Ketika mengikuti pelatihan Kryzstov Martens sebagai pelatih nasional, penulis mendapat beberapa ide segar tentang “partnership agreement” . Padahal sebagian besar, ia telah tulis di dalam 18 seri bukunya.

Namun jelas kalau kita hanya membaca dari buku, tidak mungkin tertulis secara mendetail karena akan mebutuhkan banyak halaman. Dalam pelatihan tentu saja akan terbuka secara jelas karena para pemain akan ikut bertanya berbagai problem yang muncul tentang ide ini selengkapnya.

Salah satu konvensi yang ditemukan pelatih kita adalah “extra length transfer bid”
Konvensi ini digunakan untuk “two over one” mengatasi kelemahan standart bidding yang terlalu natural dan membuat kita kehilangan “space” untuk mencari informasi selanjutnya.

Two over one dalam sekuense yang akan di bicarakan adalah “forcing to game” (FG). Khusus untuk response 2C digunakan sebagai natural Club FG atau balanced strong dengan minimal 2 lembar C.

Tapi dengan ide ini maka 2NT yang selama ini digunakan sebagai bid invitational “non forcing” menjadi “forcing to game”. Inilah biaya kecil yang harus dibayar jika ingin memanfaatkan idenya.

Contoh :
Standart Bidding :
1H 2C
2D 2NT
3C 3/4 card C
3D 5 card D
3H 6 card H
3S 3 Card S
3NT 5422
Pada sekuense diatas, ketika kita ingin slam di C atau D maka kita harus bid di level tinggi dan menghilangkan kesempatan untuk main 3NT jika warna pendek dari partner tidak sesuai keinginan kita.
Extra Length Transfer Bid :
1H 2C
2D 2NT
3C 5 card H + 5 card D
3D 6 card H + 4 Card D
3H SPL S
3S SPL C
3NT 5422
Dengan extra length transfer bid maka masalah diatas bisa diselesaikan di level masih dibawah 3NT.
1H 2C
2D 2NT
3C 3D
3D disini sudah menunjukan slam interest di D cukup dilevel yang sangat rendah.
Selanjutnya opener akan bid 3H/3S untuk menunjukan pendek C / S. Dalam menunjukan pendek maka aturannya diusahakan agar senatural mungkin. Jadi 3S adalah pendek S sedangkan 3H digunakan untuk warna yang satu lagi.

Dalam sekuense ini berarti pendek C. Aturan ini akan berlaku terus, dimana selama levelnya masih dibawah 3NT maka yang terendah memberitahukan “fragmen” di warna opener. Karena dengan demikian ketika responder ingin bid slam diwarnanya maka masih ada step untuk menanyakan informasi selanjutnya. Satu hal yang harus diingat, setelah bid 2NT berarti tidak ada fit H atau paling banyak 2 lembar H.
1H 2C
2D 2NT
3D 3H 2 lembar H
3S Singleton S
3NT Ada void
4C Singleton C
4D 6511

1H 2C
2D 2NT
3D 3H 2 lembar H
3NT 4C Tanya
4D Void C
4H Void S
Masih banyak sekuense bidding yang bisa menggunakan ide ini tapi tentu saja penulis tidak mungkin menuliskan dalam artikel pendek ini.
Konvensi ini bisa diterapkan pada beberapa sekuense ini :
1H 1S
2m 2NT Dengan catatan 2NT menjadi FG bukan invite

1H 2C 1S 2C 1S 2D
2D 2D/H 2H

Bisa juga digunakan untuk sekuense ini :
1S 2C
2S 2NT
3C 4 card C
3H 6 kartu S
3S 6 kartu S + 4 card C
3NT Tidak ada yang istimewa untuk diberitahukan.

Tertinggal 3D, ini yang digunakan 3 card C support dan kalau responder C suit bisa ke slam.Intinya setelah 2NT bid 3C menunjukan 3 kartu support untuk warna pertama responder.

Bid berikut adalah transfer dan sisanya digunakan untuk fragment bid dan 3NT menunjukan 5422 kalau 2 suiter.
Mengenai fragment, aturannya step paling tinggi adalah pendek warna pertama responder.
Contoh :
1S 2D
2H 2NT
3C 3 or 4 card D
3D 5/5 S+H
3H 6+ card S
3S Fragment S atau pendek D
3NT 5422

1H 2C
2D 2NT
3H SPL S
3S SPL C

Kenapa harus SPL S baru C bukan sebaliknya? Karena yang paling tidak disukai oleh responder adalah pendek warnanya atau C. Sementara itu kalau pendek S maka responder pasti senang jika ia pegang suit C dan dia punya space bidding 3S untuk menanyakan informasi selanjutnya. 3NT seperti biasanya untuk yang tidak interest dan yang lain cue-bid dan ada ekstra.

Penulis berharap untuk sekuense lainnya bisa dibuat sendiri sesuai pola diatas.(Penulis adalah pemain dan pemerhati bridge).

TINGGALKAN KOMENTAR