Tim BLISPI Pusat bersama Pemerintah Gorontalo saat pembukaan pertandingan perdana Piala Menpora U-15 2019 (Foto/Taufik Panji Alam)

LIMBOTO-(TribunOlahraga.com)

Badan Liga Sepakbola Pelajar Indonesia (BLISPI) Gorontalo yang baru sehari dilantik oleh BLISPI Pusat langsung tancap gas. Sesuai dengan tupoksi dan tanggungjawabnya sebagai penggerak serta pembina sepakbola usia muda, BLISPI Gorontalo menggelar Turnamen Sepakbola U-14 Piala Menpora.

Turnamen U-14 Piala Menpora ini menjadi lokomotif pembinaan sepakbola usia dini di Gorontalo. Pembukaan turnamen U-14 Piala Menpora oleh Ketua BLISPI Pusat Subagja Suihan ini dihadiri Ketua Umum BLISPI Gorontalo Prof.DR.IR Nelson Pomalingo serta para pejabat pemerintah tingkat Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo.Gambar mungkin berisi: 3 orang, termasuk Ahmad Muhajir

Jaelani dan Subagja Suihan (Foto/Taufik Panji Alam)

Subagja Suihan dalam sambutannya mengakui bahwa pembinaan usia muda adalah salah satu kunci menuju pencapaian prestasi sebuah tim sepakbola.”Jika pembinaan usia dini keropos karena tidak digarap secara serius maka jangan berharap sepakbola Indonesia akan melahirkan sekumpulan pemain hebat untuk timnas,”kata Subagja yang didampingi Sekjen BLISPI Jaelani dan Humas BLISPI Taufik Panji Alam itu di Lapangan Sepakbola Sport Center Limboto, Gorontalo, Senin, (5/8).

Pria yang separuh hidupnya dihabiskan untuk pembinaan sepakbola usia muda itu juga menegaskan hampir 80 persen materi pemain timnas baik U-23, U-15, U-19 dan U-21 merupakan jebolan dari pembinaan usia muda.

Oleh karenanya Subagja menekankan kepada BLISPI Gorontalo untuk bersungguh-sungguh menggarap pembinaan usia muda ini.”Seperti saya katakan sebelumnya saat melantik BLISPI Gorontalo, sudah saatnya sepakbola Gorontalo bangkit dan bersaing dengan Provinsi lain dalam menembus prestasi bukan hanya level nasional juga internasional,”tambahnya.

Dan Subagja yakin, Gorontalo bisa memiliki sebuah timnas sepakbola yang punya kemampuan untuk bersaing di level nasional asalkan pembinaan pemain usia mudanya dilakukan dengan baik dan berjenjang.

”Saya tahu bahwa di Gorontalo ada dua tim sepakbola yang pernah ikut kompetisi nasional seperti Persigo (Kotamadya Gorontalo) dan Persidago (Kabupaten Gorontalo). Nah dengan adanya pembinaan usia muda berjenjang, saya optimis ke depan baik Persigo maupun Persidago akan menembus kompetisi level nasional seperti Liga 1 Indonesia,”papar peraih Golden Awards sebagai pembina terbaik usia muda versi Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Pusat  2018 dan 2019 ini.

Namun BLISPI Gorontalo tak hanya fokus pada dua daerah itu, Kotamadya Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo. Daerah lain seperti Kabupaten Bonebolango, Bualemo, Pohuwato dan Gorontalo Utara juga harus didorong untuk menggalakkan pembinaan usia muda.

Sementara itu Ketua Umum BLISPI Gorontalo Nelson Pomalingo juga mengakui bahwa di Provinsi Gorontalo ada lima Kabupaten dan satu kota. Ini menjadi tanggungjawab BLISPI Gorontalo untuk mendorong pembinaan dan pengembangan sepakbola usia dini di keenam daerah tersebut.

Masyarakat Gorontalo seperti dikatakan Nelson Pomalingo sangat gemar permainan sepakbola.”Jadi harapan saya dengan adanya BLISPI di Gorontalo ini pembinaan sepakbola usia dini makin berkembang. Karena hanya dengan pembinaan usia dini yang diiringi kompetisi berjenjang, saya yakin suatu saat Gorontalo akan banyak memiliki pemain handal,”tutur mantan Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) itu.

Kehadiran BLISPI di Gorontalo, menurut Nelson, bisa dijadikan alat untuk mendorong ketersediaan stadion lapangan sepakbola yang memenuhi standar nasional. Bagaimana pun juga pembinaan tak akan mencapai keberhasilan jika tanpa didukung fasilitas tempat latihan yang memadai.

Di Provinsi Gorontalo, baru dua stadion sepakbola yang dianggap memenuhi persyaratan yakni Stadion Merdeka Kota Gorontalo dan Stadion 23 Januari (Kabupaten Gorontalo).  Bahkan Stadion 23 Januari yang dibangun pada era Bupati Gorontalo Martin Liputo SH dan kemudian diresmikan oleh Ketua Umum PSSI Marsekal Madya (Purn) Kardono, tahun 1988 merupakan stadion sepakbola yang masuk Grada C FIFA dengan kapasitas 20 ribu penonton.

=Galakarya=

Di sela-sela pelantikan BLISPI Gorontalo ini, BLISPI Pusat juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk pengembangan sepakbola Galakarya. Galakarya yang dikhususkan untuk para karyawan baik pemerintah maupun swasta itu juga menjadi salah satu instrumen penting dalam pembinaan sepakbola Indonesia ke depan.

Menurut salah satu pentolan Galakarya Pusat Jaelani, semua elemen masyarakat memiliki peran yang sama untuk mendorong pembinaan dan pengembangan sepakbola termasuk karyawan.

Bahkan sepakbola bisa menjadi pintu masuk bagi mereka yang ingin menjadi karyawan apakah di pemerintahan maupun swasta. Pada era 1980-an hingga 1990-an banyak pemain timnas masuk dan bekerja di pemerintahan serta perusahaan swasta.

”Nah kami ingin para sepakbola bisa berkarir sebagai pegawai negeri di pemerintahan dan karyawan di perusahaan swasta,”demikian Jaelani. TOR-10

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR