Tidak terasa, setahun lebih saya dan rekan Matt Bento jadi warga ‘kandang ayam’, Rawamangun. Kantor Gilbol Indonesia ini identik dengan sepakbola; di setiap sudut ruangan bercerita tentang si kulit bundar. Ada buku-buku dan majalah, poster, foto-foto indah yang semua itu menegaskan jika penghuninya sangat berpihak pada olahraga rakyat kebanyakan.Gambar mungkin berisi: 2 orang, termasuk Yon Moeis, teks

Atmosfer yang dibangun adalah sportifitas penuh kegembiraan, namun tak menyembunyikan kegelisahan untuk banyak hal. Saya merasakan aura kegelisahan itu, tidak hanya dari benda-benda imajinatif di setiap sudut, tetapi juga pada gagasan dan pemikiran dua wartawan senior Erwiyantoro atau Toro — eksis sebagai Cocomeo Cacamarica — dan Yon Moeis, sebagai pimpinan Kartel Kandang Ayam.

Kegelisahan mereka pada sepakbola tak hanya terbaca di setiap artikel yang kerap membuat jantung mendesir ngilu membacanya. Juga, bukan sekadar obrolan di ruang tamu yang sepenuhnya ‘dikuasai’ penyanyi Bob Marley.

Kemarin, Sabtu 11 Juli 2020 saya menjadi saksi kegelisahan mereka berupa perayaan cinta bertajuk “Reuni Legenda Mantan Timnas Sepakbola era 1970an sampai 2000an”.

Sebagai ‘warga binaan’ Kandang Ayam, saya percaya keresahan atau gelisah keduanya bukan jenis ‘kaleng-kaleng’ kosong yang rame dan penyok ketika ditendang.

Mereka nyatanya menerobos ruang sempit keterbatasan dengan caranya yang elegan, sehingga lebih dari 100 mantan pemain Timnas ‘manut’ saja diajak reunian sambil bertanding.

Acara itu sukses, bahkan menjadi peristiwa terbesar pertama di dunia sepakbola tanah air. Para tokoh dan legenda yang saya ajak ngobrol untuk YouTube, tak sungkan memuji acara bertajuk “Football is Back” itu.

“Saya heran, kenapa acara sedahsyat ini digerakkan justru oleh wartawan, bukan oleh federasi sepakbola nasional seperti PSSI?” kata Rocky Putiray.

Ungkapan senada disampaikan Farrell Raymond Hattu, Risdianto, Jaya Hartono, Bambang Sucipto, Ajat Sudrajat, Wayan Diane, dan banyak lainnya yang hadir.

Menurut Farrell, kapten Timnas SEA Games 1991, sudah 30 tahun sepakbola Indonesia mandeg tak berprestasi di luar negeri.

“Potensi bola Indonesia sangat besar tapi tidak pernah maju, karena ada persoalan yang jadi PR kita bersama,” kata Farrell yang tak ingin membahas lagi soal PSSI. “Kita harus sudahi yang kemarin-kemarin itu, dan sebaiknya menatap ke depan agar sepakbola lebih maju,” katanya.

Reuni Legenda Mantan Timnas ini sangat spektakuler ketika manajemen sepakbola nasional terasa amburadul. Pasalnya, undangan yang semula dibatasi 200 orang, melonjak jadi 450 orang.

Ah, saya jadi sotoy soal sepakbola. Tapi masih banyak obrolan, perkisahan, diskusi sampai nyinyiran soal sepakbola yang akan saya dengar di markas para aktivis ini. Saya merasa beruntung di orbit yang tepat; belajar langsung pada ahlinya. Selamat buat mBah Coco, Uda YM dan para legenda sepakbola untuk pencapaiannya. Bravo buat warga Kandang Ayam!!(Dicopas Dari Akun FB Teguh Imam Suryadi)#footballisback #reunilegendatimnas

TINGGALKAN KOMENTAR