Tim Kecamatan Talawi, juara Piala Minangkabau 2019 (Foto/ist)

Oleh: Yosrizal

Gambar mungkin berisi: 1 orang, kacamata gelap, selfie dan dekat
PADANG-(Tribunolahraga).

PESTA Sepakbola Kolosal Ranah Minang bertajuk Piala Minangkabau (MNC) 2019, berakhir. Memunculkan juara baru dari Kota Sawahlunto, Kecamatan Talawi. Penyelenggaraan iven yang melibatkan lebih dari 5.000 pesepakbola anak nagari itu dinilai sukses.

Lalu apa dampak kesuksesan itu bagi kemajuan sepakbola Sumatera Barat?
Dua iven berlalu yang memunculkan wakil Kota Padang, Kecamatan Kototangah sebagai juara berturut-turut, baru sekedar eforia belaka. Rancanangan dampak program yang terdengar begitu indah, juga baru sekedar dalam angan. Belum dalam bentuk nyata.

Kini, lebih kurang sama, sambutan Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, komentar para pengamat sepakbola, harapan dari banyak warga Sumbar, juga lebih kurang sama; membawa sepakbola Sumbar lebih baik dan memunculkan potensi baru dari bumi Sumatera Barat.

Kalau turnamen yang ketiga ini lebih kepada sasaran Pra PON dan PON, tentu sesuatu yang mengundang harapan akan lahirnya pemain dan sebuah tim sepakbola yang akan membawa nama Sumbar di ajang empat tahunan itu.

Konon, tahun ini, sudah terjaring 80-an pemain muda di bawah U-22 yang siap dilibatkan dalam seleksi pemain Pra PON Sumatera Barat. Jumlah yang membuat manajemen tim Pra PON dan Asprov PSSI Sumbar leluasa untuk menentukan pilihan.

Artinya, asa untuk membuktikan kalau MNC adalah cikal bakal sukses Sumbar di ajang Pra PON Sepakbola yang akan digelar tahun ini. Satu tiket PON Papua 2020 sudah terbayang dari 10 tiket yang akan diperebutkan dari 12 slot tersedia. Dua jatah sudah menjadi milik juara bertahan dan tuan rumah.

Semua tokoh mengapresiasi kesukseskan turnamen yang awalnya bernama Piala Irman Gusman tersebut. Juga diiringi dengan harapan dan keyakinan akan muncul pemain lokal potensial yang siap tampil ke pentas nasional.

Bahkan, mantan pelatih Timnas Senior, Nilmaizar, juga memunculkan optimismenya terhadap MNC tahun ini. Apalagi ia juga menyentuh kalau sudah ada sejumlah pemain yang siap menjadi calon pemain Pra PON Sumbar.

Memang, tak boleh ada kata pesimis untuk membangun sebuah tim handal, berkualitas dan siap bersaing di pentas nasional. Karena tim yang kuat butuh pembuktian dan ujian. Pembuktian dan dan ujian baru bisa dilaksanakan apabila sudah disiapkan dengan matang. Karena ujian itulah yang bisa mengantarkan menjadi sebuah tim yang berkualitas dan siap bersaing.

Kini, bola ada di tangan Asprov PSSI  Sumatera Barat. Sumbangan besar telah diantar langsung oleh Panitia Penyelenggara MNC sejak lebih dari dua tahun lalu. Lalu mau diapakan sumbangan tersebut, semuanya tergantung kepada sentuhan dan olahan PSSI Sumbar.

Olahan yang sempurna akan menghasikan sajian berkualitas tinggi. Siapa yang akan menjadi “juru masak” dari tumpukan bahan “mentah” yang disumbangkan MNC kepada PSSI Sumbar, juga menjadi penentu kualitas “hidangan” kelak.

Pada PON lalu di Jawa Barat, sepakbola tanpa wakil Sumatera Barat. Karena gagal pada  Pra PON yang digelar di Bangka Belitung saat itu. Boleh jadi, karena berbagai alasan, kita belum mampu mengambil tiket Sumatera untuk ke Jabar.

Kini, tak ada lagi alasan yang bisa dijadikan “tempat jatuh” kalau tetap juga kandas di pra PON. Organisasi berjalan kondusif, dipimpin ketua yang juga orang bola dan berpengalaman mengurus sepakbola. Punya “pisau” yang bisa ditebaskan kepada siapa saja untuk mendukung persiapan. Sebarek Komite Eksekutif (Exco) yang nota benenya juga punya ambisi pengabdian di sepakbola.

