JAKARTA-(TribunOlahraga.com)
Cabang olahraga angkat besi memang pantas menjadi andalan Indonesia pada setiap pelaksanaan Olimpiade. Sejak Olimpiade Sidney, Australia hingga Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil 2016, angkat besi konsisten dalam menyumbang medali bagi Kontingen Merah Putih pada ajang pesta olahraga dunia empat tahunan tersebut. 

Sejarah kejayaan angkat besi Indonesia itu dimulai dari lifter putri pada Olimpiade Sidney, Australia 2000 dimana Lisa Rumbewas meraih medali perak, Sri Indriyani (48kg) dan Winarni (kelas 53kg) dengan medali perunggu. Kemudian, Lisa yang turun di kelas 53kg kembali meraih perak di Olimpiade Athena 2004 dan Olimpiade Beijing 2008 dengan perunggu.

Di Olimpiade Beijing 2008, lifter putra mulai mengikuti jejak lifter putri. Eko Yuli Irawan yang turun di kelas 56kg putra meraih perunggu dan Triyatno (kelas 62kg) sukses meraih perunggu. Lalu di Olimpiade London 2012, Eko meraih perunggu kelas 62kg dan Triyatno meraih perak kelas 69kg putra. Kedua jagoan angkat besi ini tampil sebagai penyelamat muka Indonesia saat tak satupun medali disumbangkan cabang bulu tangkis.

Terakhir, Indonesia mendapat tambahan satu medali perak di Olimpiade London lagi melalui lifter putri, Citra Febrianti (kelas 53 kg putri). Citra yang berada di peringkat keempat mendapatkan perak setelah peraih emas asal Kazakstan, Zulfiya Chinshanlo, dan peraih medali perak dari Moldova, Cristina Iovu, terbukti menggunakan doping. Akibatnya, medali kedua lifter ini dicabut pada Oktober 2020.

Konsistensi penyumbang medali itu kembali dipertahankan pada Olimpiade Rio de Janeiro Brasil 2016. Malah, Eko yang tadinya meraih perunggu di London kembali meraih perak dan Sri Wahyuni yang turun 48kg putri merebut perak,

Kebanggaan semakin lengkap tatkala dari Olimpiade ke Olimpiade statistik jumlah lifter Indonesia yang mendapatkan tiket semakin besar. Di Olimpiade Sidney 2000 hanya tiga lifter putri. Yakni, Lisa Rumbewas, Sri Indriyani, dan Winarni (58 kg). Di Olimpiade Athena
2004 terdapat empat lifter putri. Yakni, Lisa Rumbewas, Sri Indriyani, Winarni dan Supeni.

 

Di Olimpiade Beijing 2008 terdapat 5 lifter terdiri 4 putra dan 1 putri. Yakni, Eko Yuli Irawan (56 kg), Triyatno (62kg), Eddy Kurniawan (69kg), Sandow Wildemar Nasution (77kg), dan Lisa Rumbewas (53kg).

Peningkatan jumlah lifter juga terjadi pada Olimpiade London 2012. Sebanyak 6 lifter (5 putra dan 1 putri) mendapatkan tiket. Yakni, Jadi Setiadi (56kg), Eko Yuli Irawan (62kg), Hasbi Muhamad (62kg), Deni (69kg), Triyatno (69kg), dan Citra Febrianti (53kg).

Begitu juga pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016 dimana ada 7 lifter (5 putra dan 2 putri). Yakni, Eko Yuli Irawan (62 kg), Muhamad Hasbi (62kg), Triyatno (69kg), Ketut Ariana (69kg), Deni (69kg), Sri Wahyuni Agustiani (48 kg), dan Dewi Safitri (53kg).

Peningkatan jumlah lifter yang terjadi pada Olimpiade itu tidak terlepas dari kesuksesan PB PABBSI (red-saat belum berubah menjadi PB PABSI) mencetak lifter yang meraih prestasi di ajang internasional. Sebab, tiket yang diraih itu berdasarkan peringkat Indonesia yang masuk dalam 7 besar dunia pada Federasi Angkat Besi Internasional (IWF).

Lifter putri, Lisa Rumbewas. (Foto:bolasport.com)

Di Olimpiade Tokyo 2021, IWF telah mengubah kebijakan dengan hanya memberikan tiket kepada lifter yang menduduki peringkat 1 hingga 8 baik putra maupun putri plus 6 lifter terbaik dari Continental. Dalam aturan IWF juga disebutkan setiap negara hanya mendapat tiket 1 lifter pada kelas yang dipertandingkan.

Artinya, jika ada salah satu negara yang menempatkan dua atau tiga lifternya berada di peringkat atas secara otomatis lifter yang berada di bawahnya langsung naik menempati posisi salah satu atau dua lifter yang berada di peringkat 1-8.

Kebijakan IWF ini terkait dengan penurunan jumlah lifter yang tampil di Olimpiade. Pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016 terdapat 260 lifter sedangkan di Olimpiade Tokyo 2021 hanya 169 lifter yang tampil di 14 kelas. Praktis, perjuangan lifter untuk mendapatkan tiket menuju ke Olimpiade semakin berat karena ditentukan dengan prestasi internasional yang dicapainya.

Kebijakan IWF ini secara otomatis akan berdampak terhadap negara yang biasa menurunkan lebih dari satu lifter termasuk Indonesia. Wajar jika Indonesia tidak mampu menyamakan jumlah lifter yang pernah diloloskan ke Rio de Janeiro ke Tokyo. Seperti dilontarkan Ketua Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) PB PABSI, Hadi Wihardja bahwa hingga kini baru tiga lifter yang diperkirakan lolos ke Olimpiade Tokyo 2021. Yakni, Eko Yuli Irawan (61kg putri), Windy Cantika Aisah (49kg putri), dan Nurul Akmal (+87kg putri).

Berdasarkan peringkat IWF, Eko Yuli menempati peringkat kedua di bawah lifter China, Li Fabin. Lalu, Windy Cantika Aisah menempati peringkat ke-7 kelas 49kg. Posisi Windy Cantika Aisah dipastikan naik peringkat ke-6 karena ada dua lifter China yakni Jiang Huihua (peringkat 2) dan Zhang Rong (peringkat 5).

Sedangkan Nurul Akmal menempati peringkat ke-12 di kelas +87kg akan naik ke peringkat 9 mengingat China menempatkan tiga lifter dan Korea Selatan dengan dua lifter di atasnya. Ketiga lifter Cina itu adalah Li Wenwen (peringkat 1), Xioman Zhou (2), Meng Suping (4) dan lifter Korea Selatan adalah Lee Seon Me (9) dan Son Yonghoee (10).

Selain Eko, Windy Cantika dan Nurul Akmal, Indonesia masih punya satu lifter yang berpeluang menembus peringkat 8 untuk tampil di Tokyo nanti yakni Deni yang menempati peringkat ke-14 kelas 67kg. Hanya saja, Deni sudah tidak tercatat lagi sebagai lifter pelatnas Olimpiade sejak Maret 2021.

Posisi peraih medali emas SEA Games Filipina 2019 ini akan naik ke peringkat ke-7 karena ada 7 lifter peringkat di atasnya yang akan tercoret. Yakni, Eko Yuli Irawan yang menempati posisi ke-2 akan tampil di kelas 61kg dan Mayora Pernia Julio Ruben naik ke kelas 73kg. Lalu, 3 dari 4 atlet dari China, 1 dari 2 lifter Uzbekistan dan 1 dari 2 lifter Kolumbia tercoret.TOR-08

 

TINGGALKAN KOMENTAR