INI adalah pengantar; Hardimen Koto — The Soccer Traveller — buku perjalanan jurnalistik yang asyik punya. Teman-teman yang minat buku ini segera kontak atau mampir di wall FB Hardimen Koto …
…………………………………………………..
MUSIM gugur sedang menyelimuti Cina. Waktu tertentu yang bertalian dengan keadaan iklim, itu, ditandai dengan mulai turunnya hujan; di Negeri Tirai Bambu itu, meski daun-daun mengering, warnanya tetap terlihat indah.
Salah satu musim – di Cina terdapat empat musim; semi, panas, dingin, dan gugur – ini, saya rasakan ketika berada di Great Wall; suhu udara 10 derajat Celcius terasa menggigit tulang, intensitas hujan yang terbatas memberikan kesejukan, juga kehangatan. Angin berhembus cepat, seolah membuka lebar-lebar setiap langkah, siapa pun.
Ketika menikmati Tembok Cina di gerbang utama, di Badaling – sekitar satu setengah jam naik kereta api dari Stasiun Huangtudian –, tiba-tiba saya melihat punggung seorang lelaki yang saya kenal baik. Cepat-cepat saya mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya. “Ini pasti orang Minang pertama yang berada di Great Wall,” kata saya.
Lelaki itu terkejut dan membalikkan badan. Dia adalah Hardimen Koto dan seketika dia meledakkan tawa. “Angin telah membawa kita pergi jauh hingga ke Cina dan bertemu di Tembok Cina,” kata Hardimen. Kami pun saling berpelukan.
Saya tidak bertemu Hardimen di Forbidden City di Distrik Dongcheng. Juga tidak di Tiananmen Square; lapangan bersejarah yang terletak di luar pintu selatan Istana Kuno Dinasti Ming dan Qing. Tapi di halaman Stadion Buruh, Beijing, saat pembukaan Asian Games Beijing 1990.
Pesta olahraga Asia yang berlangsung 22 September – 7 Oktober yang, bertepatan dengan musim gugur tiba, itu, dibuka oleh Presiden Cina Yang Shankun.Pertemuan 31 tahun lalu itu, buat saya, sangat berkesan. Di sana, saya leluasa mengenal lebih jauh Hardimen Koto; sosok yang bersahaja, lelaki yang berpikir serta melangkah jauh; beratus-ratus kilometer yang kelak ia tempuh. Wartawan cerdas dan berani sesuai yang ingin ia raih. Diam-diam saya mengaguminya. Dia adalah kawan baik, sahabat yang mengasyikkan, dan saudara yang menyenangkan.
Hardimen Koto — dia tidak lahir di Padang, tapi di Jambi. Tiga bulan setelah ia dilahirkan pada 18 Juli 1963, Memen kecil diboyong kedua orang tuanya ke Bukittinggi sebelum menetap di Padang. “Bapak gue pedagang emas. Usaha yang diteruskan kakak-kakak gue. Gue lari sendiri jadi wartawan,” kata Hardimen.
Hardimen Koto adalah wartawan hebat dengan perjalanan karier jurnalistik yang panjang. Dia mulai dari Semangat Padang (1983), sebelum berlabuh di sejumlah media; Singgalang Padang (1984 – 1989), Surya (1989 – 1990), Persda – Kompas (1990 – 1991), Mingguan Bola (1991 – 1995), GO (1995 – 2000).
Hardimen tak hanya unggul membuat laporan dari liputan-liputan kemana ia ditugaskan, tapi cakap dan mampu menulis hasil pengamatan dan penglihatannya. Bahasa tulisnya sama baiknya dengan bahasa lisannya; dia bisa menari-nari di kertas putih yang bakal disesaki kalimat-kalimat yang mudah dipahami. Dia merangkai kata demi kata menjadi narasi; pengisahan suatu cerita atau kejadian yang membuat jantung pembacanya seperti tertusuk-tusuk.
Sebagai wartawan olahraga – khususnya sepak bola –, Hardimen adalah “Sepak Bola Brasil”, yang mengutamakan keindahan.
“The Soccer Traveller” adalah perjalanan sepak bola Hardimen Koto. Buku ini berisi catatan-catatan HK di banyak negara di berbagai belahan dunia. Kisah-kisah perjalanan ini ia tulis dengan rapi dan memikat sejak dari kata pertama.
Hardimen Koto tak hanya menulis pengalamannya ketika menjadi jurnalis Indonesia pertama ke Tunisia, meliput Piala Afrika 2004, pergi ke Spanyol tuk mengisahkan kota-kota sepak bola, sebut saja, Barcelona, Madrid, Valencia.
Dia juga pergi dan menulis di sejumlah negara sepak bola; Italia, Prancis, Australia, Jepang, Qatar, Cina, Belanda, Arab Saudi, Inggris, Rusia, Thailand, Vietnam, Singapura, Uni Emirat Arab, hingga Lebanon.
Saya kembali mengingat pertemuan dengan Hardimen Koto di Great Wall, Cina, 31 tahun lalu. Jika dulu dia mengatakan bersama saya dibawa angin pergi jauh hingga ke Cina, hari ini saya harus menyambut, juga memberikan penilaian penuh dengan mengatakan;
“Angin telah membawa Hardimen Koto ke banyak negara dan menulis catatan-catatan perjalanan dengan indah. Dia yang menulis dengan hatinya. (YON MOEIS)

TINGGALKAN KOMENTAR