Langkah kerja untuk memulai persiapan Pra PON juga sudah diayunkan panitia MNC dengan menyuplay sejumlah pemain yang siap dijadikan sebuah tim kuat  berkualitas dari putra terbauik Ranah Minang.

Lalu apalagi yang harus dilakukan Asprov PSSI Sumbar?
Masih banyak yang harus dilakukan. Tetapi tugas pokok Asprov saat ini adalah menyegerakan pembentukan Manajemen Tim Pra PON serta menunjuk “juru masak” yang punya inovasi dan pengalaman dalam menangani sebuah tim.

Kalau tugas ini dianggap mudah, ia akan menjadi mudah. Kalau dianggap rumit tentu ia akan menjadi rumit. Di sinilah peran Ketua Asprov untuk benar-benar jeli dan menggunakan signal berfrekuensi tinggi. Jauh dari  selama ini mengaku sangat berperan dan membantu ketua, belum tentu punya ketulusan untuk membangun tim sepakbola Sumatera Barat.

Sukses, akan membusungkan dada. Seakan dialah yang mengantar kesuksesan itu. Dan, jika bernasib buruk, buru-buru ia akan mencari kambing hitam untuk dijadikan tumbal. Tetapi sesungguhnya dari kesuksesan dan kegagalan itu ia sudah menikmati seuatu yang menjadi kepentingannya sejak awal.

Indra Datuk Rajo Lelo, Ketua Asprov PSSI Sumbar, pasti sudah paham dan sangat mengenal lingkungannya di jajaran kepengurusan federasi yang ia pimpian. Banyak wajah-wajah “manis” yang bisa membuat Indra terlena dan terpesona. Lalu akan berpura-pura

dengan label loyalitas semu.
Ketua Asprov mesti berani sedikit arogan dan otoriter dalam hal ini. Sebab apabila melibatkan banyak orang untuk ber-ia-ia dan meminta pertimbangan dan masukan, maka akan menjadi sia-sia. Sumbangan MNC yang setumpuk itu akan menjadi tak berdayaguna. Alias Mubazir.

Karena sebagai seorang ketua dan punya pengalaman sepakbola, Datuk Indra sudah tahu ke mana ia akan melangkah. Dan untuk apa ia melangkah. Sebab, reputasi dan kredibelitasnya dipertaruhkan, jangan sampai kembali “kehilangan tongkat” untuk kedua kalinya.

Yang paling pokok bagi Datuk adalah kepada siapa bahan baku sumbangan MNC dan hasil pantauan PSSI sendiri yang sudah ada diserahkan. Enaknya masakan akan ditentukan oleh juru masaknya. Juru masak yang hebat adalah juru masak yang tak pernah berhenti berlajar memasak dan punya pengalaman dengan berbagai resep masakan.

Setelah itu baru dukungan manajemen tim yang akan membantu gerak dan langkah tim ke depan. Karena membentuk sebuah tim hebat tak melulu dibutuhkan pemain dan pelatih hebat. Tetapi juga butuh penguatan identitas tim dalam bentuk keseimbangan teknis dan non teknis.

Teknis sudah menjadi tugas tanggungjawab pelatih bersama pasukannya. Sedang untuk mendukung teknis butuh dukungan gizi yang seimbang dan kenyamanan dalam menjalankan latihan dan bertanding. Yang non teknis inilah yang memerlukan orang-orang “gila” berstadium empat. Bukan orang-orang yang pura-pura “gila” tetapi sesungguhnya ia hanya akan membuat Datuk Indra menjadi gila benaran.

Karena lebih kurang 4 jutaan warga Sumbar, kembali menitip asa agar Sumbar mencatatkan namanya dalam daftar peserta PON 2020 dari cabang sepakbola. Asa itu tak akan pernah memudar, tetapi justru semakin menebal, apalagi dengan adanya kerjasama dengan MNC yang nota benenya sangat memahami kualitas individu pemain yang terpantau.

Kini, hanya support yang dibutuhkan  Ketua Asprov PSSI Sumbar untuk melangkah pasti, mewujdukan mimpi anak negeri. Kelak, sebagai bukti dalam pengabdiannya di organisasi PSSI. Semoga. (Penulis adalah wartawan TribunOlahraga.com Biro Sumbar tinggal di Padang)

TINGGALKAN KOMENTAR