Tim Quadran Gorontalo peraih medali perunggu POMNas 2019 (Foto/ist)
Gorontalo merupakan kontingen terkecil di ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) ke-16 2019 Jakarta. Kontingen yang diketuai Taufik Ismail Yusuf ini berkekuatan 19 atlet dan hanya ikut 5 cabang olahraga (cabor) yakni atletik, sepak takraw, pencak silat, karate dan bulutangkis. Meski datang dengan pasukan terkecil, semangat kontingen Gorontalo untuk bersaing tetap tinggi.Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang tersenyum, orang berdiri
Tahir Yantu, atlet pencak silat Gorontalo peraih medali perunggu kelas 70-75 kg putra POMNas 2019 (Foto/Ist)
Hingga hari ke-6, Selasa, (24/9), kontingen Gorontalo baru mendapatkan 2 medali perunggu yang disumbangkan cabang sepak takraw dari nomor quadran putra dan pencak silat kelas 70-75 kg. putra. Kontingen Gorontalo masih berharap tambahan medali dari cabang olahraga karate yang sudah memulai pertandingannya, Selasa, (24/9) ini.
Bagaimana dan apa target Gorontalo di POMNas 2019 ini berikut petikan wawancara Si Bondi yang dikutip TribunOlahraga.com, media partner POMNas 2019 dengan Ketua Kontingen yang juga Sekretaris Umum Badan Pembinaan Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Gorontalo, Taufik Ismail Yusuf di Hotel New Idola Jalan Pramuka, Jakarta.
Kontingen POMNas Gorontalo di Hotel New Idola Jakarta, (Foto/OLII
Si Bondi: Bagaimana persiapan Gorontalo menghadapi POMNas 2019 ini ?
Jawab: Gorontalo mungkin kontingen yang serba mines baik dari persiapan maupun dukungan pemerintah provinsi. Persiapan kami pun tak lebih dari satu bulan. Beruntung atlet kami ini sebagian besar adalah mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG), jadi mudah melakukan koordinasi. Kami berangkat ke Jakarta tak satu rupiah pun ada bantuan atau dukungan pendanaan dari pemerintah provinsi Gorontalo. Padahal kami ini kan membawa nama daerah, panji-panji mahasiswa Gorontalo . Alasan mereka, untuk persiapan PON 2020 saja, pemerintah provinsi kesulitan dana.
Si Bondi: Dengan kondisi yang serba memperihatinkan ini, lalu apa target Gorontalo di pesta olahraga antarmahasiswa nasional dua tahunan itu ?
Jawab: Saya katakan kepada atlet kami jangan berkecil hati meski dalam kondisi serba minim. Karena mereka hadir di POMNas ini bukan mewakili almamater perguruan tinggi tetapi nama daerah Gorontalo. Walaupun sampai saat ini baru mendapatkan 2 medali perunggu itu sudah kami syukuri. Prinsipnya jangan sampai kontingen Gorontalo pulang dengan tangan kosong..
Si Bondi: Bapak sebagai Sekretaris BAPOMI Gorontalo, bagaimana pengembangan dan pembinaan olahraga di lingkungan kampus ?
Jawab: Mulai tahun ini kami khususnya UNG, kebetulan saya juga sebagai Wakil Dekan III Fakultas Tekhnik membuka jalur khusus pembinaan untuk atlet potensial dan berprestasi.Mereka yang dinilai punya prestasi mendapat beasiswa selama kuliah di UNG. Kami pun sudah melakukan sosialisasi ke beberapa sekolah unggulan di Gorontalo. Harapan kami dengan pola seperti ini semakin banyak atlet potensial dan berprestasi menjadi mahasiswa di UNG .
Si Bondi: Cabang olahraga apa saja yang mendapat perhatian khusus dari BAPOMI untuk dibina lebih lanjut ?
Jawab: Cabang olahraga sepak takraw sudah menjadi ikon Gorontalo karena cabor ini adalah pembuka medali emas kontingen Gorontalo pada PON 2012 Pekanbaru, Riau yang kemudian berlanjut di PON 2016 Jabar. Dan ada lima atlet sepak takraw di timnas Indonesia khususnya peraih medali emas Asian Games 2018 lalu adalah mahasiswa UNG, pelatihnya Asry Syam pun adalah dosen UNG. Selain sepak takraw kami juga membuka kesempatan untuk cabor lain seperti pencak silat, karate dan muaythai.
Si Bondi: Apa pandangan Bapak tentang POMNas ?
Jawab; Siapapun pasti akan mengatakan bahwa POMNas ini adalah salah satu mata rantai pembinaan menuju prestasi nasional dan internasional. Apalagi jenjangnya sudah jelas, ada POM Asean untuk level Asia Tenggara, Asia-de (Asia) dan Unversiade,(Olimpiade Mahasiswa).. Kalau ini dimaksimalkan saya jamin akan banyak lahir atlet berprestasi dari lingkungan perguruan tinggi. TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR