Hampir semua pemain bridge sepakat, dalam permainan bridge hal yang paling sulit adalah bertahan (defense). Dibutuhkan pengalaman dan imajinasi agar seorang pemain bisa mahir dalam defense. Selain itu, karena defense membutuhkan kerja sama antara dua pemain, dibutuhkan alat yang dapat membantu kedua pemain ini menjalin komunikasi.

Satu hal lagi, ketika defense kita hanya bisa melihat pegangan dummy sehingga akan lebih sulit dibandingkan declarer yang melihat pegangan dummy dan pegangannya sendiri.
Salah satu alat yang sangat membantu disebut sinyal. Pada saat ini metode sinyal dalam defense telah berkembang cukup pesat sehingga cukup membingungkan para pemain.

Namun ada dua signal yang sangat popular saat ini. Pertama adalah Standart Signal dan yang kedua adalah UDCA atau upside down count attitude.Mari kita lihat perbedaanya, ada tiga macam yang dikenal dalam metode standard signal, yaitu attitude signal, count signal dan terakhir suit prefrence signal.

Attitude signal adalah sinyal yang meminta partner untuk meneruskan warna tersebut dengan bermain angka besar dilanjutkan angka kecil. Sebaiknya jika ingin menolak, partner melanjutkan warna tersebut bermain angka kecil dilanjutkan dengan angka besar.

Count Signal digunakan untuk menunjukkan distribusi yang dipegang. Main angka besar dilanjutkan angka kecil menunjukkan pegangan genap sedangkan sebaliknya menunjukkan angka ganjil. Salah satu situasi saat sinyal ini sangat penting, misalnya lawan main 3NT dengan di dummy ada DKQJ1098 dan tidak entry. Ketika lawan memainkan

Diamond maka defender yang pegang DA tentu saja perlu mengetahui bagaimana kombinasi Diamond ini terbagi. Hal ini penting karena ia harus memutuskan kapan saat yang tepat untuk menang dengan DA. Salah mengambil keputusan akan berakibat fatal.

Contoh :

K Q J 9 6 3
8 7 4 2 A 5
10

KQJ963
8 7 2 A 5
104

Pada contoh pertama, Barat harus main D8 ketika declarer main D10. Timur yang mengetahui Barat pegang jumlah lembar genap akan langsung ambil DA. Karena kalau Timur pegang dua lembar bukan empat lembar, maka defender tidak bisa berbuat apa-apa. Sebaliknya pada contoh kedua, Barat harus main angka dua menunjukkan pegangan ganjil sehingga Timur akan membiarkan DJ menang dan declarer tidak bisa memanfaatkan Diamond di dummy.

Sinyal ketiga dan ini yang cukup rumit adalah suit preference signal. Pada sinyal ini, buangan defender tidak berhubungan dengan suit yang dimainkan.

Contoh sederhana dari sinyal dapat dilihat pada papan di bawah ini:

S K 7 6
H K Q J 3
D Q 10 4
C 532
S 5 S 9 4 3 2
H A 7 4 H 10 5 2
D A 9 8 6 3 2 D J
C Q 7 4 C J 10 9 8 6
S A Q J 10 8
H 9 8 6
D K 7 5
C A K

Barat Utara Timur Selatan
1S
Pass 1NT Pass 2NT
Pass 3S Pass 4S
//

Barat lead DA dan ketika melihat DJ dari Timur ia berharap DJ singleton. Bagaimana tindakan Barat selanjutnya? Tentu saja akan serang Diamond untuk di-trump oleh partnernya. Tapi, tanpa bantuan sinyal dari Barat maka Timur akan kesulitan memilih untuk menyeberang ke Barat. Permainan normal, Timur akan serang Club suit yang lemah di dummy.

Bermain suit prefence signal, Barat akan serang D9 (besar) yang berarti meminta Timur untuk main warga tertinggi di luar trump (S) dan suit yang dimainkan (D). Tukar HA dengan CA maka Barat akan serang D2 (kecil). Kembali ke UDCA, sinyal ini merupakan kebalikan dari standard signal. Kecil-besar minta atau genap dan besar-kecil tolak atau ganjil.

Selamjutnya mari kita lihat tentang signal UDCA. Signal ini merupakan metode sinyal yang sekarang cukup populer selain standard signal. UDCA adalah upside down count attitude.
UDCA sendiri sebenarnya methodenya sama dengan Standart Signal. Bedanya hanya memutar balikan antara besar dan kecil.

Kalau dalam standart signal besar itu minta atau genap maka dalam UDCA terbalik besar itu tolak dan kecil itu genap. Dalam hal suit preference tidak ada bedanya untuk dibalik atau tidak.
Masing-masing punya plus dan minus, pilihan ada pada partnership untuk memilih signal yang digunakan.(Penulis adalah pemain dan pemerhati bridge).

TINGGALKAN KOMENTAR