JAKARTA-(TribunOlahraga.com)

SEA Games 2019 Filipina sudah hampir empat bulan berlalu, namun meninggalkan pilu amat dalam bagi judoka putri Fania Farid. Judoka asal Bali itu, mendapat skorsing dari Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PB.PJSJ) berupa tidak diperbolehkan mengikuti kejuaraan atau kegiatan judo yang diselenggarakan PB.PJSI/KONI Pusat sampai  tanggal 31 Desember 2020.

Itu artinya Fania kehilangan kesempatan untuk bertanding di ajang PON 2020 yang digelar 20 Oktober-2 Nopember 2020. Surat skorsing yang ditandatangani langsung Ketua Umum PB.PJSI Mulyono tertanggal 6 Maret 2020 itu tertuang dalam surat keputusan PB/35/KU-03/Judo/III/2020.

Dasar utama PB.PJSI mengeluarkan surat keputusan tentang skorsing itu adalah Fania Farid dinilai meninggalkan pelatnas judo SEA Games 2019, program tanning camp di Jepang pada tanggal 1 September 2019 tanpa seizin pimpinan PB.PJSI yang berwenang dengan alasan untuk mengikuti kegiatan pendidikan di kampus (Universitas Negeri Jakarta) serta tidak mau mengecewakan orang tua.

Indonesia Judo Community (IJC) melalui juru bicara Aji Kusmantri  menilai skorsing terhadap Fania Farid sangat disayangkan. Pasalnya, kata Aji, Fania sudah melayangkan surat pengunduran dirinya kepada  Sekjen PB.PJSI Bachtiar dan sudah disampaikan juga kepada manajer tim, Hendro dan pelatih Ade.

‘’Jadi aneh kalau dalam surat keputusan PB.PJSI yang ditandatangani  langsung oleh Ketua Umum itu disebutkan bahwa Fania meninggalkan pelatnas. Padahal Fania sendiri awalnya minta izin meninggalkan pelatnas hanya lima hari dan disarankan mengundurkan diri. Surat pengunduran diri pun dibuat, jadi bukan meninggalkan pelatnas,’’ujar Aji.

Menurut dia, PB.PJSI juga tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada Fania Farid untuk membela diri meski secara prinsip judoka yang diprediksi bakal menyabet medali emas PON kelas -78 kg putri itu telah menyampaikan pengunduran dirinya  sesuai prosedur.

‘’Surat skorsing ini juga tidak ditembuskan kepada pengrov-pengprov PJSI dan ini baru pertama kalinya terjadi di lingkungan PB.PJSI. Ada apa dengan PB.PJSI sampai mengeluarkan surat semacam itu. Ini sama saja PB.PJSI bersikap otoriter,’’tandasnya.

Di tengah upaya membangun kembali prestasi judo Indonesia, PB.PJSI justru telah melakukan tindakan yang tak mencerminkan sebagai pembina. PJSI malah terkesan telah ‘’membinasakan’’ atletnya sendiri. Apalagi PON itu adalah titik kulminasi pembinaan olahraga prestasi dan semua atlet berlomba-lomba ingin bertanding di PON sebagai jembatan awal menuju prestasi dunia. TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR