Siap Siap untuk Kecewa” , kata kata itu yang saya katakan menanggapi anthusias para orang tua petenis yunior Indonesia. Ucapan itu sudah keluar sejak menyelenggarakan turnamen Persami( pertandingan sabtu minggu) piala Ferry Raturandang di Pusat Tenis Danamon( Kemayoran) tahun 1996 lalu . Karena melihat ambisi orang tua akan prestasi yang ditunjukkan putra putrinya.

Sampai saat ini ( 2021) pun masih ada keluhan orang tua karena merasa perlakuan para pembina yang dianggap memihak atau tidak adil. Sedangkan dikenal ” fair play ” selalu dimintaķan kepada pelaku pelaku olahraga hanyalah slogan belaka. Akibat dari adanya konflik kepentingan yang sulit dipungkiri.

Kenapa sampai keluar seperti dalam judul artikel ini. Ini perlu diketahui. Kecewa kepada siapa ? Karena tenis merupakan olahraga individu wajarlah para pelakunya lebih menonjol ” ego” nya.

Kecewa kepada putra putrinya juga bisa, karena bujukan pelatih yang berani memberikan jaminan kalau ditanganinya bisa jadi juara. Janji seperti ini ada juga pelatih yang lakukan. Tetapi lupa putra putrinya bermain tenis atas kemauan orang tua sehingga tanpa disadari sebenarnya tenis hanya mengikuti kemauan orang tua sehingga jangan bisa diharapkan prestasi seperti tuntutan orang tua.

Kemudian kecewa kepada pelatih juga sering terjadi. Mengikuti tempat pelatihan dari pelatih tersebut karena bujukan pelatih atau karena nama besar pelatih tersebut.Kecewa terhadap perkumpulan atau klub yang tempat bernaung putra putrinya.

Kecewa terhadap induk organisasi tenis di Indonesia yang dikenal sebagai Pelti( Persatuan Tenis seluruh Indonesia).Kenapa bisa kecewa dengan Pelti, yang setiap ganti kepengurusannya selalu berubah kebijakan kebijakannya. Pelti baik tingkat Pusat atau tingkat Provinsi maupun tingkat Kotamadya atau Kabupaten, memiliki kebijakan tersendiri dalam sistem seleksi atletnya baik untuk pemilihan dalam pelatda/pelatnas. Mungkin pengaruh otonomi daerah sehingga bisa terjadi begitu.

Perlu aturan yang baku demi perbaikan untuk pertenisan nasional. Ini setiap tahun selalu ada keluhan orangtua yang mayoritas bukan pelatih tenis bahkan mungkin juga bukan petenis rekreasi sekalipun.

Solusinya tentu ada. Karena setiap seleksi selalu diselingi protes para orang tua. Buatlah ketentuan seleksi yang baku. Karena beberapa ketentuan terdiri dari beberapa klausul tetapi dimentahkan oleh klausul ” hak prerogative pengurus ” yang ternyata paling dominan dalam mengambil keputusan.

Misalnya dibuat untuk seleksi ketentuan yang baku. Seperti memiliki peringkat dunia ( tentunya ada batasannya sampai peringkat berapa), baru dilirik peringkat nasional ( PNP), dan baru cantumkan wild card dari pengurus. Dalam dunia tenis dikenal dalam turnamen istilah wild card yang merupakan hak dari penyelenggara turnamen. Kenapa muncul istilah itu, karena terlambat mendaftar atau tidak memiliki peringkat yang memadai untuk diterima dan atau juga kepentingan sponsor.

Semua itu diumumkan bersama dengan beredarnya informasi seleksi.Menghadapi keluhan orang tua mengenai seleksi yang terjadi didaerah tertentu, tentunya harus berikan motivasi tertentu agar tidak menyerah dengan situasi tersebut.

” Tidak perlu Anda kuatir. Masih panjang ada prosesnya. Goals putra dan putri Anda adalah jadi juara dunia bukan juara lokal. Karena banyak benefitnya kalau juara dunia. Anggap saja selingan disini, lebih baik konsentrasi go international”

Sedangkan yang tidak kalah penting pula agar melibatkan psikolog olahraga jika melihat situasi demikian dimana segera bisa diatasi masalah yang terjadi pada putra putrinya. ( August Ferry Raturandang, pegiat tenis).

TINGGALKAN KOMENTAR