Sudah terlalu lama, sistem pembinaan sepakbola nasional Indonesia, tidak melahirkan tim nasional Indonesia yang kuat, berprestasi dan mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia. mBah Coco, menawarkan gagasan yang jika diaktualisasikan, memiliki peluang yang besar, dalam menerobos sistem yang ‘mandek’ dan ‘jalan di tempat’, dalam mencetak tim nasional yang kokoh, berwibawa dan ditakuti.

Jika merunut banyak tim nasional yang lebih memprioritaskan pemain yang berlebel ‘naturalisasi’. Maka, sepak bola Indonesia memberanikan juga memulai membangun tim nasional, dengan menemukan bakat-bakat terpendam yang justru kini banyak bermain di kompetisi liga-liga daratan Eropa, khususnya Belanda.

mBah Coco, sebagai pengggagas awal 2009, mencoba utak-atik dan merisk. Jika Indonesia ingin mencetak pemain, tidak harus mencontoh seperti Perancis, yang nyaris 100 persen mendapatkan pemain nasional dari para pemain Afrika. Karena, banyak negara Afrika punya keterikatan politik di jaman penjajahan Perancis.

mBah Coco, tidak tertarik mencontoh Singapura, 10 tahun lalu, merekrut pemain yang tidak memiliki ikatan apapun dengan sosial, budaya, politik dan ekonominya dengan Singapura.

mBah Coco beruntung, bisa menemukan bakat-bakat pemain sepak bola yang memiliki talenta, dan sudah mengikuti semua konsep pembinaan sepak bola gaya Eropa, yaitu berbakat, berdisiplin, memiliki karakter, serta memiliki wawasan spikologis sebagai pemain profesional.

Keuntungan sepakbola Indonesia, mereka-mereka memiliki keterikatan darah dan keluarga dengan suadara-saudara kita di Tanah Air .Dan, mereka kini banyak merumput di Eropa, khususnya Belanda. Walupun, juga ada yang kini bermain di Skotlandia, Italia, Jerman dan Australia.

Dari gagasan misi dan visi seperti di atas inilah, mBah Coco, memberanikan untuk bekerja dan meriset, sekaligus bernegosiasi dengan pemain-pemain yang kini sudah kami temukan datanya, agar para pemain yang terpilih memiliki komitmen, loyal dan tertarik masuk dalam jajaran skuad tim nasional di kemudian hari.

Januari 2009, ada taktik dan strategi, yang akan dicoba mBah Coco, memformulasikan, kepada para pengambil keputusan di jajaran sepak bola nasional, yang berada di kepengurusan PSSI.

Tujuan utamanya hanya satu, naturalisasi itu, hanya program jangka pendek. Karena, jika dijadikan program jangka panjang. Maka, mimpi anak-anak di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, akan terhambat menjadi pemain sepak bola, dan pemain nasional Indonesia, di kemudian hari.

Mudah-mudahan, konsep, gagasan dan cara-cara, untuk bisa menaklukkan para pemain-pemain yang tertarik dan berminat masuk skuad tim nasional Indonesia, bisa direalisasikan secepatnya dalam waktu dekat ini.

mBah Coco, merancang, agar ide menaturalisasi pemain dari Belanda, bisa dieksekusi oleh PSSI. Oleh sebab itu, seolah-olah mencoba mendesain dan membuat time-schedule.

RISET – Januari 2009
1. Riset semua pemain, foto, dokumen di internet
2. Riset organisasi klub pemain di internet
3. Menyiapkan semua formulir secara tertulis untuk pemain
4. Menyiapkan formulir kompensasi untuk setiap pemain
5. Menyiapkan dokumentasi pertandingan tim nasional Indonesia di level internasional
6. Menyiapkan souvenir tentang sepak bola Indonesia untuk para pemain yang disiapkan untuk direkrut

PROGRAM
1. Mempersiapkan semua tim yang berangkat sebagai Tim Belanda
2. Mempersiapkan semua paspor Tim Belanda
3. Mempercepat proses mengurusan semua visa Tim Belanda
4. Membuat taktik-strategi agar sebanyak mungkin tertarik masuk TimNas Indonesia
5. Merancang anggaran tranportasi, akomodasi dan acara Tim Belanda
6. Merancang lokasi setiap pemain agar Tim Belanda mendapatkan homebase ideal
7. Mempersiapkan sebuah cerita (stok film) bahwa Tim Belanda sudah mendapatkan pemain yang diinginkan
8. Merancang konsep (stok film) sebagai dokumentasi untuk kampanye Ketum PSSI
9. Merancang buku kampanye yang isinya, semua pemain yang berkompetisi di daratan Eropa, bersedia lahir-batin sebagai pemain nasional Indonesia di masa depan
10. Merancang Munaslub PSSI secepatnya, setelah semua program dari Tim Belanda siap diluncurkan

TIM BELANDA
1. Membuat dua tim yang efektif agar semuanya sesuai skenario, mengingat waktunya terbatas (skenario dokumentasi, surat, kumpulan gambar fim dan foto)
2. Tim A terdiri dari cameramen, reporter, sutradara, penghubung dan penterjemah
3. Tim B terdiri dari fotografer, reporter
4. Tim Leader (bisa ditunjuk).mBah Cocomeo/TOR-06

TINGGALKAN KOMENTAR