Mundurnya Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Cucu Somantri, dalam Rapat Usaha Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa, Senin 18 Mei 2020, bukan berarti borok-boroknya PT LIB selesai. Karena, dari hasil investigasi mBah Coco, bukan Cucu Somantri yang jadi biang keroknya. Melainkan, direksi-direksi PT LIB, yang maling dan korupsi.

Dan, sejak sebulan terakhir inilah, seorang yang paling tinggi jabatannya, dalam lembaga berbisnis, justru digoyang para direkturnya, khususnya oleh Rudy Kangdra, sebagai Direktur Bisnis PT LIB. Operator kompetisi Liga 1 dan 2, dibawah badan usaha PSSI ini, sepertinya masih dihuni-huni “Tikus Kelapa” yang di back-up langsung oleh Iwan Bule, sebagai Ketua Umum PSSI, periode 2019 – 2023.

Sejak, Komjen Pol (Purn) Mochammad Iriawan, yang terkenal dipanggil Iwan Bule ini, sosok Rudy Kangdra, selalu menempel ketat, Iwan Bule saat kampanye dari kota ke kota. Mungkin saja, saat itu, Rudy Kangdra yang kepalanya pitak itu, sudah ikutan mengeluarkan dana, selama Iwan Bule kampanye, dan seolah-olah hebat, sekaligus berjanji, siap gelontorkan subsidi Rp 15 miliar, setiap anggota Liga 1, Rp 5 miliar anggota Liga 2, dan Rp 1 miliar anggota Liga 3 Nasional.

Tapi, setelah RUPS di Bali, 23 Januari 2020, dari analisis mBah Coco, saat PT LIB masih seumur jagung, sejak menggeser posisi Dirk Soplanit, sebagai Dirut LIB, selama satu tahun, setelah Berlian Siahaan mundur dari dirut. Maka, borok-borok itu muncul sendirian, bertubi-tubi. Bahkan, seolah-olah LIB itu, milik keluarga Rudy Kangdra, orangnya Hary Tanoesoedibyo, di MNCTV Group.

Ada “dosa” Rudy Kangdra, sejak bercokol di PT LIB, sebagai Direktur Bisnis. Pertama, saat EMTEK – holdingnya SCTV dan Indosiar, digoyang dari dalam tubuh LIB, agar bisa berpindah ke MNCTV Group. Jika EMTEK hanya menggelorkan Tv-right sebesar Rp 205 miliar (musim 2019, dari Rp 190 miliar). Maka, Rudy Kangdra nge-gaspol, bahwa MNCTV Group, siap dan mampu dengan angka Rp 250 miliar, per musim.

Edisi berita, tanggal 20 Mei 2020 di JawaPos.Com, berjudul “Cucu Somantri Mundur Dari LIB, Karena Tidak Mau Diajak Mencuri”, bagi mBah Coco, adalah berita yang benar. Tapi, yang salah itu, ketika dalam isi beritanya, MNCTV Group manawar Rp 250, untuk membeli Tv-right itu yang benar-benar konyol, dan merusak etik bisnis.

Rudy Kangdra, sebagai kaki-tangan yang sengaja diceplungi Hary Tanoe, Ketua Umum PERINDO dan pemilik MNCTV Group, serta di back-up Iwan Bule itu, versi mBah Coco, benar-benar seperti preman, dan tidak paham etika berbisnis. Mana, mungkin PT LIB sebagai lembaga yang dipercaya EMTEK, ujug-ujug memutus hubungan bisnis. Padahal, dalam kerjasamanya, tidak ada cacat sedikit pun?

Kalau hanya, main gede-gedean, nilai kontraknya, dalam etika bisnis. Maka, menurut Mabh Coco, pihak pertama yang sudah menjalin kerjasama, selalu diprioritaskan. Dan, tidak boleh digagalkan di tengah jalan, walaupun di luar EMTEK, ada 100 tivi yang siap ambil alih, ikut “picing” termasuk MNCTV Group. Maka, posisi EMTEK, selalu aman, dan sulit digugat. Rudy Kangdra, yang blo’on permanen itu.

Nggak mungkin batal Tv-right, antara EMTEK dengan PT LIB, hanya gara-gara Rudy Kangdra? Sejak awal hak siar Liga 1 dan 2 itu, milik EMTEK. Apalagi, Rudy Kangdra, tidak jeli menilai EMTEK, yang sejatinya, juga membawa sponsor utamanya, SHOPEE, sebesar Rp 115 miliar.

Setelah Rudy Kangdra yang blo’on permanen itu, gagal menjadi “koncian” MNCTV Group, untuk ambil Tv-right. Maka, masih mencoba untuk masukin kontrak baru, yang bekerjasama dengan PT LIB. Yaitu, untuk Tv-right khusus Tivi-Kabel. Dan, MNCVision (dulu Indovision), yang masih punya Hari Tanoe, dengan nilai Rp 45 miliar.

Investigasi mBah Coco, ternyata kerjasama LIB dan MNCVision itu, hanya dilakukan oleh Rudy Kangdra, sebagai Direktur Bisnis, tanpa ditandatangani Direktur Utama, Cucu Somantri. Ini konyol, dan jelas-jelas kriminal. Bahkan, dari nilai kontrak Rp 45 miliar itu, yang disetorkan ke LIB, hanya Rp 20 miliar. Busyet dagh…si “Kadal Gurun” ini.

