mBah Coco, jadi sangat binggung, ketika 18 anggota klub Liga 1 Indonesia, sekaligus pemilik 99% saham PT Liga Indonesia Baru (LIB) bergeming. Ada uang Rp 25 miliar yang dirampok, Rudy Kangdra, Direktur Bisnis. Sementara itu, PT LIB saat ini, kesulitan menggelar lanjutan Liga 1, karena tak ada dana anggaran.

mBah Coco, semakin binggung, bahwa 18 klub anggota Liga 1, di depan matanya sendiri, perusahaan milik bersama ini, semena-mena dirampok Rudy Kangdra, yang kepalanya pitak itu. Tak ada yang peduli melaporkan ke polisi, bahwa LIB diam-diam dirampok orang yang dipercaya oleh pemilik sahamnya.

Pertanyaannya, mengapa 18 klub diam saja? Mengapa tidak melaporkan kasus pencurian uang perusahaan ke polisi? Mengapa Ketua Umum PSSI, Iwan Bule, tak tanggap? Apakah, Rudy Kangdra, bagian dari Iwan Bule? Apakah 18 klub Liga 1 takut, sehingga diam seribu bahasa, walaupun duwit perusahaan dicolong orang yang dipercaya dan ditunjuk dalam RUPS?

Alkisah, hasil investigasi mBah Coco. Ada surat dari Matrix, tetanggal 18 Februari 2020, yang ditujukan kepada PT LIB, Menara Mandiri 2, Lt 19, Jl. Jend Sudirman Kav 54-55 Jakarta. Tambahan dalam surat, dibawahnya Untuk Perhatian (UP) Rudy Kangdra. Perihal : Klarifikasi Atas Perjanjian. Tentang Pemberian Hak Penayangan Pertandingan Sepak Bola

Isinya, Kami PT Garuda Media Nusantara (GMN), yang beralamat di Komplek Daan Mogot Prima, Blok A1, No 10, Jl. Daan Mogot, Km 12, Jakarta Barat, terkait perihal surat kami di atas, maka dengan ini kami menyampaikan hal-hal sebagai berikut :

Dari isi perjanjian yang dibaca mBah Coco, poin pertama, GMN dengan PT Supersort Sensasion Internasional (SSS). Bahwa pemberian hak penayangan pertandingan Sepak Bola, Liga 1, 2, dan 3 serta Liga U-20 Indonesia, musim 2019 dengan masa waktu lima (5) tahun hingga 2023, secara eksklusif menayangkan dan mendistribusikan.

Dalam poin kedua, perjanjian antara GMN dengan SSS merupakan menjanjian Asesoir dari perjanjian antara SSS selaku pemegang hak komersial yang sah dari PT LIB, dan berhak mengalihkan hal tersebut kepada pihak lain, jika ada penunjukan PSSI.

Poin ketiga, pihak GMN selaku pemegang hak siar Liga 1 dan 2 dalam perjanjian yang masih berlaku. Pihak GMN sudah melaksanakan perjanjiian tersebut, dengan nilai kontrak sebesar Rp 45.000.000.000 (empat puluh lima miliar rupiah).

Sampai surat ini sejak 18 Februari 2020, pihak GMN sudah mengubungi Rudy Kangdra, untuk bisa bertemu, membicarakan kontrak yang sudah dipegang, berdurasi lima (5) tahun. Sayangnya, berkali-kali Rudy Kangdra tak memberi respon. Karena, sesuai dengan perjanjian kontrak tersebut, versi GMN, Liga 1 dan 2 Indonesia 2020, sebagai pemegang hak eksklusif masih berlaku, hingga tanggal surat tersebut.

Namun, ketika mBah Coco, mendapatkan informasi soal pendapatan PT LIB, tertera jumlahnya berbeda, sebelum Liga 1 dan 2 digulirkan musim 2020 ini..

PT Indonesia Visual Mandiri (IVM) sebagai pemilik hak siar, Liga 1 dan 2 Indonesia 2020, nilainya Rp 207.397.959.184. PT Shopee International Indonesia (Shopee), sebagai sponsor title Liga 1 Indonesia 2020, nilainya Rp 115.000.000.000. PT Mediate Indonesia (agensi MNCTV), untuk tivi-kabel Liga 1, 2 dan U-20, nilainya Rp 20.000.000.000. PT Telkom Indonesia (Indihome) Liga 1, 2 dan U-20, nilainya Rp 40.000.000.000. PT Cipta Megaswara Televisi (KompasTV), Liga 2 Indonesia 2020, nilainya Rp 5.000.000.000. Serta yang terakhir, Infront Spors and Media AG, untuk Liga 1, nilainya Rp 18.000.000.000. Total, penghasilan PT LIB musim 2020 ini, Rp 407.397.858.184.

Yang menjadi pertanyaan mBah Coco, ada nilai kontrak yang sudah wajib berlangsung lima (5), dari pihak Matrix dan SSS wakil PT Liga Indonesia Baru (LIB), dengan nilai Rp 45 miliar. Berubah menjadi Rp 20 miliar, saat diganti oleh biro iklannya MNCTV, yang dimana Rudy Kangdra, menjadi bagian dari mafia MNCTV.

mBah Coco, hanya coba memberi ancer-ancer, khususnya kepada anggota Liga 1, pemilik 99 saham PT LIB. Tahun 2019 dapat dari Matrix Rp 45 miliar. Tahun 2020, sama-sama tivi-kabel, saat dibeli MNCTV, nilai Rp 20 miliar.

Yang lebih parah, agensinya MNCTV, tidak doyan mengambil agancy fee. Mungkin nggak, sebuah lembaga biro iklan tidak mengambil succes fee? Artinya, saat PT LIB “deal” kontrak dengan MNCTV, lewat biro jasa PT Mediate Indonesia, nggak tertarik dengan fee yang standart. Menurut mBah Coco, jangan-jangan PT Mediate Indonesia itu, bukan biro iklan, tapi yayasan sosial.

Yang semakin parah, bahwa versi mBah Coco, bahwa si pitak Rudy Kangdra sedang menggarong duwitnya PT LIB, tapi 18 pemilik klub, tidak ada yang merasa kecolongan..Ini benar-benar aneh.

Bahwa, ada perubahan kontrak, yang dilakukan MNCTV, bersama bos SSS yang ditujukan ke Azwar Karim. Tujuannya, hak eksklusif Matrix, dibatalkan hingga 2023, dan diambil alih MNCTV (MNC Vision, MNC Play, MNC Now, Kvision).

Durasi Liga 1 Indonesia, hingga 2023, untuk 306 pertandingan, serta 252 siaran langsung, serta 52 live streaming. Liga 2 Indonesia 2020, dari 272 pertandingan, yang diambil secara live, dari 62 live, dua wilayah. Serta 23 live dari babak berikutnya, hingga semifinal dan final. Sedangkan Liga U-20 Indonesia 2020, dari total 151 pertandingan, akan diambil 4 siaran langsung, dan semua partai semifinal dan final.

Nilai kontrak yang tertera dari hasil komat-kamit mBah Coco di malam Jumat Kliwon. Tertulis, License Fee musim 2020, sebesar Rp 45 miliar. Musim 2021 (+5%), sebesar Rp 47,250 miliar. Musim 2022 (+5%), sebesar Rp 49,613 miliar. Musim 2023 (+5%), sebesar Rp 52,093 miliar. Standartnya, fee diatas bisanya, sudah termasuk technical cost dan delivery ke MNC head end.

