Sejak dilantik sebagai orang nomor satu di PSSI, Komjen Pol (Purn) Mochamad Iriawan, yang lebih dikenal dipanggil Iwan Bule, di Kongres PSSI, 2 November 2019, menurut versi mBah Coco, terkesan melecehkan Presiden Jokowi, dan Menpora Zainuddin Amali. Soal apa? Ya soal Inpres No 3, yang ditandatangani Jokowi, 25 Januari 2019.

Isi dari Inpres No 3, adalah Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional. Bagi mBah Coco, Inpres No 3 ini, satu-satunya olahraga yang paling mendapat perhatian sangat istimewa dari Kepala Negara. Ibarat disuruh mancing. PSSI itu, sudah dibekali KAIL dan UMPAN. Jadi mau mancing di mana saja, pasti dapat hasilnya.

Jokowi, yang dianggap tidak paham sepak bola. Ternyata, membawa berkah bagi persepakbolaan nasional. Bahkan, ada 14 lembaga kementrian, hingga semua pejabat daerah, gubernur, walikota dan bupati, wajib memuluskan jalannya Inpres No 3 tersebut.

Tanggal 16 Desember 2019, saat gerombolan kartel baru Iwan Bule, menghadap Jokowi, bicara soal Inpres No 3. Bahkan, sehari setelah dilantik, tanggal 3 Desember 2019, Iwan Bule menghadapi Zainuddin Amali, untuk priortitaskan Inpres No 3.

Seharusnya, seharusnya Iwan Bule, bisa dilengserkan, karena sampai hari ini, belum menyentuh Inpres No 3.

Ada banyak japri ke mBah Coco. Kata-katanya begini, Biarkan Iwan Bule bekerja, jangan diganggu. Ada kata-kata lainnya, Iwan Bule belum bekerja, tak bisa dikritik. Iwan Bule dipastikan serius membangun sepak bola nasional. Makanya, biarkan PSSI bekerja keras mewujudkannya.

Bagi mBah Coco, japri-japri itu terkesan, bahwa yang mengirim pesan tersebut adalah gank-nya Iwan Bule. Pertanyaannya, mengapa Cucu Somantri, sebagai Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), yang belum bekerja, dan belum tahu hasilnya, sudah dipaksa mengundurkan diri, oleh gank kartel-nya Iwan Bule? Lewat gosip-gosip murahan dari Rudy Kangdra, Direktur Bisnis PT LIB.

Sore ini, mBah Coco, mencoba berdamai dalam tulisan artikel saat ini. Agar Iwan Bule, nggak sewot melulu, setiap ditulis.

Minggu lalu, Iwan Bule, dibully pencinta sepakbola nasional. Saat, salah mengucapkan, bahwa dirinya menunjuk dirinya sendiri, sebagai Manajer Tim Nasional U-20, yang disiapkan ke FIFA U-20 World Cup 2021. Mungkin, saking emosinya, dianggap nggak paham bola. Ujug-ujug terucap menjadi manajer. Dan, kemudian dirubah, sebagai penanggungjawab Tim Nas. Itu pun, masih dianggap salah.

Saran mBah Coco, daripada Iwan Bule, mau menunjuk dirinya sebagai manajer Tim Nasional Indonesia. Lebih bagus, memikirkan, bagaimana menjadi seorang manajer di organisasi. Iwan Bule 100% tidak paham filosofi sepak bola. Sama dengan ketum-ketum sebelumnya, misalkan Kardono,. Azwar Anas atau Agum Gumelar. Namun, sebagai seorang yang ahli di bidang manajemen, bisa terlihat hasilnya. Yaitu, prestasi tim nasional menonjol.

PSSI itu ibarat “Miniatur Indonesia”. Presiden PSSI itu, sama dengan Presiden Republik Indonesia. Sayang sangat kontras bedanya. Presiden hingga bawahannya, dalam struktur pemerintahan, dari gubenur, walikota hingga bupati, semuanya dapat anggaran APBN. Sedangkan, Presiden PSSI, dari Asprov (asosiasi provinsi), Askot (asosiasi kota) dan Askab (asosiasi kabuptaen), binggung tujuh keliling, bagaimana caranya menghidupi asosiasi dan klub-klub amatir?

Ujug-ujug, 25 Januari 2019, Jokowi dan jajarannya, memberi KAIL dan UMPAN kepada PSSI. Siapa yang nggak cemburu? Semua cabang olahraga tak ada yang se-istimewa sepakbola. Bahkan, bidang seni dan kebudayaan pun, tak ada yang diberi mandat Inpres oleh negara.

