JAKARTA-(TribunOlahraga.com)

Meski baru saja menjadi tuan rumah Asian Games 2018, Indonesia bisa saja mengambil alih atau menggantikan posisi Filipina untuk menggelar SEA Games 2019 jika ada instruksi dari pemerintah.

Hal itu disampaikan Ketua KOI Erick Thohir usai menghadiri Pembukaan Pameran Seni Lukis, Mural, Instalasi dan Poster bertajuk Karya Adalah Doa Untuk Nusantara”Senyawa Karya, Sewujud Doa di The Hall Senayan City Jakarta, Jumat, (29/3).

Erick Thohir hadir dalam Pameran tersebut dalam kapasitasnya sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Pasangan Calon (Paslon) Presiden Nomor Urut 01.

Sebelumnya terbetik khabar Filipina keberaran menggelar SEA Games 2019 karena anggaran yang diajukan PHISGOC dipotong 30 persen oleh pemerintahnya meski khabar tersebut dibantah langsung oleh pihak Kedubes Filipina di Jakarta.

Menurut Erick, memang Indonesia tak boleh secara langsung mengambil alih posisi tuan rumah SEA Games 2019 dari Filipina tanpa harus melalui prosedur. Erick kemudian mencontohkan ketika Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah Asian Games 2018 setelah Vietnam mundur.

”KOI dalam hal ini hanya menjadi koordinasi lintas NOC sesama negara anggota SEA Games. Sementara keputusan akhir ada di tangan pemerintah,”kata Erick.

Terkait keinginan Indonesia mencalonkan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 2032, Erick Thohir mengatakan, hingga saat ini keinginan itu belum redup. Namun demikian, keingginan itu harus didorong secara terus menerus dan semangatnya adalah sukses menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

Tekad dan keinginan Indonesia mencalonkan diri menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 itu disampaikan langsung oleh Presiden Jokowi sementara pada saat Olimpiade 2032  tersebut berlangsung, Presiden Indonesia bukan Jokowi lagi.

Oleh karenya menurut dia, harus ada kebijakan politik dari semua elemen pemerintahan. Saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018, yang menandatangani perjanjian kesiapan dan kesanggupan untuk menerima tanggungjawab tersebut adalah masih Presiden SBY. Nah begitu pucuk pimpinan negara pindah ke Jokowi, maka tanggungjawab dan komitmen itu diambil alih.

”Itu yang ideal dalam sebuah pemerintahan, harus dibuang jauh-jauh ego sektoral  demi kepentingan yang lebih besar apalagi menyangkut nama baik bangsa dan negara,”paparnya.

Menanggapi posisinya sebagai Ketua KOI dan terkait pelaksanaan Kongres KOI, Erick Thohir mengatakan bahwa hal itu baru akan dibasah usai Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 17 April mendatang.

”Ya ancar-ancarnya antara Mei atau Juni 2019, namun penjaringan bakal calon ketua umum KOI sudah bisa dibahas sebelum itu. Saya juga tak mengandai-andai siapa yang akan menggantikan posisi saya di KOI nanti,”demikain Erick Thohir. TOR-08

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR