Sang Pencetak Juara Tinju SEA Games Singapura 2015

HARI Rabu, 6 November 2018 merupakan hari kelabu yang tak bisa terlupakan Ardy Blazer. Pada hari itulah petinju kelahiran Sumba Timur, Nusa Tengara Timur, 23 Januari 1968 yang tadinya normal terpaksa merelakan kaki kanannya diamputasi akibat penyakit pengeroposan tulang (osteoporosis) yang diderita sejak tahun 2012.

“Saya tidak bisa melupakan kejadian itu. Saat itu, perasaan sedih dan kecewa bercampur aduk melihat kaki sebelah kanan saya terpaksa harus diamputasi. Ya, saya harus merelakan semuanya karena amputasi itu terpaksa dilakukan dokter demi keselamatan jiwa saya,” kata Ardy Blazer yang dihubungi melalui telepon selular, Selasa (22/9/2020).

Pengakuan ini diamini mantan petinju nasional sekaligus pelatih Timnas Tinju Pelatnas Olimpiade, Hermensen Ballo. “Ardy Blazer itu memang benar sahabat dekat saya. Dan, saya dengan dia satu angkatan saat menjadi petinju amatir di NTT. Memang benar, kaki kanannya harus diamputasi demi menyelamatkan nyawanya.

Kalau itu tidak dilakukan penyakit pengeroposan tulang kakinya bisa menjalar ke tubuh bagian atas yang bisa menyebabkan kematian,” kata Hermensen Ballo yang dihubungi melalui telepon selular di tempat latihan pelatnas tinju HS Boxing Camp Ciseeng Bogor, Jawa Barat.

Saat melihat kakinya hanya tinggal sebelah, Ardy Blazer sempat berpikir dirinya tidak mungkin lagi menjalani rutinitas melatih anak didiknya di Blazer Boxing Camp (BBC). Namun, pikiran itu dibuang jauh-jauh olehnya. Bahkan, dia semakin termotivasi bila membayangkan anak didiknya tidak bisa lagi berlatih tinju.

“Saya sempat terpukul melihat kondisi kaki saya tinggal sebelah dan sempat ketakutan tidak bisa lagi melatih lagi. Tetapi, saya terus meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya masih mampu dan tidak mau meninggalkan anak-anak yang masih mengharapkan kehadiran saya. Itu semua yang mendorong saya tetap kuat menghadapi cobaan yang cukup berat,” akunya.

Usai luka bekas amputasi kaki mengering, Ardy yang tercatat sebagai Aparatur Sipil Negara di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumba Timur mulai melakukan latihan fisik, kelenturan dan ketahanan. Tujuannya, agar bisa menahan keseimbangan tubuh saat bergerak melatih para petinju.

Berkat kerja keras selama empat bulan dan kekuatan doa kepada Tuhan, Ardy akjhirnya sudah mulai bisa memberikan program latihan. Dari mulai shadow box hingga punching pad kepada anak asuhnya.

“Saya bisa memberikan latihan punching pad selama 7 hingga 8 menit kepada setiap anak. Itu semua berkat kerja keras dan doa,” cerita Ardy yang mengaku tak pernah minder dengan kondisi tubuhnya yang sudah tidak sempurna lagi.

Bukan hanya kisah perjalanan sebagai pelatih yang menarik tetapi saat Ardy ingin menjadi petinju juga menarik. Pasalnya, dia sempat ditolak bergabung di sasana dengan alasan punya badan terlalu kurus dan berlatar belakang sebagai joki pacuan kuda tradisional. Bahkan, dia nekad latihan sendiri mulai tahun 1983 karena ingin membuktikan dirinya punya bakal di olahraga tinju.

Setelah tiga tahun melakujkan latihan mandiri, dia mulai mengincar pertandingan. Pada tahun 1986, dia tampil pada kejuaran tinju terbuka di Taman Hiburan Rakyat (THR). Hasilnya di luar dugaan. Ardy mampu menundukkan lawan-lawannya sebelum terhenti di partai final. “Karena saya masuk final akhirnya saya boleh bergabung di sasana,” katanya.

Keinginan kuat untuk meniti karir di dunia tinju amatir akhirnya mendorong Ardy meninggalkan Sumba Timur menuju Kupang. Dia bergabung di sasana PGMI Kupang pada tahun 1998. Pengidola petinju Hector Macho Komaco dan Vasil Lumachenko ini mampu menunjukkan bakatnya dengan meraih perak pada Kejuaran Daerah (Kejurda) Tinju NTT 1991.