mBah Coco, mencoba membedah sistem termin pembayarannya atau istilahnya Term of Payment. Musim 2020, saat tandatangan kontrak Rp 15 miliar. Termin kedua 25% yaitu Rp 11,250 milir (biasanya,bulan ke-5). Termin ke-3, nilanya 25%, atau sebesar Rp 11,250 miliar (diambil bulan ke-7). Dan termin terakhir, Rp 7,5 miliar (biasanya,30 hari setelah kompetisi atau turnamen selesai). Bahkan, ada perjanjian yang semakin menarik dan menggiurkan, buat nambah pundi-pundi LIB, untuk musim kompetisi 2021 – 2023. Yaitu, bisa mencairkan dana nilai kontrak 25%, 30 hari sebelum event kompetisi atau turnamen digelar.

Yang semakin terkesan merampok secara permanen, versi mBah Coco. Pihak MNCTV, sudah tinggal “deal” dengan SSS, seperti yang disebutkan di atas, dengan nilai Rp 45 miliar. Tapi, bisa di sliding-tackle si pitak Rudy Kangdra, lewat agensi MNCTV, hanya Rp 20 miliar. Itu pun, tanpa agency fee. Sungguh luar biasa niat maling dan terang-terangan.

Sekali lagi, jika 18 klub sebagai pemilik saham LIB, ada yang sudah dan mau memberi nilai kontrak Rp 45 miliar, dan sudah pernah terjadi musim 2019. Sekarang, saat dipegang Rudy Kangdra, hanya setor Rp 20 miliar. Apakah 18 klub anggota Liga 1 Indonesia 2020, apa nikmat dan bahagia?

Saran mBah Coco kepada 18 klub anggota Liga 1 Indonesia 2020 :

PERTAMA
Laporkan segera kecurangan Rudy Kangdra ke kepolisian terdekat. Karena, niatnya sudah maling, merampok dan mengambil dana yang masuk ke perusahaan PT LIB. Jika, 18 klub anggota pemilik saham, tidak melaporkan. Indikasinya dua (2). Takut dengan Rudy Kangdra, atau sebagian pemilik klub terlibat (minimal 7 klub gang kartel).

KEDUA
Harusnya Ketua Umum PSSI, Iwan Bule, segera laporkan Rudy Kangdra ke polisi. Dan, tidak sulit, mengingat Iwan Bule, mantan polisi bintang tiga. Tapi, kalau Iwan Bule tidak melaporkan, berarti Iwan Bule ikut membiarkan dan terlibat, dalam perampokan uang PT LIB oleh Rudy Kangdra.

KETIGA
Jika sebagian klub, dari gang kartel, seperti Bali United, Madura United, Arema Malang, PSS Sleman, PSIS Semarang, Persib Bandung dan Persija Jakarta, melakukan pembiaran. Seharusnya, para suporter tidak tinggal diam. Karena, klubnya dicedarai sendiri, oleh pengelola klub. Kalau pemilik klub saja ikut merampok duwitnya sendiri di PT LIB, berarti, gampang ngambil keuntungan seenaknya dari klubnya. Tanpa diketahui pemilik klub yang asli. Karena, rata-rata pengelola klub itu, bukan pemilik aslinya.

KEEMPAT
Seharusnya, Rudy Kangdra segera ditangkap, karena merampok uang perusahaan. Dan, jika ini terlaksana, banyak sekali calon-calon saksi, yang sudah siap sebagai saksi. mBah Coco, sudah dapat kabar, jika mereka-mereka siap cemplungi Rudy Kangdra, masuk hotel prodeo.

KELIMA
Jika semua klub diam seribu bahasa, dan tidak tertarik melaporkan Rudy Kangdra. Maka, dijamin mBah Coco, sepak bola nasional, sedang dirampok oleh kartel baru, dibawah komando Iwan Bule. Dan, jangan pernah berharap, PSSI mencetak pembinaan dan prestasi.

KEENAM
Selesai nggak selesai, kumpulan saja, bro. mBah Cocomeo/TOR-06

TINGGALKAN KOMENTAR