Pertanyaan mBah Coco, kemana uang Rp 25 miliar? Ternyata, sampai hari ini, diam-diam, uang yang ditelep sebesar Rp 25 miliar, pelan-pelan di transfer ke rekening pribadi. Itu pun, ditransfernya “saketek-saketek”. Pantek wa’ang. Kamu ketahuan……ye….dasar “Tikus Kepala” !!!

Ada peristiwa selama LIB baru seumur jagung, sejak 23 Januari 20020 ini. Saat, Telkom sudah sudah siap bekerjasama dengan PT LIB, untuk Liga 1 dan 2 Indonesia 2020, sebesar Rp 35 miliar. Diam-diam, sudah mau dirampok Rudy Kangdra. Beruntung, ada informasi dari Hasasi Hasani Abdulgani, salah satu anggota komisaris PT LIB, melaporkan cepet-cepet ke Erick Thohir, sebagai Menteri BUMN.

Maka, instruksi Erick Thohir hanya satu. Silahkan Telkom kerjasama dengan PT LIB, tapi jangan sekali-kali lewat Rudy Kangdra. Dan, langsung saja, jika masih mau bekerjasama, Telkom harus berhubungan langsung Direktur Utama, Mayjen TNI (Purn) Cucu Somantri. Nggak boleh dengan Rudy Kangdra. Modarrrrr kowe…nggeng !!!.

Mengapa Rudy Kangdra, begitu berani melakukan hal-hal yang kotor dan merugikan PT LIB? Jawabnya, pasti di back-up Iwan Bule, dan juga Hary Tanoe. Contohnya, Iwan Bule, sudah mengajak Rudy Kangdra sejak kampanye Kongres PSSI, bulan Juli 2019. Contohnya lagi, Hary Tanoe, menganggap Rudy Kangdra, pegang usaha dekoder tivi kabel MNCTV Group, dan juga punya rumah judi. Busyet..dagh !!!

Ada satu nama lagi, dibawah Cucu Somantri, jabatannya Direktur Keuangan, Anthony Chandra Kartawiria. Sosok satu direksi LIB musim 2020 ini, jika terlihat jejak bobroknya. Juga, masih menyimpan kasus di Kejaksaan Agung, bareng bos-nya juga, Hari Tanoesoedibyo.

Anthony ditunjuk sebagai Direktur keuangan PT LIB, saat RUPS di Bali. Di mana, sebelumnya sebagai Rirektur Keuangan PT MNC Vison Netwaorks (MVN), perusahaan milik Hary Tanoe, sejak Juni 2016 hingga Februari 2020. Saat November 2016, Anthony terseret masalah hukum, sebagai Direktur First Media. Kejaksaan

Sejak RUPS Luar Biasa PT LIB, tercatat yang tidak mundur, Cucu Somantri, sebagai Direktur Utama, Hasani Abdulgani (anggota komisaris), Sonhaji (komisaris utama), dan komisaris independen, Hakim Putratama. Sedangkan, yang masih bertahan, satu anggota komisaris, perwakilan klub, adalah Ferry Paulus (Persija Jakarta).

Versi mBah Coco, Ferry Paulus ini, adalah playmaker paling tajam, selama Kongres PSSI, 2 November 2019 lalu, sebagai juru kasir, untuk 89 anggota pemilik suara (voters). Dan, versi mBah Coco, itu bukan uang milik Ferry Paulus.

Ferry Paulus, adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan, dari lima orang anggota EXCO PSSI periode 2019 – 2023, yaitu Iwan Budianto (wakil ketua umum), dan empat anggotanya, Pieter Tanuri (Bali United), Haruna Sumitro (Madura United), Yoyok Sukawi (PSIS Semarang, dan Dirk Soplanit (dari Asprov Maluku).

Sedangkan, Yuni Rachman dan Yunus Nusi, sampai hari ini, sedang “cari muka” ke Iwan Bule, dan mencoba merayu bergabung dalam “kartel” Iwan Budianto dkk. Namun, dari analisis mbah Coco, keduanya, sepertinya dicuekin kedua kubu. Apalagi, Yuni Rachmat, pernah tersandung kasus. Walaupun, Iwan Budianto dan Haruna Sumitro, juga ditarget Satgas AntiMafia Bola.

Namun, menurut Neta S Pane, Presidium Indonesia Police Watch (IPW), jika Iwan Bule, melindungi semua para “Tikus Kelapa” di LIB, dan juga secara terang-terangan melindungi, anggota EXCO PSSI, yang doyan mengatur pertandingan, “Saran saya, Satgas AntiMafia Bola Jilid 3, jangan sungkan-sungkan, tangkap saja Iwan Bule,” tegasnya.

Menurut Neta S Pane, saat ini, pasti Jokowi sedang memantau perkembangan sepak bola Indonesia, yang masih seumur jagung. Kepentingan Jokowi, karena tahun 2021, Indonesia punya hajatan raksasa, sebagai tuan rumah FIFA U-20 World Cup 2021, bagi 23 negara elit sepak bola dunia.

“Jokowi, pasti tidak ingin kehilangan muka, jika tahun depan nggak bisa sukses, dan tidak maksimal, gara-gara Iwan Bule tidak becus ngurus PSSI,” lanjutnya.TOR-06

 

TINGGALKAN KOMENTAR