Triwatty Marciano Sebut Kuda Juga Butuh Perhatian

Triwatty Marciano Sebut Kuda Juga Butuh Perhatian

190
0

TANGERANG-(TribunOlahraga.com)
Jangan samakan berkuda dengan cabang olahraga lainnya. Dalam cabor berkuda ada dua mahluk hidup yang berperan. Pertama tentu rider atau penunggang kuda dan yang kedua pasti kudanya sendiri. Untuk meraih sukses prestasi maka dibutuhkan perhatian yang seimbang pada dua faktor utama penunjang olahraga itu.

“Jadi perlu diingat, berkuda sangat berbeda dengan cabang olahraga yang lain. Selain rider maka kudanya juga atlet. Karena itu perlu perhatian yang seimbang antara rider dengan kudanya,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) Triwatty Marciano di sela-sela pelaksanaan Equestrian Champions League (ECL) 2020 seri II di APM Equestrian Centra, Tangerang, Banten. Minggu (8/3/2020) seperti dikutip dari Suara Karya.id.

Istri dari Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman itu menegaskan, belum semua menyadari hal tersebut sehingga banyak yang lebih memperhatikan pembinaan para penunggang saja. Karena itu dia akan berjuang untuk terus meyakinkan, kuda itu juga atlet yang membutuhkan perhatian juga.

“Sebagai mahluk hidup, kuda juga butuh makan dan perawatan. Ini membutuhkan anggaran. Jadi dalam pembinaan olahraga berkuda perlu juga dipikirkan dan dimasukkan anggaran untuk kuda itu,” ucapnya.

Ketika hal itu dikonformasikan kepada Marciano Norman, sebagai pimpinan tertinggi olahraga prestasi di Indonesia, dia menyatakan, dalam olahraga berkuda memang perlu ada perhatian juga kepada kudanya selain penunggangnya. Hal ini akan mempengaruhi biaya yang dibutuhkan. Tidak mengherankan bila anggaran untuk Pordasi jauh lebih besar dari cabang yang lain.

“Tentu perlu ada slot anggaran untuk perawatan kuda itu. Nah para wartawan juga perlu memperhatikan kuda itu sehingga saat menulis berita bukan hanya menampilkan ridernya tetapi juga nama kuda yang ditunggangi. Seperti di olahraga formula one atau motogp, selain pembalapnya juga ditulis mobil atau motor yang dipakai,” ujarnya.

Wakil I Ketua Umum KONI Pusat Suwarno yang hadir untuk menyaksikan ECL seri 2020 II itu menyatakan, soal perhatian kepada kuda itu akan dipikirkan. Namun semua tergantung dari kebijakan pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pemuda Dan Olahraga (Kemenpora) selaku pemberi anggaran. “Kita akan komunikasikan kepada pihak Kemenpora soal perbedaan berkuda dan cabor lainnya itu,” tutur Suwarno.

Dalam bagian lain, Truwatty mengaku bangga karena ada peningkatan peserta pada seri II kali ini dibandingkan seri I yang berlangsung di Pulomas, Jakarta, Februari lalu. Apalagi banyak rider-rider muda berpotensi yang tampil. Karena itu dia optimistis ECL ini akan bisa dilaksanakan secara teratur dan berkesinambungan.

“Tahun depan saya harap akan lebih banyak lagi pesertanya. Daerah yang tampil juga makin merata karena sekarang sudah banyak daerah yang siap untuk membina equestrian selain pacu. Mudah-mudahan ECL yang mulai digulirkan sebanyak enam seri ini tahun ini bisa makin menggairahkan pembinaan dan prestasi olahraga berkuda di Tanah Air,” ucapnya.

Dengan demikian, ujarnya, ECL benar-benar bisa menjadi tolok ukur tentang pengembangan dan pembinaan olahraga berkuda, khususnya komisi equestrian. Pordasi akan memiliki data prestasi para rider yang nantinya bisa ditampilkan sebagai andalan Indonesia di kejuaraan internasional. “Melihat gairah yang ada sekarang, saya optimistis olahraga berkuda bisa menjadi andalan Indonesia,” katanya sambil tersenyum. TOR-10

TINGGALKAN KOMENTAR