Daripada, Jokowi nanti jengkel, marah dan kecewa. Saran mBah Coco untuk Iwan Bule. Mendingan, konsentrasi dan fokus di Inpres No 3. Ketimbang, harus seolah-olah peduli tim nasional, atau pun mikirin kompetisi Liga 1, 2 dan 3 Indonesia.

mBah Coco, coba memberi gambaran sepak bola Indonesia yang sesungguhnya. Agar, Iwan Bule dan jajarannya, memperbaiki dan bekerja ekstra keras. Karena, sepak bola Indonesia saat ini, sudah bobrok, dan sangat sulit dibenahi. Jika, sang presidennya tidak peduli kerusakan yang sudah akut ini. Mau dibawa kemana PSSI?

Iwan Bule, harus RISET, mengapa sepak bola Indonesia hancur berantakan? Diawali, sejak Azwar Anas, melebur dan mengawinkan anggota klub GALATAMA (Sepak Bola Liga Utama) dengan KLUB-klub amatir, atau bond amatir dibawah PERSERIKATAN. Lambat laun, dampaknya sangat luar biasa, semrawut, tumpang-tindih dan membunuh sel-sel-nya.

Saran, mBah Coco, daripada Indra Sjafri, sebagai Direktur Teknik PSSI, ngomong ngelantur kemana-mana soal masa depan sepak bola. Daripada Indra Sjafir, ngrecokin Shin Tae-yong. Ajak segera buat tim kecil, untuk mempersiapkan dan melaksanakan Inpres No 3. Agar, Iwan Bule, terkesan bekerja, bukan wacana doang.

Ada tiga elemen yang harus di riset Iwan Bule, bersama gerombolan Indra Sjafri, sbb :

PERTAMA
Klub-klub lokal amatir di Persija Jakarta, setelah jadi klub profesional. Membunuh 30 anggota klub lokal Persija. Padahal, jaman mBah Coco, tahun 1980, saat bergabung dengan klub lokal BETAWI JAYA, tiap Sabtu dan Minggu, selalu berkompetisi, mengikuti kompetisi Divisi 1 dan 2 Persija Jakarta. Sekarang, setelah mereka dibeli Nirwan Bakrie sahamnya, akhirnya mati suri. 20 klub amatir, namanya masih ada, tapi kompetisinya ntar-sok.

Di seluruh dunia, Indra Sjafie yang kapan saja bisa bertemu dengan Iwan Bule, harus segera menjelaskan. Bahwa, semua pemain hebat di seluruh dunia, lahir dari klub-klub amatir. Tidak pernah terjadi instans. Semuanya, sejak awal prosesnya dari klub-klub amatir, dan klub-klub kampung.

Indonesia, tidak perlu nyontek sejarah sepakbola Brasil, hingga menjadi superstar dan selebritis dunia. Di Brasil, sepak bola itu, mimpinya anak-anak miskin, hingga tulisan ini diturunkan. Sementara, di Indonesia, untuk menjadi pemain bola, dianter orangtua, menyogok pelatih dan ofisial, agar pemain masuk skuad inti. Dan, masih banyak lagi, yang serba negatif, dan sangat jelek bagi pembinaan prestasi.

Sejak awal 90-an, PSSI lagi-lagi membuat blunder yang sangat jorok. Ketika Sekolah Sepak Bola (SSB), menjadi panutan. Entah dari mana, Azwar Anas, yang saat itu sebagai Ketua Umum PSSI, memberi wadah yang eforia bagi SSB di Indonesia. Dampaknya, semua kompetisi amatir, pelan-pelan tergusur dan terkubur. Padahal, lahirnya SSB, tak ada kaitannya dengan klub-klub amatir setempat.

Ketika bond – bond amatir, yang sejak awal disulap menjadi klub profesional. Maka, semua klub amatir, berlomba-lomba bermimpi, ingin seperti bond-bond yang bercokol di papan atas, seperti Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persipura Jayapura, atau Persib Bandung. Mereka, langsung menjadikan bond-bond tersebut, berbadan hukum.

PSSI tidak pernah sadar. Bahwa, dampak dari perkawinan GALATAMA dan PERSERIKATAN itu, menghasilkan bibit pemain yang parah. Bermental seolah-olah profesional. Berbudaya curi umur, bla bla bla…Padahal, jenjang sebagai amatir, tidak dijalankan prosesnya.

mBah Coco, hanya memberi satu contoh saja. Pemain yang memang dibesarkan dari klub-klub amatir, kompetisi berjenjang, hingga masuk ke jenjang tim nasional yunior dan senior Indonesia. Iwan Bule dan Indra Sjafri, harus segera berbenah, ke pembinaan jangka panjang. Nggak usah berpikir prestasi tim nasional saat ini.

