Oleh: Yosrizal
SEPAKBOLA Indonesia, memang jauh berbeda dengan sepakbola Eropa maupun Amerika Latin. Bahkan dibanding beberapa negara Asia saja, masih jauh tertinggal dalam berbagai hal.

Bukan hanya melulu soal prestasi, tetapi soal sarana dan prasarana latihan dan kompetisi. Semua klub profesional sudah punya stadion sendiri. Meski sebagian dibangun oleh perusahaan endorsman klub tersebut.

Di Tanah Air, nyaris tak ada klub yang bisa mengklaim bahwa kandang mereka adalah stadionnya sendiri. Bahkan, tim sekelas Persija, sampai kini masih sering seperti peladang berpindah, shifting cultivator. Padahal di ibukota Jakarta ada stadion termegah di Asia Tenggara, Gelora Bung Karno (GBK).
Karena GBK bukan milik klub. Tetapi milik negara. Milik Bangsa Indonesia. Stadion ini hanya bisa digunakan -mestinya -untuk pertandingan Timnas Indonesia, atau laga internasional lainnya dengan mengikuti aturan yang diberlakukan oleh Badan  Pengelola Gelora Senayan.
Artinya, meski menjadi klub ibukota, Persija tak leluasa menggunakan stadion yang berdiri megah di jantung kota Jakarta itu. Karena stadion Persija adalah Stadion Menteng, yang kini tinggal kenangan.
Dan, baru, era gubernur Anis Baswedan, Pemerintah DKI merencanakan akan membangun sendiri untuk kandang Persija. Semoga saja ini menjadi sebuah contoh soal bagi klub-klub lainnya di Indonesia.
Meski kenyataan demikian, tak semua klub pula yang harus senasib dengan Persija. Banyak klub yang nyaman dengan stadion yang juga milik pemerintahan setempat. Seperti Arema dengan Stadion Kenjuruhan Kabupaten Malang, Persib dengan Stadion Bandung Lautan Api dan Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung atau sejumlah klub lainnya di beberapa provinsi di Jawa dan luar Jawa.
Bahkan ada klub yang kelebihan stadion. Artinya jumlah klub yang mengharuskan stadion dengan fasilitas berstandar Liga 1, AFC dan FIFA lebih sedikit dengan jumlah stadion di kota tempat keberadaan klub tersebut.
DI Samarinda, ibukota Kalimantan Timur, paling tidak ada tiga stadion yang layak untuk kompetisi Liga 1, seperti Sempaja, Persisam dan Palaran. Tetapi berapa klub Liga 1 yang ada di Samarinda?
Beda klub, beda kota berbeda nasib. Semen Padang FC misalnya.Klub yang berdiri sejak 39 tahun lalu itu, dari dulu mengandalkan fasilitas pemerintah kota Padang. Mulai dari Stadion Imam Bonjol yang kini menjadi Taman Kota sampai ke Stadion Agus Salim yang sejak awal berdirinya 1983 sampai kini belum ada perubahan signifikan.
Bahkan, klub dengan julukan Kabau Sirah itu sempat hijrah ke Kabupaten Sijunjung, lantaran fasilitas Agus Salim yang tak memenuhi syarat. Belum lagi masalah non teknis yang sering terjadi antara Pemerintah Kota dan Manajemen Semen Padang FC.
Sebagai sarana umum, stadion yang sebenarnya dibangun oleh  Pemerintah Provinsi itu, sering menyalahi peruntukannya. Mestinya hanya untuk pertandingan sepakbola, kadang juga digunakan untuk kegiatan non olahraga. Bahkan konser band pun pernah digelar di lapangan rumput stadion.
Selain Semen Padang, stadion yang dibangun sebagai pengganti  stadion Imam Bonjol, juga digunakan oleh klub milik Pemko Padang, PSP. Bahkan, PSP lebih berhak mengklaim sebagai home base mereka, karena dikelola oleh pemerintah kota Padang.
Artinya, kapan dan dalam iven apa saja, PSP tak pernah mengalami kendala menggunakan fasilita tersebut. Selain tak mengharuskan standar minimal kompetisi -karena PSP memang hanya di Liga 3 -manajemen klub  bergelar Pandeka Minang itu bebas memanfaatkannya.
Tetapi tak demikian dengan Semen Padang FC. Selain mengharuskan standar stadion yang layak kompetisi, juga kadang harus berhadapan dengan masalah non kompetisi dengan pemerintah kota Padang.
Perjanjian kerja sama antara manajemen Kabau Sirah dan Pemerintah Kota, tak selalu mulus. Terus saja ada konflik kepentingan dan “keuasaan” antar kedua kubu. Terutama masalah pemeliharaan fasilitas, seperti rumput lapangan, kamar ganti dan fasilitas pendukung lainnya.
Pemerintah kota selalu berkelit sudah menganggarkan dalam APBD Kota untuk biaya pemeliharahaan stadion. Namun keterbatasan anggaran sering jadi alasan sehingga stadion tetap saja mengalami kekurangan dalam hal menjaga standarisasi stadion.
Kekurangan itu kemudian menjadi “kewajiban” Semen Padang untuk menutupi. Intinya, kalau ingin memakai stadion Agus Salim sesuai standar yang diinginkan, lengkapilah oleh Semen Padang. Karena Pemko Padang tak cukup anggaran untuk itu.
Di lain hal, manajemen Smen Padang juga kerap mengklaim, kalau posisi mereka adalah penyewa. Artinya si penyewa sudah membayar sesuai aturan dari Pemko Padang. Maka kewajiban yang menyewakan melengkapi fasilitas kebutuhan penyewa.
Kini, jelang kompetisi Liga 1 bergulir pada Mei mendatang, konflik itu kembali terjadi. Pihak pemerintah kota mengklaim sudah melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Tetapi, sekali lagi, anggaran yang terbatas menjadi alasan.
Sedang pihak Semen Padang mengaku kecewa dengan tanggung jawab Pemko Padang yang tak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya, terutama pemeliharaan rumput stadion. Seharusnya Pemko Padang tahu kalau sebentar lagi Semen Padang akan berkompetisi.
Kata berjawab, gayung pun bersambut. Pemko  Padang mengatakan kalau Stadion Agus Salim adalah fasilitas umum. Artinya kegiatan apapun boleh dilakukan di stadion tersebut. Meski tak menegaskan kalau Semen Padang tak berhak mengatur Pemko Padang.
Polemik ini mestinya tak muncul ke permukaan. Apalagi sampai ke media. Harusnya ini menjadi konsusmi pihak pertama dan kedua saja. Karena keduanya adalah pihak-pihak yang saling membutuhkan. Semen Padang butuh Agus Salim. Pemko Padang butuh Semen Padang.
Karena sejauh ini, tim BUMN ini belum juga mampu untuk membangun stadion sendiri, meski sudah ada rencana beberapa tahun silam. Sementara Pemko Padang juga tak boleh egois dan menyalahkan Semen Padang, karena klub ini juga membawa nama sepakbola Padang ke pentas nasional.

Lebih dari itu, PT Semen Padang sebagai sponsor utama Semen Padang FC, pasti juga sudah berkontribusi untuk pembangunan kota ini. Artinya, tak ada yang menjadi dahan kayu dan tak ada yang jadi benalu. Harus saling menguntungkan dan saling berfikir positif untuk hal ini. Semoga…(Penulis Wartawan TribunOlahraga.com Biro Sumbar tinggal di Kota Padang).

TINGGALKAN KOMENTAR