Jika sebagian anggota EXCO PSSI yang dianggap mBah Coco, sebagai “Bandit Kelas Teri” dalam sosok Yunus Nusi, Haruna Sumitro, Yunianto Rachman dan Yoyok Sukawi, tetap ngotot menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa PT Liga Indonesia Baru (LIB), pada Senin 18 Mei 2020, maka sebaiknya, Wakil Ketua Umum PSSI, yang merangkap sebagai Direktur Utama PT LIB, dan juga manajer Tim Nasional Indonesia U-20, mengundurkan diri.

Sebagai tentara, dan berjiwa Sapta Marga, sebaiknya Cucu Somantri yang dihina dan dilecehkan, saran mBah Coco, mendingan buat surat pengunduran diri, sebagai Direktur Utama PT LIB dan juga Wakil Ketua Umum PSSI sekaligus anggota EXCO PSSI. Dan otomatis batal jadi manajer Timnas U-20 yang disiapkan ke World Cup 2021. Ini mengingatkan kembali mBah Coco, ketika Edy Rahmayadi, diteror, ditekan dan dipaksa untuk memilih mengundurkan diri.

Bagi mBah Coco, “Bandit Kelas Teri’ EXCO PSSI tersebut, selain sudah melangggar statuta, juga sangat melecehkan rekan sejawat, sesama anggota EXCO PSSI. Jelek-jelek gini, terpilihnya Cucu Somantri, sebagai Direktur Utama PT LIB, bukan karena ambisinya. Bahkan, saat RUPS PT LIB di Bali, 23 Januari 2020, semua anggota EXCO, dan semua pemilik saham, 18 klub anggota Liga 1, setuju dan aklamasi.

Sejelek-jeleknya Cucu Somantri, dia itu mantan panglima. Tidak mungkin, sengaja mencederai dirinya sendiri, sebagai mantan Panglima Bukit Barisan (22 Februari 2017 sampai 9 Maret 2018). Bahkan, Cucu Somantri, masuk ke gerbong Iwan Bule, juga bukan kemauan Cucu Somantri.

Cucu Somantri, diajak Iwan Bule, awalnya sama-sama satu angkatan di Akmil 1984 (jaman itu belum dipisah Akmil dan Akpol, seperti saat ini). Sama-sama, pensiun di Lemhanas. Dan, pihak KSAD tidak memberi ijin siapa pun permintaan Iwan Bule, sebagai Komjen Pol saat itu untuk berpartner dari anggota angkatan darat.. Maka, pilihan terbaik Iwan Bule, hanya ada dalam diri Cucu Somantri.

Dari jejak menuju “Kursi Panas” PSSI, Iwan Bule tertatih-tatih, hanya berdua dengan Cucu Somantri, masuk ke sepak bola nasional, dan deklarasi untuk kampanye. Bahkan, keduanya sejak awal, tidak mengenal “Tikus Got” dan Bandit kelas Teri”, gerombolan Iwan Budianto dan kawan-kawan, yang kini menjadi EXCO PSSI.

Bahkan, saat Yunus Nusi, suka ngrumpi dan hanya berani di belakang Iwan Bule, saat adik iparnya Maaike Ira Puspita, sebagai Wakil Sekjen PSSI pun. Maka, Cucu Somantri, satu-satu anggota EXCO, yang benar-benar membela Iwan Bule. Sebentar lagi, felling mBah Coco, tinggal kenangan. Begitu parahnya mental Iwan Bule, membuang sahabatnya, dan lebih suka berteman dengan “Tigus Got” yang mengelola rumah judi dan para bandar suap.

Tapi, ketika kuping Iwan Bule sangat tipis, dan takut diberitakan yang jelek-jelek, maka walaupun hanya mendengar selentingan soal struktur organisasi PT LIB, dari Yunus Nusi, Haruna Sumitro, Yunianto Rachman dan Yoyok Sukawi, maka langsung percaya, apa yang diomongin “Bandit Kelas Teri”.

Dari hasil investigasi mBah Coco, struktur organisasi PT LIB belum dirapatkan, belum didiskusikan dan belum diputuskan. Ada tiga pola struktur yang ditawarkan tim kecil PT LIB. Salah satu pola yang ditawarkan, ada nama anaknya Cucu Somantri, yaitu Pradana Aditya Wicaksana, sebagai General Manager. Namun, pola ini, kan belum diketuk palu. Dan, belum dirapat dewan direksi dan komisaris. Dan, bisa digugurkan, sebelum dilaporkan ke PSSI.

Mengapa, Yunus Nusi, Haruna Sumitro, Yunianto Rachman dan Yoyok Sukawi, tidak mempermasalahkan, orangnya Iwan Bule, yang ada dalam struktur pola tersebut, yang bernama Setya Joko Santoso. Posisinya, sebagai Special Staff of President Director in Business. Dari hasil investigasi, Setya adalah inter-nya Iwan Bule, untuk memata-matai sepak terjang Cucu Somantri. Sepak bola kok pake intel…..bodeh banget….!

Mengapa semua anggota EXCO PSSI tidak menggugat, tiga direksi PT LIB, Sudjarno, Anthony dan Rudy Kangdra, yang seolah-olah punya kekuatan dibelakangnya, meruntuhkan sang pemimpinya? Ini konyol dan sangat memalukan. Artinya, ada tiga direksi dibawah Cucu Somantri, yang di bekingi orang-orang kuat, salah satunya rumah judi, yang dikelola Rudy Kangdra, sehingga berani melawan boss-nya.

Mengapa Yunus Nusi, Haruna Sumitro, Yunianto Rachman dan Yoyok Sukawi, tidak berontak dan menggugat Iwan Bule, saat adik iparnya, Maaike Ira Puspita, diloloskan sebagai Wakil Sekjen PSSI? Mengapa mereka “Bandit Kelas Teri” tidak berani melawan terang-terangan Iwan Bule?

Padahal, dalam statuta PSSI, Sekjen PSSI itu, Sekjen bisa sekadar diusulkan oleh Ketua Umum, tapi bukan hak preogratif sang ketum PSSI. Semua usulan diterima oleh 15 anggota EXCO, dan dirapatkan serta diputuskan oleh rapat EXCO, dengan cara voting. Tapi, mengapa tidak dilakukan voting? Pasti semuanya takut ya…..nyali nggak ade, tapi di belakang suka buat gaduh…ngrumpi dan gosip. Cemen banget karakternya…!

Ada yang paham aturan main dalam sebuah kebijakan organisasi. Contohnya, keluar dari Yunus Nusi, yang sekarang jadi plt Sekjen (emang dari sono, mau banget posisi itu, padahal bahasa Inggrisnya plegak-pleguk). Ketika, PT LIB memberi pengumuman subsidi, sebesar Rp 500 juta untuk Liga 1, dan Rp 250 juta tersebut, pihak badan sepak bola profesional itu, belum ada pengumuman dari Pemerintah, Menpora dan PSSI, hanya umumkan menunda jadwal kompetisi.

Bahkan, PT LIB sudah memberi subsidi Rp 250 juta, kepada enam klub. Sehingga, masih ada 18 klub anggota Liga 2, yang belum diberi subsidi. Alasannya, untuk membantu 6 klub, yang kesulitan membayar gaji pemain, dan juga tunggakan klub.

Namun, dari hasil kulik-kulik informasi, mBah Coco, akhirnya mendapat penjelasan yang benar. Setelah PSSI mengumumkan Liga 1 dan 2 dihentikan, sampai 29 Mei 2020, dalam keadaan “force majeure” bukan keadaan bencana alam, melainkan pandemi Covid-19. Maka, dari pihak sponsor pun, menghentikan kerjasamanya. Sponsor, hanya memberi termin pertama. Baca, PT LIB, baru dapat pembayaran termin pertama. Termin kedua, ketiga di stop para sponsor.

Dalam kondisi yang sudah berubah. Mosok, PT LIB tetap harus mengeluarkan subsidi seperti, sebelum diumumkan Covid-19? Trus, duwit dari mana, untuk nalangi defisit yang akhirnya dialami PT LIB? Musim 2017 dan 2018, PT LIB ngutang ke pihak ke-3, sebesar Rp 165 miliar, saat dipegang Glenn Sugita (pemilik Persib Bandung) dan Pieter Tanuri (pemilik Bali United). Beruntung Nirwan Bakrie, mau talangi semua hutang PT LIB.

Dari hasil rapat dewan direksi dan komisaris PT LIB, dengan anggaran yang masih tersisa, yaitu sekitar Rp 12 miliar. Akhirnya, subsidi para anggotanya, terpaksa dirubah aturannya. Bukan lagi, Rp 250 juta dan Rp 500 juta. Melainkan, 18 klub anggota liga 1, mendapat masing-masing Rp 350 juta, sedangkan Liga 2, masing-masing Rp 100 juta.

Apakah “Bandit Kelas Teri” paham dan tau. Bahwa, PT LIB saat rapat dewan direksi dan komisaris, sepakat sepakat dengan usulan Ferry Paulus, wakil klub Liga I, sebagai anggota komisasri LIB. Isinya, dengan dana yang cuman Rp 12 miliar, dibagi rata tidak sesuai dengan aturan sebelumnya.

Sisanya, sekitar Rp 4 miliar, untuk kebutuhan operasional PT LIB, Misalkan, sewa gedung, dan gaji karyawan sampai bulan Desember 2020, jika kompetisi tetap tidak bisa digelar, akibat Covid-19 belum ditemukan obatnya. Bagi-bagi jatah Liga 1 dan 2 itu, asli semua gagasan Perry Paulus (Persija Jakarta). Bukan, dari pribadi Cucu Somantri, bro !

Gagasan LIB soal bagi-bagi subsidi yang berkurang, pasti nggak ada yang tau. Lha maklumlah, rata-rata anggota EXCO PSSI blo’on-blo’on, mana ngerti kebijakan organisasi. Mana ngerti hasil rapat dewan direksi dan komisaris? Tapi nyrocor di medsos, seolah-olah ngerti semua. Mana ngerti informasi yang harus dipublikasi, atau mana informasi yang hanya untuk kalangan terbatas?

Soal, ada enam (6) anggota Liga 2, yang sudah terlanjur mendapat subsidi sebesar Rp 250 juta, seharusnya bisa diconversi ke musim berikutnya. Yaitu, sebagai subsidi klub Liga 2 yang yang sudah diambil lebih dulu, untuk musim berikutnya 2021, masing-masing Rp 150 juta. Artinya, musim depan, enam klub, subsidinya dikurangi Rp 150 juta. Mudah, kan….!

Sebelum Liga 1 dan 2 bergulir, PT LIB sebetulnya melanjutkan kontrak dengan sponsor utama dan beberapa pihak ke-2 lainnya, seperti Emtek (SCTV dan Indosiar). Total, jumlahnya, Rp 320 miliar. Atau nambah Rp 80 miliar, ketimbang musim 2019. Seharusnya, EXCO PSSI melihat pekerjaan dan prestasi Cucu Somantri. Makanya, jadi EXCO itu jangan beli suara, padahal tong kosong dalam sepak bola dan turunannya?

Dari hasil investigasi mBah Coco sebagai jurnalis abal-abal, ditemukan kontrak baru antara PT LIB dengan pemegang TV-right, yaitu pihak holding SCTV dan Indosiar, Elang Mahkota Teknologi – EMTEK. Jika nilai kontrak Liga 1 Indonesia 2019, sebesar Rp 150 miliar. Maka, musim 2020 ini, Cucu Sumantri mampu menyakinkan kepada EMTEK, agar nambah sebesar Rp 55 miliar. Totalnya Rp 202 miliar.

Entah ilmu apa yang digunakan Cucu Sumantri, mantan Pangdam Bukit Barisan 2017 ini. Nyatanya, bisa kembali menyakinkan brand name musim 2019, SHOPEE, dengan nilai Rp 90 miliar. Ternyata, kembali dirayu Cucu Sumantri, menjadi Rp 115 milir, untuk musim 2020 ini. Trus, ujug-ujug, semuanya berhenti, akibat Covid-19. Maka, semua klausal kontrak, juga pasti berubah. Dalam kontrak, selalu ada pembayaran termin pertama, kedua dan ketiga. Itu standart. Taukah EXCO PSSI?

Seharusnya, para “Bandit Kelas Teri” ini, bicara dan panggil Cucu Somantri, tentunya lewat Iwan Bule. Mana berani Yunus Nusi, Haruna Sumitro, Rachman Yuniianto dan Yoyok Sukawi memanggil Cucu Somantri, kalau tidak punya “bekingan”?

Sama dengan tiga direksi abal-abal PT LIB, yaitu Direktur Operasional, Sudjarno, Direktur Keuangan, Anthony Chandra Kartawiria, dan Direktur Bisnis, Rudy Kangdra, kok berani-beraninya melawan bos-nya? Kalau nggak ada bekingan”, dijamin mBah Coco, Sudjarno, Anthony dan pemilik rumah judi, Rudy Kangdra, tidak punya nyali dan berani melawan Dirutnya.

Lalu, siapa yang membuat nyali “Bandit Kelas Teri” EXCO PSSI dan tiga direksi abal-abal PT LIB, hingga mencuat ke media, televisi dan medsos? Kalau bukan cukong atau pangkatnya lebih tinggi dari mereka. Maka bisa dipastikan, mereka-mereka ini, cemen nyalinya, bro !!!

Masih ingat, saat di Semarang, saat ketemu para pentolan stakeholder sepak bola Jawa Tengah, 6 Juli 2019, Iwan Bule kampanye dengan gagah berani, sekaligus percaya diri, jenderal yang punya jabatan, sebagai Sekretaris Utama Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) itu, berjanji, akan siapkan subsidi setiap klub anggota Liga 1 sebesar Rp 15 miliar, Liga 2 sebesar Rp 5 miliar, dan anggota Liga 3 nilainya Rp 1 miliar.

Angka-angka itu sangat fantatis, dan terbiasa diucapkan oleh orang-orang yang sedang berambisi meraih jabatan, dan selalu disebutkan dalam kampanye-kampanyenya. Biasanya, saat nanti terpilih. Akan lupa dan melupakan janji-janjinya. Standart manusia bangsa Melayu….jaman edan !

Nyatanya, kampanye Iwan Bule “bodong’, tidak terbukti, ngomong doang. Mana berani EXCO PSSI menggugat janji-janji omong kosong Iwan Bule?

Tapi, seperti “nasi sudah menjadi bubur”, dan RUPS Luar Biasa PT LIB, juga dikehendaki Iwan Bule, yang kebetulan sahabat Cucu Somanti. Ibarat “jeruk makan jeruk” ini, bisa memperkuruh dua angkatan, yaitu Tentara vs Polisi. Bagi mBah Coco, tentara untuk kesekian kalinya dilecehkan oleh polisi. Ini bahaya, dalam politik sepak bola.

Oleh sebab itu, saran mBah Coco, sebelum RUPS Luar Biasa, 18 Mei 2020, lebih legowo dan lebih jantan, sebagai mantan panglima, Mayjen TNI (Purn) Cucu Somantri, mendingan membuat surat pengunduran diri, sebagai Direktur Utama PT LIB, sekaligus anggota EXCO PSSI periode 2019 – 2023. Dan, otomatis, juga mundur dari manajer tim nasional FIFA U-20 World Cup 2021.

Pasalnya, jika Cucu Somantri dipaksa mundur dari Dirut PT LIB, di mana oragnisasinya belum terbentuk (tapi seolah-olah sudah diputuskan) oleh rapat direksi dan komisaris PT LIB. Bahkan, Iwan Bule, belum pernah mendapatkan dan membaca, bunyi kertas-kertas, struktur organisasi PT LIB, yang diputuskan dalam rapat direksi dan komisaris. Namun, sudah percaya kepada isu-isu dan gosip.

Maka versi mBah Coco, ngapain Cucu Somantri, dipaksa leyeh-leyeh tetap sebagai anggota EXCO PSSI, dicopot paksa jabatan Dirut LIB, tapi harga dirinya dipermalukan. Sekali lagi, sejelek-jeleknya Cucu Somantri, doi mantan panglima di dunia militer. Pasti brontak dan mundur? (Penulis adalah wartawan senior peliput sepakbola dan mengklaim sebagai Pemred Facebook).

TINGGALKAN KOMENTAR