Indonesia peringkat 173, dalam pergaulan sepak bola dunia, oleh FIFA sudah dianggap kastanya SUDRA. Kasta paling rendah, dan FIFA tak peduli lagi dengan Indonesia. Karena, yang dipikirkan dan selalu dilecut dan dibantu, adalah negara-negara yang serius membina prestasi sejak usia dini. Standartnya, disekitar peringkat FIFA-nya di urutan 100 ke atas. Nggank usah bermimpin naik peringkat, sedangkan pembinaan usia dini dan amatir tak disentuh sama sekali.

Pak Iwan Bule dan Indra Sjafri, pasti mengenal striker legenda Indonesia, Ricky Yacobi. Yang mBah Coco investigasi, saat Ricky usia 15 tahun, sudah bergabung klub PS Srinaga, anggota Divisi I, PSMS Medan. Kemudian, dua tahun digembleng, masuk pelatnas Suratin Cup (U-17).

Setelah PSMS Junior juara Piala Suratin, 1980. Ricky Yacobi, hijrah ke klub PS Teras, anggota Divisi Utama PSMS Medan. Hanya dua pemain PSMS Junior, yang direkrut masuk PSMS Senior, yang berlaga di antar PERSERIKATAN (waktu itu, hanya enam tim). Yang direkrut Ricky dan Juanda.

Ketika Ricky membawa PSMS Medan Junior juara Piala Suratin. Namanya, masuk dalam daftar Tim Nasional Yunior Asia di Filipina. Setelah pulang dari timnas, Ricky direkrut PS Perisai, anggota Divisi Utama PSMS Medan. Dan, saat dianggap mumpuni, empat pemain PSMS Junior, Ricky Yacobi, Eddy Harto, Syaiful Ramadhan dan Langket Sembiring, masuk Klub Arseto Solo, anggota klub semi-profesional GALATAMA.

Pertanyaannya, kapan Bagus Kahfi dan Bagas Kafha, yang ujug-ujug menjadi calon pemain hebat, masuk tim nasional Indonesia, yang disiapkan ke Piala Dunia U-20 tahun depan? Apakah, kedua anak kembar ini, sudah berkompetisi di level Suratin Cup? Mengapa rata-rata pemain nasional saat ini, tak pernah dibesarkan di kejuaraan amatir U-17 ini?

KEDUA
Secara sosial budaya, karakter pemain yang lahir, selalu dibesarkan dalam wadah klub-klub amatir. Namun, kini klub-klub amatir PSMS Medan, tak ada lagi kompetisi berjenjang, dari remaja taruna (remtar), yunior hingga senior. Nggak ada lagi terdengar, klub amatir sekaliber Tirtanadi, Medan Utara, Perisai, dan PS Bintang Utara. Bahkan, dari Sumut, pernah ada klub amatir, PS Harimau Tapanuli, juara antar-klub amatir Indonesia.

Intinya, sejak bond amatir disulap menjadi klub profesional. Dampak negatifnya luar bisa, yaitu mengubur semua klub anggotanya. Mereka, dipaksa untuk menjual sahamnya. Padahal, sejak berdirinya klub-klub amatir, lewat bond-bond di Indonesia, buta tentang dunia berbadan hukum. Namun, dipaksa menjual semua asetnya. Diiming-imingi, untuk tetap menggelar kompetisi antar klub amatir. Nyatanya, semuanya bodong dan tertipu.

Ada penggila bola Indonesia, yang bercerita ke mBah Coco. Kalau tim nasional mau juara di level Asia Tenggara, Asia atau nanti ke tingkat dunia. Jangan lupa, menyertakan atau merekrut pemain asal Medan, Maluku dan Papua. Karakter pemain asal ke-3 daerah ini, punya ciri khas istimewa, yang tidak dimiliki daerah lain. Mereka terbiasa eksport pemain.

Tercatat, saat Tim Nasional juara SEA Games 1987 meraih medali emas perdana. Ada tujuh pemain inti asal PSMS Medan, Ponirin Meka, Sutrisno, Marzuky Nyak Mad, Sumardi, Patar Tambunan, Azhary Rangkuti dan Ricky Yacobi. Dan, satu pemain Papua, Rully Nere. Tahun 1991 saat meraih emas keduanya di SEA Games Filipina. Tercatat, Ferril Hattu dan Rocky Putiray asal Ambon. Eddy Harto dan Peri Sandri asal Medan.

Makanya, Iwan Bule dan Indra Sjafri, harus segera kumpulkan tim risetnya. Dari Indra Sjafri, dokter, ahli gizi, ahli anatomi, ahli sosiologi, ahli antropologi, ahli arstiket, untuk segera mempersiapkan diri, meriset ke-34 provinsi di Indonesia.

Tahun 2007, mBah Coco meriset kawasan Papua. Begitu banyak talenta-talenta berbakat. Tapi, tak ada lapangan permanen, tak ada pelatih, dan tak punya klub. Tahun 2015 dan 2016, timnya mBah Coco yang diwakili Gonang Susatyo berangkat ke Tulehu, Maluku Tengah dan juga ke Kupang NTT. Di sana, subur lahir anak-anak berbakat. Sayang, Asprov, Askot dan Askab tak mampu berbuat apa-apa.

KETIGA
Mudah-mudahan Iwan Bule dan Indra Sjafri, semakin sadar, bahwa untuk membangun pembinaan prestasi hingga melahirkan tim nasional Indonesia, yang membanggakan itu. Hanya dengan satu cara. RISET. Bukan sekadar mencetak pemain, entah dari mana asalnya, entah bagaimana mereka berkompetisi berjenjang, atau entah ujug-ujug lahir. Jokowi sudah memberi KAIL dan UMPAN, lewat Inpres No 3, 25 Janauari 2019.

Karena, mBah Coco itu pencinta bola sejati. Hobinya ngurus bola. Sedangkan, pekerjaan utamanya adalah pencipta. Maka, tulisan kali ini, anggap saja konsultasi GRATIS. Maklum, sepak bola adalah hobi. Kebetulan mBah Coco, nyaman sebagai konsultan, coy !!!

Tugas Iwan Bule, sebagai Ketum PSSI, wajib menjalankan RISET ke Indonesia Timur. Mudah-mudahan Iwan Bule masih mau legowo, panggil lagi Cucu Somantri, sebagai waketum PSSI, untuk berangkat ke Indonesia Barat.

Biarkan waketum satunya lagi, Iwan Budianto, ngurus di intern PSSI, dari tim nasional, hingga kompetisinya. Karena, lima tahun ke depan, sepak bola Indonesia, masih amburadul, semrawut dan tak berprestasi. Kasih saja ke Iwan Budianto, coy !!!

Makanya, siapkan semua time-schedule, ke setiap kepala daerah. Serta para Asprov, Askot dan Askab, wajib mendampingi pak ketum PSSI. Dimulai dari Papua, dan kemudia ke Papua Barat, Maluku, Sulawesi, NTT dan NTB. Iwan Bule, harus bikin dua tim. Lantas apa yang dicari ke Indonesia Timur dan Barat?

Setiap ketemu gubernur, Iwan Bule, meminta semua yang diinginkan PSSI. Ada dua hal yang diminta. Teknis dan non-teknis.

Bicara non-teknis, Iwan Bule wajib memohon kepada setiap gubernur, walikota dan kabupaten, untuk melaporkan data-data yang diinginkan PSSI. Yaitu, berapa jumlah lapangan, berapa jumpah stadion, dan berapa jumlah stadion yang sudah tak butuh di renovasi?

Lapangan dan stadion yang diminta PSSI, harus ada ukurannya, lokasi di mana, dan berapa bulan jika direnovasi. Serta, bagaimana bentuk lapangan dan stadion yang memang wajib di renovasi. Mangkanya harus ada foto detailnya. Jika lapangan, dari semua sudut, ada fotonya. Jika bentuk stadion, semua tribun, semua kamar-kamar ganti, wasit dan WC-nya, harus ada fotonya. Serta, berapa nilai renovasinya, hingga selesai dipugar.

Bicara teknis. Iwan Bule, wajib meminta data ke Asprov, Askot dan Askab. Berapa julah klub amatir yang mati suri,. Berapa jumlah klub SSB, berapa jumlah pelatih berjenjang di kabupaten, kotamadya dan provinsi, berapa jumlah wasit yang bersertifikat atau sekadar jadi wasit?

Iwan Bule, harus berani menjamin dan memastikan kepada semua Asprov, Askot dan Askab. Bahwa, jika semua sudah didata, secara digital. Maka, selesai pembangunan non-teknis (lapangan dan stadion). Roda kompetisi wajib diputar. Prosesnya, berjenjang dari usia 12, 14, 16, 18 hingga senior.

Agar pasukan direktur teknis PSSI, tidak malu, seperti saat Shin Tae-yong, minta ke Danurwindo. Yaiatu meminta nama bek kiri, bek kanan, striker, yang tinggi badannya, serta usianya sesuai permintaan pelatih asal Korea Selatan. Karena, Danurwindo tak bisa menjawab. Alangkah baiknya, Indra Sjafri jangan dipermalukan lagi, seperti Danurwindo.

Makanya, database sepak bola nasional, wasib segera dijalankan oleh manajemen Iwan Bule.

Jika Iwan Bule, mau dan siap menjalankan “tour of duty”-nya ke Indonesia Timur. Sedangkan, Cucu Somantri ke Indonesia Barat. Maka, berapa pun, yang diminta PSSI, mau triliyunan rupiah kek, mau milyaran rupiah kek, mau jutaan rupiah kek. Semuanya, pasti dituruti dan dijalankan, oleh 14 lembaga kementrian dibawah Presiden. Lewat Inpres No 3.

Ibaratnya, jika salah satu lapangan di salah satu provinsi dari 24 provinsi. Kepala daerah dan Asprov, minta direnovasi dengan rumput sintesis, nambah lampu penerang, nambah ada tribun, nambah ruang-ruang di sekitar lapangan. Semuanya punya nilai sekian rupiah, dan siap dibangun selama lima bulan. Maka, salah satu dari kementrian, Menteri PUPR dan Menteri Keuangan segera keluarkan dananya, dan siap dibangun, sesuai permintaan.

Jika, lapangan dan stadion, sudah siap direnovasi (bukan dibangun, seperti Stadion BMW, Jakarta), dengan sempurna. Maka, Asprov, Askot dan Askab, wajib menghitung anggaran kompetisi berjenjang, dari usia 12, 14, 16, 18 sampai senior, setiap tahunnya. Laporkan kesiapan panitia di setiap daerah.

Maka, Presiden Jokowi, Menteri PMK dan Menpora, serta Menteri BUMN, segera memberi instruksi, kepada seluruh Bank Daerah se-Indonesia, untuk menggelontorkan dana-dananya, dipergunakan dananya di kompetisi berjenjang, di seluruh pelosok Indonesia.

Ini yang dimaksud mBah Coco, bahwa PSSI dijaman Iwan Bule ini, benar-benar sangat glamour, bergengsi dan nikmat roda organisasinya. Karena, ada Inpres No 3. Yang filosofinya, pemerintah dan negara memberi KALI dan UMPAN. Modal PSSI, hanya RISET, mungkin dua tahun, dan tahun ke-3, lapangan dan stadion sudah direnovasi semuanya, serta roda kompetisi segera digelar.

Saran GRATIS mBah Coco, kepada Iwan Bule. Jika mau RISET dua tahun, dari Indonesia Timur dan Barat, menjalankan Inpres No 3. Maka, periode ke-2, tahun 2023 nanti, Iwan Bule kampanye menjadi Ketua Umum PSSI kedua kalinya, sudah nggak perlu pake ‘money politic”, dan sudah tak butuh kartel dan gangster sepak bola, yang saat ini, ada di sekitarnya.

Cukup leyeh-leyeh, nikmati hari tua. Karena, setiap ada pemilihan, selalu kepilih terus menjadi Ketua Umum PSSI, nggak ada lawan. Karena, karya-karya Iwan Bule jelas, nyata dan terukur. Versi mBah Coco, 10 tahun ke depan, sambil nikmati hasilnya, maka bendera “Merah Putih”, sebentar-sebentar berkibar di pergaulan internasional.

Pilihan Iwan Bule, jika Indonesia mau naik peringkat dari 173 ke 100, caranya membangun pembinaan jangka panjang, tanpa ada pensiun dan berhenti. Tapi, kalau ngotot naikan peringkat 173, selama lima tahun ke depan, dengan cara-cara yang sudah bobrok perwajahan sepak bola nasional. Maka, mendingan….mundur saja….pak ketum. Cari saja, peluang di luar sepak bola. Siapa tahu, justru berprestasi. !!!

Semua tulisan di atas, jika dikerjakan Iwan Bule, sudah menjawab keresahan Jokowi. Apakah Inpres No 3 benar-benar bisa dan ingin dikerjakan. Atau, justru semakin terlihat, bahwa Iwan Bule melecehkan Jokowi. Padahal, KAIL dan UMPAN-nya, sudah ada.mBah Cocomeo/TOR-06

TINGGALKAN KOMENTAR