Nyaris delapan tahun Nurdin Halid, menduduki “kursi panas” sepakbola nasional. Pemberitaan sepakbola, tak ada berita yang asyik. Event-event yang dibuat Nurdin Halid dan kawan-kawan, tumpang tindih tiap berita, yang selalu negatif. mBah Coco, merekam delapan tahun, jejak Nurdin Halid.

Apakah ini cermin dari seorang pemimpin lembaga publik yang pernah masuk penjara akibat kasus korupsi? Pertanyaan demi pertanyaan selalu tak pernah terjawab. Setiap hari timbul masalah yang semakin seperti ‘benang ruwet’. mBah Coco, menjadi salah satu, musuh beratnya Nurdin Halid.

Seharusnya, semua anggota Indonesia Super League, sedang bersiap-siap membangun timnya untuk berkompetisi musim 2010-2011. Sayang, masih menyisakan skandal-skandal yang belum selesai.

Hadirnya PSSI Tandingan, diusung Arifin Panigoro, semakin membuka mata pencinta bola. Bahwa, lembaga PSSI, yang sering membuat “kursi ketua umum super panas”. Dari pengamatan mBah Coco, PSSI tak punya lembaga Public Relation (PR) yang handal, dalam mencegah setiap masalah yang timbul di dalam internal PSSI. Artinya, elemen yang ada di PSSI, memang sedang jalan sendiri-sendiri sesukanya.

PT Badan Liga Indonesia, yang mewadahi ISL, jalan tanpa PR, PSSI lebih suka terbawa angin gosip tanpa konsep. Badan Tim Nasional (BTN), tanpa program pembinaan dan prestasi yang terkonsep. Ujung-ujungnya, prestasi tim nasional “jeblog”. Terkesan, PSSI tak punya PR, untuk mengemas informasi wadah PSSI. Agar bisa mengalihkan isu, gosip, rumor. Muaranya, karena memang tak ada program.

Cocok, jika Nurdin Halid, diilustrasikan oleh kawan mBah Coco di Bali, Angsia Nuki yang mengirim desain Nurdin Halid, yang akan lounching Film terbarunya HellBoy. Artinya apa? Adakah Nuki memberi tanda-tanda jaman ,mengubah lingkungan sepak bola nasional, secara revolusiner? Waktu yang akan menjawabnya !

Perlu diingatkan, kepada seluruh pencinta bola di Tanah Air. Bahwa organisasi yang melindungi PSSI, yaitu FIFA, memiliki sifat yang selalu standart, KONSERVATIF. Artinya, FIFA tidak pernah bias, menerima semua bentuk kekerasan dan revolusi di seluruh negara anggotanya yang melebihi anggota PBB, yaitu 211 negara.

Ibaratnya, kalau membenci Nurdin Halid, harus lewat satu cara, revolusi, maka induknya FIFA akan marah besar! Dampaknya, pemerintah Republik Indonesia ikutan malu. Padahal saat itu, dengan cara-cara elegan, pemerintah SBY, sudah menggelar Kongres Sepakbola Nasional, 30 Maret 2010, di Hotel Santika, Malang. Itu pun, PSSI masih gagah berani.

Dengan berbagai cara, menumbangkan Nurdin Halid, tidak pernah berhenti. Selain, Arifin Panigoro mengelar deklarasi untuk sepak bola yang lebih baik, 7 Agustus 2010, di Surabaya. Maka, para kelompok suporter, yang digagas pasukan “Bonek” Surabaya, menjadi pemicu sangat besar, tumbangnya Nurdin Halid.

Bonek menjadi pemicu, karena Persebaya Surabaya, dibuang pelan-pelan oleh rezim Nurdin Halid, untuk mempertahankan Pelita KS, tetap bercokol di Indonesia Super League 2011 -12. Otomatis, “membunuh Green Force” masuk jurang degradasi, Divisi Utama.

mBah Coco, sebagai seorang jurnalis. Takdirnya, hanya bisa menulis. Jika, ada peluang, maka bentuk tulisan, dijadikan buku. Gayung bersambut. Galang Press, Jogjakarta, menawarkan bisa menerbitkan karya tulisan mBah Coco, jika memang berani dan punya artikel-artikel ciamik.

