.
SEA Games 1991 di Manila, Filipina menyimpan kenangan indah dan manis bagi timnas sepakbola Indonesia. Betapa tidak, di pesta olahraga terbesar di kawasan Asia Tenggara yang ke-16 itu untuk kedua kalinya merebut medali emas setelah tahun 1987 di Jakarta.

Medali emas sepakbola di ajang SEA Games 29 tahun lalu itu cukup dramatis, timnas Indonesia mengalahkan tim kuat Thailand 4-2 melalui drama adu pinalti.Saya kebetulan bertugas sebagai reporter live Coverage dan menyaksikan betapa hebatnya perjuangan Robby Darwis dan kawan-kawan dalam 120 menit menahan Thailand yg sangat berambisi untuk meraih medali emas keempat kalinya.

Ada dua sosok penting dibalik sukses medali emas sepakbola di SEA Games 1991 itu yakni Anatoly Polosin sebagai pelatih dan IGK Manila yang menjadi manajer tim. Keduanya boleh disebut sebagai arsitek dengan tak mengabaikan peran yang lainnya seperti dua asisten Polosin yakni Urin juga dari Rusia dan Danurwindo.

Dan momentum emas itu kini bagaikan barang langka karena sampai SEA Games terakhir 2019 di Filipina, timnas sepakbola Indonesia kembali dengan kegagalan. Timnas U-23 yang diterjunkan di SEA Games tahun lalu itu harus puas dengan medali perak setelah dikalahkan Vietnam dalam laga akhir.

=Apa dan Mengapa?=
Saya mencoba untuk menelaah dari berbagai sisi. Perubahan yang signifikan terjadi dalam cara maupun ambisi bagi pengelolan sepak bola diIndonesia. Timbul Adagium di masyarakat bahwa hanya di Indonesia pengurus sepakbola lebih terkenal dari pemain, .kok bisa?

Di berbagai negara pemain sepak mendapat tempat yang super prima untuk dibicarakan. Negara-negara tetangga berusaha maksimal untuk promosi pemain di klub-klub besar yang nanti berguna ketika harus dipanggil membela negara.

Semua berita sepak bola luar negeri khusus di Asia adalah seputar perkembangan pemain, kebijakan asosiasi sepak bola setempat untuk menantang masa yang akan datang.

Bagaimana PSSI ?

Lagu lama tak selesai dinyanyikan. malah diulang ulang. Disaat harus berjuang untuk keluar dari keterpurukan prestasi, PSSI masih berkutat dengan kepentingan pengurus secara individu dalam organisasi.

Urusan kepentingan berlabel nasional pada hal kepentingan yang tak jelas. Dari mulai urusan Sekjen sampai urusan PT Liga Indonesia baru maupun lama dan lapuk semua menjadi prioritas..

Lalu kapan Ketua umum dan perangkatnya bekerja untuk membangun kesebelasan yang tangguh ?.

Apakah kepengurusan PSSI di bawa kepemimpinan Mohamad Iriawan alias Iwan Bule memiliki niat membangun sepakbola Indonesia atau hanya mencari peluang untuk kepentingan sendiri.

Bagaimana mengukur kepedulian mereka terhadap sepakbola Indonesia. Dari mana jalan sehingga mereka bisa bercokol di sana ? Pertanyaan–pertanyaan seperti ini wajar mengemuka karena sejatinya potensi sepakbola Indonesia menuju pentas dunia, tak hanya sekedar medali emas SEA Games snagat terbuka. Asalkan organisasinya dikelola secara profesional dengan komitmen tinggi.

Kalau bisa dan perlu, Seksi Wartawan Olahraga (Siwo PWI) melakukan dialog terbuka dengan pengurus PSSI terutama EXCO untuk mencari di mana posisi negatif dan positif mereka yang berperan di kepengurusan.

Sepak Bola bukan milik sekelompok orang di organisasi PSSI tapi milik rakyat termasuk wartawan sebagai mitra dalam hal kontrol sosial. Wartawan Olahraga juga bertanggung jawab secara moral kepada masyarakat.

Peran Siwo PWI ini sangat diharapkan untuk mencerdaskan bangsa dalam membaca situasi sepakbola Indonesia yang sebenar benarnya. Siapa-siapa itu EXCO, apa peran positif dan negatif nya ?.

Apa itu kemelut dalam tubuh PT LIB terkait erat dengan adanya dorna di sana ? Rakyat perlu tahu makanya saya yang pernah menjadi bagian dari Siwo PWI mengajak kawan-kawan jurnalis olahraga khususnya masih aktif meliput sepakbola mewujudkan adanya dialog terbuka dengan semua stake holder sepakbola Indonesia terlebih PSSI. (Penulis adalah mantan wartawan/reporter/presenter olahraga TVRI, Media/Humas KONI Pusat era Ketua Umum Wismoyo Arismunandar, Anggota DPR-RI periode 2004-2014.

TINGGALKAN KOMENTAR