Kemudian, dia mendapat tiket mewakili Tim Tinju NTT untuk tampil pada Kejuaraan Nasional Tinju Amatir di Tangerang, Banten 1991. Sayangnya, dia terhenti di babak penyisihan dikalahkan petinju tuan rumah Tangerang.

Kemudian, perak pada kejuaraan tinju nasional Piala Pangdam Udayana tahun 1994. Dan, terakhir meraih emas pada kejuaraan tinju Piala Bupati Dili Timor-Timor tahun 1995. Menjelang Pra PON Tinju di Semarang, Jawa Tengah 1998, Ardy mendapat kesempatan ikut seleksi. Namun, ia kembali gagal mewakili NTT.

“Ya, saya pernah mendapat kesempatan tampil di kejurnas junior tetapi gagal. Begitu juga saat ikut seleksi Pra PON di Semarang 1998. Sejak itu, saya tidak pernah terpilih lagi mewakili daerah tampil pada kejurnas. Maklum saja lah, memang di dunia tinju itu kan sudah biasa apalagi saya bukan siapa-siapa dan datang dari desa seorang diri,” ungkapnya.

Setelah gagal ikut Pra PON 1998, Ardy kembali ke Sumba Timur. Kemudian, dia melamar menjadi sopir mobil di Kecamatan Sumba Timur lewat informasi dari saudaranya. Namun, dia kevewakarena saat pengumuman namanya tidak tercantum.

Nasib Ardy memang beruntung. Saat dia mendatangi kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Timur untuk menanyakan soal lowongan pekerjaan menjadi sopir, dia diminta untuk membantu kegiatan di rumah dinas Bupati Sumba Timur, Ir Umbu Mehang Kunda. Berkat kerajinan dan kejujuran, Ardy akhirnya bisa menjadi sopir mobil istri Bupati Anggreni Mehang Kunda sejak 2003 hingga 2009.

Meski sudah bekerja, Ardy tidak bisa melupakan dunia tinju. Dia mendirikan sasana tinju yang diberi nama Blazer tahun 2004 dengan membina anak-anak sekolah yang ingin berlatih tinju di sekitar kediamannya.

“Saya mendirikan sasana itu di atas tanah seluas 220 meter persegi dengan fasilitas seadanya. Hanya bermodal empat sansak dan punching pad. Latihannya tiga kali dalam seminggu setiap pagi dan sorea hari,” ujarnya.

Untuk membangun sasana itu, Ardy mengeluarkan kocek sendiri. Bahkan, dia membutuhkan waktu selama setahun lebih untuk bisa meratakan tanah tempat latihan yang tadinya cukup curam. “Saya membangun sasana itu dengan uang pribadi dan meratakan tanah di sekitar rumahnya memakan waktu setahun. Itu semua murni dari uang pribadi,” ujarnya.

Ketika Ir Umbu Mehang Kunda meninggal dunia, Ardy yang terkenal jujur dan setiap saat bisa dipanggil kapan saja dibutuhkan diminta menjadi sopir mobil dinas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumba Timur. Di sana, dia akhirnya diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Saya cukup beruntung bisa diangkat menjadi ASN di Kantor Lingkungan Hidup Sumba Timur. Apalagi, kepala dinas mendukung kegiatan saya melatih anak-anak bertinju,” ungkapnya.

Meski BBC boleh dibilang kondisinya jauh dari standar sasana, tapi Ardy yang punya kemampuan keras mampu memproduksi petinju-petinju tangguh yang meraih prestasi di kancah nasional maupun internasional. Juara SEA Games Singapura 2015, Kornelis Kwangu lahir lewat sentuhannya. Kemudian, Defrianto Palulu yang berulang kali menjadi juara Sarung Tinju Emas (STE).

Bukan hanya di kancah tinju amatir, Ardy juga sukses melahirkan petinju berkualitas di kancah tinju profesional. Defrianto Palalu dan Yansen Marapu Hebi yang menjadi juara WBC Asia juga anak didiknya. “Mereka itu anak didik saya yang sukses menggeluti dunia tinju amatir maupun profesional. Mereka berlatih tinju di BBC,” jelasnya.

Klaim Ardy dibenarkan Hermensen Ballo. “Ya, Kornelis Kwangu dan Defrianto Palulu memang anak didiknya. Itu fakta yang benar yang harus diakui. Ardy itu sangat mencintai dunia tinju dan tidak bisa lepas dari tinju,” tegas Hermensen Ballo. TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR