Tahir Yantu (Foto/Ist)
Hingga saat ini kontingen Gorontalo baru meraih dua medali perunggu masing-masing disumbangkan atlet dari cabang sepak takraw nomor quadran putra dan pencak silat kelas 70-75 kg putra.
Meski hanya medali perunggu, bagi kontingen Gorontalo hasil itu patut disyukuri. Tahir Yantu peraih medali perunggu cabang pencak silat pun mengaku bersyukur dengan raihan perunggu itu.Gambar mungkin berisi: 7 orang, orang berdiri
”Saya sudah tiga kali ikut POMNas mulai 2015 di Aceh dengan hanya sampai babak delapan besar dan 2017 di Makassar, Sulsel yang langsung kalah di babak penyisihan. Baru dalam keikusertaan saya yang ketiga ini bisa dapat medali meski perunggu. Ini medali perunggu teras emas,”kata mahasiswa semester 9 jurusan pendidikan kepelatihan olahraga Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) itu.
Mengenal pencak silat sejak SMP pada perguruan pencak silat Teratai Matahari TIbawa Kabupaten Gorontalo, Tahir, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Muhamad Yantu (almarhum) dan Asna Patamani ini mengaku ini POMNas yang terakhir diikutinya. Pasalnya POMNas berikutnya dia sudah merampungkan studinya di UNG.
Hal yang sama juga dirasakan atlet quadran peraih medali perunggu, Adrianto Husain (kapten tim), Ahmad Aguweli, Rizky Yonu, Mohamadfaqhurahman  Putra Alipu dan Mohamad Oktavian Adiko.
Menurut Adrianto, tak ada rasa kecewa sedikitpun meski hanya mendapatkan medali perunggu. ”Dengan persiapan seadanya saya kira perunggu ini sudah lebih dari lumayan, kita harus syukuri. Kami anggap perunggu ini terasa emas,”kata Adrianto yang bersama 4 rekannya adalah mahasiswa jurusan pendidikan kepelatihan olahraga Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG ini. TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR