Perseteruan Syafrizal Bakhtiar dengan Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB.PSTI) tampaknya makin memanas. Syafrizal yang gagal menjadi calon Ketua Umum PB.PSTI periode 2021-2020 dalam Munas PSTI 2020 di Icuk Sugiarto Tranning Camp (ISTC) Cisaat, Sukabumi, Jabar itu masih tetap melakukan manuver termasuk bagaimana menggoyang kepengurusan PSTI yang sah di bawah komando Asnawi Abdul Rachman.

Dalam Munas PSTI yang melibatkan 24 Pengprov dan dihadiri sejumlah petinggi KONI Pusat itu Syafrizal gagal menjadi bakal calon Ketua Umum PSTI karena terganjal persyaratan administratif. Alhasil sang petahana Asnawi Abdul Rachman melenggang mudah menuju kursi nomor satu induk organisasi sepak takraw nasional itu.

Jika toh Syafrizal lolos dalam verifikasi, Ketua Umum Pengprov PSTI Sumbar itu juga dipastikan tak akan bisa mengungguli petahana Asnawi Abdul Rachman. Pasalnya jauh sebelum Munas berlangsung, Asnawi sudah diusung oleh 24 Pengprov, itu artinya Syafrizal bagai bermimpin di siang hari bolong.

Kepengurusan PSTI pimpinan Asnawi pun sudah dilantik oleh KONI Pusat, 3 Pebruari 2021 lalu. Namun lagi-lagi Syafrizal bermanuver dengan mendesak KONI agar tidak mengakui hasil Munas PSTI 2020 itu.

Upaya Syafrizal mentok alias gagal total, KONI tetap melantik dan mengukuhkan  ”Kabinet” PSTI pimpinan Asnawi. Landasan KONI jelas karena Munas PSTI 2020 itu sudah memenuhi persyaratan organisasi dan hukum. Tak ada sedikit pun celah yang bisa diterobos oleh kubu Syafrizal yang pada saat bersamaan dengan Munas di ISTC juga  menggelar Munas tandingan.

Dengan membentuk Paguyuban Sepak Takraw Indonesia, Syafrizal mencoba membentuk opini bahwa Munas PSTI 2020 di ISTC cacat hukum. Pria yang juga pengusaha asal Sumbar ini tidak menyadari bahwa Munas tandingan yang diprakarsainya lebih cacat hukum. Selain jumlah Pengprov yang hadir tidak qourum, status kepengurusannya juga kadaluwarsa.

Manuver Syafrizal tidak berhenti di situ saja, menjelang Kongres ASTAF, 1 Maret mendatang, dia kembali melakukan manuver dengan menyebut PSTI tidak tahu organisasi terkait pengajuan dua nama oleh PSTI yakni Asnawi Abdul Rachman dan Hendi Zaenudin.

Syafrizal yang selalu mengklaim dirinya sangat dekat dengan petinggi ASTAF seperti sang Presiden Datu Abdul Halim Bin Kader itu menyebut untuk menjadi anggota atau pengurus teras ASTAF tak harus melalui usulan Federasi Sepak Takraw dari suatu negara. Jadi intinya Syafrizal maju ke Kongres ASTAF nanti tak perlu membawa surat mandat dari PSTI.

Sangat disayangkan seorang Syafrizal yang nota bene adalah orang sepak takraw punya pemikiran seperti itu. Dia lupa bahwa selama ini yang merekomondasikan dirinya menjadi pengurus ASTAF adalah PSTI dalam hal ini Asnawi Abdul Rachman.

Syafrizal bagaikan ”udang tak tahu bungkuknya” maksudnya kesalahan sendiri tidak mau tahu karena sibuk dengan urusan orang lain. Padahal Asnawi sendiri sejak terpilih sebagai Ketua Umum PB.PSTI pada Munas 2020 di ISTC itu sudah berulang kali mengatakan bahwa terbuka pintu lebar-lebar bagi mereka yang berseberangan termasuk Syafrizal untuk bersama-sama membangun sepak takraw Indonesia jauh lebih baik ke depan. (Suharto Olii)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR