JAKARTA-(TribunOlahraga.com)

Langkah tim Indonesia akhirnya di Piala Sudirman 2018 harus terhenti di semifinal, setelah dikalahkan Jepang 1-3,  Sabtu (25/5), di Guangxi Sports Center Gymnasium Nanning, Guangxi, China.

Indonesia terlebih dulu unggul 1-0 setelah di partai pertama ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang menang straight game atas Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dengan straight game 21-14, 21-18.

Kevin/Marcus tampil perkasa sejak awal, dimana mereka tidak memberikan kesempatan kepada Kamura/Sonoda di game pertama. Namun di game kedua, pertarungan berlangsung sengit, selisih poin tak pernah terpaut jauh.

“Kami lebih siap dari start awal karena kami sudah sering ketemu mereka. Kami sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing, mereka juga tahu kelebihan dan kekurangan kami. Hari ini kami lebih siap dan lebih sabar. Kami lihat pengembalian mereka memang tidak masuk, jadi pasti raket saya melewati net. Habis itu kami fokus lagi ke pertandingan,” terang Kevin dilansir BadmintonIndonesia.org.

“Kami memang ditargetkan, kami turun itu wajib menang, kami senang bisa menyumbang satu poin untuk Indonesia dan tim, penginnya yang lain juga bisa memberikan yang terbaik, walau tidak diandalkan tapi bisa menyumbang angka,”imbuhnya.

Hanya sayang, di partai kedua tunggal putri pebulutangkis andalan Merah Putih, Gregoria Mariska Tunjung, harus menyerah kepada Akane Yamaguchi 13-21, 13-21 sehingga kedudukan jadi imbang 1-1. Penampilan Gregoria memang tak sesuai dengan harapannya, ia tidak bisa mengembangkan permainan dan banyak melakukan kesalahan sendiri.

“Di game pertama saya kalah start, mungkin dari pertemuan terakhir kami (di New Zealand Terbuka 2019), dia sudah tahu cara untuk melawan saya bagaimana. Dari saya juga nggak ada perubahan, kesalahannya nggak jauh beda sama pertemuan terakhir. Kelihatan banget saya nggak tahan sama reli-relinya dia. Tadi jujur jauh banget permainannya dari yang saya harapkan, kelihatan banget fight di lapangannya ada-nggak ada,” jelas Gregoria.

Gregoria pernah mengalahkan Yamaguchi dalam di pertandingan beregu Asian Games 2018. Ia mengatakan tak banyak perubahan dalam permainan Yamaguchi, namun kali ini Yamaguchi lebih mempercepat tempo permainan.

“Tidak banyak berbeda, lawan adalah pemain yang ulet, mau ngadu, di dua pertemuan terakhir dia lebih mempercepat tempo main. Waktu di Asian Games dia mengikuti permainan saya. Harusnya kalau sedang tertekan, ada satu pukulan yang bisa bikin clear semua, jadi reli lagi, pengembalian saya pun mentah. Mungkin kalau nggak mentah, bisa menyulitkan dia,” tutur Gregoria.

“Dari pelatih juga sudah bilang kalau saya harus mau adu relinya, saya seperti kalah di tempo. Dia kalau kehilangan dua-tiga poin dia tahu harus mengubah permainan, harus dicepetin, tapi saya tidak bisa mengatasi tekanan dia,” sambung Gregoria.

Selanjutnya, Indonesia jadi tertinggal dari Jepang 1-2. Keunggulan Negeri Matahari Terbit diberikan tunggal putra mereka Kento Momota atas Anthony Sinisuka Ginting dalam dua game langsung, 21-17, 21-19.

Anthony sebetulnya punya peluang untuk memenangkan pertandingan, ia beberapa kali mengatur permainan Momota hingga pemain nomor satu dunia tersebut jatuh-bangun. Akan tetapi, banyak kesalahan-kesalahan sendiri dari Anthony yang membuat angka Momota terus bertambah.

“Pertama-tama saya mengucap syukur, Puji Tuhan bisa main baik hari ini meskipun hasilnya belum seperti yang kita harapkan bersama-sama. Tadi overall saya main lebih baik dibanding waktu lawan (Viktor) Axelsen. Pertemuan sebelumnya memang lebih seringnya ketat. Saya lihat dari poinnya dari awal sampai akhir kejar-kejaran,” aku Anthony. s ”

Di game kedua saat poin-poin kritis, saya merasa dia lebih inisiatif untuk menyerang. Sebelum di poin kritis, dia banyak main reli dan ngasih saya kesempatan untuk menyerang. Di game kedua 18-18 dia dapat lucky ball, sama-sama tegang pasti. Agak nyesal sih, sebenarnya masih bisa,” lanjutnya.

Pertarungan kedua pemain ini memang selalu dinanti, permainan Momota dan Anthony memang sangat menarik untuk disaksikan. Anthony juga mengaku tak terlalu memikirkan tekanan dalam turnamen beregu ini, karena dukungan dari rekan-rekannya membuatnya lebih menikmati permainan.

“Pasti menyesal, dapat kesempatan smash, bola-bola yang nggak mati sendiri, harusnya masuk dulu. Di situ saja sih, harus belajar lagi. Waktu awal game pertama, langsung menyerang terus, sampai ketinggalan 5-0. Di situ saya mikir, jangan langsung menyerang, harus adu reli dulu, kalau ada kesempatan untuk menyerang, baru serang,” kata Anthony.

“Tegang pasti ada, pressure sih tidak. Pertandingan ini kan sudah menentukan, kalau kalah langsung gugur. Siapa yang diturunkan hari ini, pasti maunya menyumbang angka. Saya mencoba untuk enjoy saja, kalau main beregu lebih enjoy, kalau lihat ke belakang ada teman-teman yang bersorak, teriak-teriak, jadi nggak mau mengecewakan dan menyia-nyiakan kesempatan yang PBSI kasih ke saya, dipercaya turun hari ini,” sebutnya.

Kepastian kekalahan Indonesia terjadi ketika di partai keempat ganda putri Greysia Polii/ Apriyani Rahayu tak berdaya ketika menghadapi pasangan Yuta Wataname/Arisa Higashino dengan straight game 15-21, 17-21. Kekalahan ini menjadi perjuangan akhir Indonesia , dan Jepang berhak ke final jumpa China. China di semifinal lainnya mengalahkan Thailand 3-0. TOR-05

TINGGALKAN KOMENTAR