Januari 2011, mBah Coco dengan telaten, mengumpulkan semua tulisan dan artikel, yang pernah dimuat di facebook, baik lewat akun pribadi, mau pun akun komuniras sepak bola nasional bernama Cocomeo News. Hasilnya, menjelang di launching, Februari 2011, nama bukunya sudah didesain Galang Press, judulnya “DOSA-DOSA NURDIN HALID” – DDNH.

Buku setebal 210 halaman ini, selama sebulan, sudah gonta-ganti cover. Karena, judulnya tetap DDNH, maka, wajib berkarakter sangar. Minimal, wajah Nurdin Halid, seolah-olah berewajah setan, atau drakula, atau iblis. Pokoknya, harus serem banget. Demikian, manajemen Galang Press, mendiskriditkan wajah cover dan isi buku.

Ada dua peristiwa, sebelum dan sesudah buku mBah Coco, berjudul DOSA-DOSA NURDIN HALID, sebelum diterbitkan, dan sesudah beredar.

PERTAMA, menjelang launching bukunya mBah Coco, DDNH. Ada beberapa sahabat mBah Coco, telepon. Pesannya, “Apakah buku, bisa dibatalkan, berapa kompensasinya?” demikian kata Eddy Lahengko. Dari Barce, juga wartawan berpesan, “Bisa nggak buku batal di launching, diganti uang cetak Rp 250 juta?” tegasnya. Juga, M. Nigara telepon, agar buku dibakar saja, dan diganti ongkos cetaknya, silahkan berapa nilainya?

Menurut sobat-sobat mBah Coco, yang memesan agar buku DDNH dibatalkan lounchingnya, adalah Nirwan Bakrie. Alasanya hanya sederhana. Bahwa, Nurdin Halid itu, sahabatnya NDB, panggilan akrabnya di lingkungan sepak bola nasional. Sedangkan, mBah Coco, juga temannya Nirwan Bakrie

mBah Coco, hanya berpesan, bahwa mBah Coco itu hanya penulis. Sedangkan, penerbitnya Galang Press. Jika, ingin memborong dan membeli semua buku, atau membatalkan launching buku DDNH, hanya dengan satu cara. Hubungi manajemen Galang Press. mBah Coco, tak punya kekuasaan, tak punya hak, untuk melarang atau membatalkan. Karena, ongkos produksinya, milik Galang Press. mBah Coco, hanaya dapat royalti sebagai penulis buku.

KEDUA, setelah buku dicetak, dan dilaunching, awal Maret 2011, di empat kota, Jogjakarta, Solo, Semarang dan Malang. Peneribt Galang Press, mendapat informasi. Bahwa, semua toko buku Gramedia, atau pun toko buku yang lain, tidak mau menerima buku DOSA-DOSA NURDIN HALID, bisa nongkrong di outlet-outlet toko buku se-Indonesia.

Disaat toko buku besar di Indonesia, tidak berminat dan menolak hadirnya buku DDNH. Seluruh karyawan Galang Press, melakukan demo besar-besaran di Jogjakarta, sambil menjual buku DDNH. “In bentuk kepedulian kami, membangun ilmu pengetahuan dengan buku. Pasalnya, buku adalah gizi,” tutur Julius Felicianus, pemimpin Penerbit Galang Press.

Bagi mBah Coco, sistem penjualan buku DDNH, dalam bentuk demo, sambil menjual buku di jalan-jalan, adalah bentuk terobosan kreatif – out of the box. Karena, ternyata sangat ampuh….

Mungkin, buku DDNH, perlu segera diterbangkan ke Kantor PSSI. Karena seminggu berikutnya, di depan kantor PSSI, semakin sulit dibendung, semua bentuk demo-demo, dari berbagai aliansi suporter, dan berbagai elemen masyarakat.

Hati kecil mBah Coco. Julius, selamat Anda, memang manusia, tak pernah kalah akal. Toko buku hanya menjual buku-buku, yang dinilai biasa-biasa. tak pernah mau lagi menjual buku yang kontroversial…….Mattiiiii aku…..!!!!

April 2011, Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie, dilarang FIFA mencalonkan diri, di Kongres PSSI, 11 Juli 2011 di Solo.mBah Cocomeo/TOR-06

 

TINGGALKAN KOMENTAR