“Panglima Perang yang hebat tidak akan memerintahkan pasukannya bertempur di medan laga, tetapi akan bersama pasukannya dalam setiap pertempuran” (Moshe Dayan). Filosofi ini tidak hanya berlaku bagi pasukan bersenjata tapi juga sangat relevan bagi Olahraga.

Saya mendapat kesempatan dari TVRI untuk meliput FIFA World Cup ke 16 yang berlangsung sebulan penuh 10 Juni hingga 10 Juli 1998 di Prancis. Dan saya bertugas meliput laga tuan rumah Prancis melawan Afrika SelatanFdi Stade de franc,  stadion terbesar di kota Paris .

Keduanya tim ini bercokol di group C bersama Denmark dan Arab saudi. Stadion dipenuhi penonton yang 80 persen warga Prancis. Dapat dimaklumi karen itu adalah pertandingan pertama bagi keseblasan Prancis di group C.

Beberapa Kepala Negara yang diundang terlihat duduk di VVIP. Presiden FIFA, Josef Blater mendampingi Presiden Prancis Jacques Chiraq. Yang mengherankan tidak terlihat Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, di VVIP..

Ternyata Presiden Nelson Mandela berada di tengah tengah suporter Afsel. Beliau terlihat berdiri bergoyang mengikuti irama musik yang dinyanyikan Sporter Afrika Selatan..
Seharusnya sebagai seorang Presiden, Mandela ada di VVIP seperti Presiden FIFA dengan  Presiden Prancis..

Tapi dia memilih berada bersama “Pasukan” Sporter mendukung keseblasan negaranya.Biarpun akhirnya Afrika Selatan kalah, namun ada makna penting yang bisa diambil dari peran seorang pemimpin yang ikut berperang di tengah rakyatnya.

Point saya dalam kisah di atas adalah bagaimana Olahraga dianggap sangat penting oleh Negara sebagai Ujung Tombak Promosi Bangsa dan Negara di forum Olahraga Dunia.
Ketika menjabat sebagai Presiden Africa Selatan, Mandela mencanangkan bahwa hanya Olahraga yang bisa membuat dunia mengenal lebih dekat Afrika Selatan.

Pengetahuan dan kecintaannya pada Olahraga membuat Mandela mempriortaskan cabang Sepak Bola dan Atletik nomor lari jarak jauh dan menengah. Biarpun hanya 5 tahun menjadi Presiden tapi penerima hadiah Nobel ini dicatat sebagai pembuat reformasi di segala bidang termasuk olahraga. Dan hingga piala dunia 2018 di Rusia Afrika Selatan tidak pernah absen.

Saya sempat berbincang akrab dengan Menteri Olahraga Africa Selatan yang kebetulan sama-sama satu hotel dan itu terjadi beberapa kali sambil makan pagi.Dari sumber inilah saya ketahui bagaimana perhatian besar pemerintah Mandela terhadap Olahraga khususnya Sepakbola.

Afrika Selatan yang kemudian menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 sungguh tak lepas dari peran besar seorang Nelson Mandela. Meski sudah tak menjadi Presiden, Mandela disebuat-sebut sebagai aktor yang membidani suksesnya Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Bagaimana dengan PSSI ?

Sepertinya Negara harus turun tangan membenahi aset yang satu in, sehingga tidak menjadi lahan rebutan kelompok-kelompok tertentu dengan mengorbankan prestasi yang menjadi kebanggan rakyat.

Pemerintah supaya tidak berpangku tangan melihat jatuh bangun PSSI dan membiarkan bangun sendiri dari keterpurukkannya. Indikasi lain adalah pemerintah dalam hal ini Menpora seperti tidak terlalu faham akan seluk beluk olahraga termasuk sepakbola.

Dalam perjalanannya olahraga kurang berhasil ditangani dibanding dengan sektor kepemudaan yang menjadi lahan politik. Inilah faktor-faktor yang harus dipikirkan. Bagaimana memilih seorang pemimpin di kementerian Olahraga yang berbassc olahraga biarpun tidak harus olahragawan.

Mungkin Ketua Siwo akan sangat berpotensi karen menekuni perkembangan olahraga setiap hari. Disaat berlakunya PSBB seperti sekarang akibat Covid-19, seyogianya mereka yang di posisi pengambil keputusan merenung terhadap apa yang terjadi selama ini. Apakah harus bangkit untuk berbuat yang terbaik atau terlena dalam keterpurukan yang berkepanjangan ?.

Mari bangkit menata masa depan olahraga Indonesia lebih khusus sepakbola, cabang olahraga sangat digandrungi masyarakat dunia termasuk Indonesia. Rakyat menunggu prestasi.

If You always boast the past, You lose the future. Jika anda selalu bicara masa lalu maka siap-siap untuk kehilangan masa depan. (Mark Twain, Jurnalist/Novelis Amerika
1835 -1910). (Bersambung, Penulis adalah mantan wartawan/reporter/presenter olahraga TVRI, Media/Humas KONI Pusat era Ketua Umum Wismoyo Arismunandar, anggota DPR-RI periode 2004-2014).

TINGGALKAN KOMENTAR