organisasi.

Hal ini juga diakui tak memerlukan rapat Exco. Karena kekuatan surat tugas itu sama dengan surat penugasan lainnya kepada Exco atau jajaran pengurus lainnya mewakili PSSI untuk sebuah kegiatan.

Dasar lain kenapa Joko menunjuk Gusti Randa, menurut Exco yang juga anggota DPR RI itu, adalah atas pertimbangan domisili. Karena Exco lainnya sebagian besar itu ada di luar Jakarta. Termasuk dirinya yang saat ini lebih banyak berada di luar Jakarta.

Kembali ke puasaran arus yang terjadi di tubuh organisasi sepakbola Indonesia itu, kini dari beberapa tugas pokok Gusti, hanya satu yang  bakal menarik perhatian publik sepakbola, yakni KLB.

Pertama tentu soal jadwal. Kalau kongres digelar sebelum Pemilu, dan mengacu kepada statuta PSSI, sudah tak mungkin lagi. Karena banyak proses yang harus dilakukan, termasuk penjadwalan admnistrasi kongres. Dan sangat mustahil kalau KLB bisa digelar sebelum 17 April.

Kalau Gusti mulai bergerak sekarang, maka paling tidak KLB bisa dilaksanakan pada Juni atau Juli mendatang. Artinya, kondisi negara jauh lebih kondusif (?), setelah terpilihnya presiden baru.

Kedua, dan yang paling menarik,  adalah siapa yang menggantikan posisi Edy Rahmayadi sebagai PSSI 1 untuk empat tahun ke depan.Siapa yang akan menduduki kursi RI-1 maka pengaruh itu diyakini akan memberi warna kepada figur yang akan dicalonkan oleh para voters kelak. Karena apapun alasan, olahraga Indonesia  apalagi sepakbola, tak bisa lepas dari  aroma politik praktis.

Kalau saat ini sudah muncul beberapa kandidat yang diapungkan para netizen di berbagai media sosial, belum akan memberi pengaruh kepada pemilik suara untuk mengarahkan pilihan kelak pada KLB. Karena kondisi saat ini akan jauh berbeda setelah Pilpres nanti.

Nama-nama seperti Erick Tohir, Krisna Murti, Cak Imin, Ahok, Ackhsanul Qosasi dan Gede Widiade, mungkin baru sebatas referensi umum. Kalau semua nama itu benar dan memang berkeinginan untuk maju sebagai Ketua Umum PSSI, mereka tak hanya butuh suara voters, tetapi juga butuh “kekuatan” lain dari luar PSSI.

Itulah yang sangat mungkin. Karena presiden terpilih, tentu juga punya keinginan sepakbola Indonesia ke depan jauh lebih baik. Organisasi sepakbola Indonesia jauh lebih bersih dan dihuni oleh orang-orang jujur dan pengabdi setia untuk kemajuan sepakbola.

Dan apakah lima nama yang mengapung hari ini akan siap dengan tantangan itu.  Sebaliknya, penguasa republik ke depan yang mungkin tidak siap “mengendong” figur seperti itu.

Karena, pasti ada kecenderungan untuk menarik PSSI ke pusaran lingkaran kekuasaan. Dalam arti positif, pemerintah ingin sepakbola lebih maju dan didukung oleh organisasi yang lebih baik.

Baik, juga belum tentu berkonotasi positif. Bisa juga baik asal dalam kekuasaan penguasa, tetapi tidak dalam konteks pengabdian yang real sesuai amanat insan sepakbola yang tidak tertera dalam statuta PSSI.

Rakyat Indonesia juga sudah lelah melihat tingkah polah para penguasa di sepakbola Tanah Air. Ada yang baik, tetap saja tidak baik bagi oknum-oknum yang merasa kalah bersaing dalam kongres, tetapi punya kekuatan untuk meluluh-lantakan legitimasi kongres.

Tak ada yang salah, kalau kelak PSSI ada dalam lingkaran kekuasaan yang nyata. Asal sepakbola Indonesia menunjukan peningkatan yang nyata memalui sebuah pengabdian yang tulus.

Bagi publik sepakbola, tak penting siapa ketua PSSI. Tak penting juga siapa yang menguasai PSSI. Yang penting seperti apa prestasi sepakbola negeri ini. Baik di tingkat Asean, Asia maupun di tingkat dunia.
Hanya itu…!(Penulis adalah wartawan Biro Sumbar tinggal di Kota Padang)

TINGGALKAN KOMENTAR