JAKARTA-(TribunOlahraga.com)

NGGAK usah ngomong wartawan sepakbola  éra 1990-an jika tak menyebut nama Hardimen Koto. Sejak pindah dari harian Singgalang di Padang ke tabloid BOLA dan bergabung dengan dedengkot wartawan seperti almarhum Sumohadi Marsis, Hardimen melanglang ke hampir seluruh peloksok dunia.

Ia menyebut dari Thailand hingga Italia, dari Prancis hingga Cina, dari Jepang hingga Qatar, dari Kamboja hingga Belanda, dari Arab Saudi hingga Vietnam, dari Singapura hingga Rusia.

Kiprah itu, dengan kisah-kisah seru, unik, lucu, ditulis Hardimen secara apik dalam buku setebal 116 halaman berjudul ‘Hardimen Koto: The Soccer Traveler’.

Kisah-kisah itu, antara lain bagaimana ia melukiskan seperti apa rasanya menjadi wartawan sepakbola Indonesia pertama yang meliput Piala Afrika di Tunisia. Juga terpaksa antré tiga jam untuk berjumpa dengan pesohor sepakbola asal Brasil. Pele.

Dalam hal menulis berita, Hardimen bisa disebut salah satu yang terbaik di Indonesia. Renyah seperti kerupuk baru digoreng, indah, dan tentu saja mengalir. Hal-hal yang ringan menjadi terasa berkesan karena dilukiskan dengan kata-kata yang terkadang puitis khas Urak Awak.

Sepanjang kariérnya di dunia kewartawan sepakbola, Hardimen, misalnya sudah menginjakkan kaki di markas Barcelona, merambahi Kota Madrid, jumpa Pele di London, berendeng dengan Johan Cruyff di Amsterdam, ketemu legenda Iran Ali Daei di Beirut, berjabat tangan erat dengan Franz Beckenbauer di Singapura, dan banyak lagi.

Buku ‘Hardimen Koto: The Soccer Traveller’ ini juga dikemas apik, enak dilihat karena dihiasi foto-foto dari berbagai negara dan dalam banyak kesempatan berjumpa para bintang lapangan hijau.

Jika Anda wartawan olahraga, khususnya sepakbola, Anda harus simak-simak kisah-kisahnya. Kisah-kisah yang hampir pasti takkan dialami oleh hampir semua wartawan di éra digital saat ini.TOR-06

TINGGALKAN KOMENTAR