Krisna Bayu bersama para Pengurus Provinsi (Pengprov) Ferkushi setelah dirinya terpilih sebagai Ketua Umum PB.Ferkushi periode 2021-2025 dalam Munaslub Ferkushi yang berlangsung 6 April 2021 di Hotel Erian Gondangdia Menteng Jakarta. (Foto/dok)

JAKARTA-(TribunOlahraga.com)
Untuk menjadikan suatu cabang olahraga (cabor) bisa berkembang dengan baik dan terarah tentu harus ada program. Nah menjadi tugas dan tanggungjawab Pengurus Besar (PB) membuat program sebagai acuan atau panduan bagi daerah untuk pengembangan cabor tersebut.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Kurash Indonesia (PB.Ferkushi), Krisna Bayu di Jakarta, Kamis, (8/4/2021) menanggapi apa programnya usai didaulat menjadi orang nomor satu di tubuh organisasi kurash Indonesia itu.

Seperti diberitakan sebélumnya Krisna Bayu resmi menjadi Ketua Umum PB.Ferkushi periode 2021-2025 melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) 6 April lalu di Hotel Erian Gondangdia Menteng, Jakarta Pusat.

Munaslub yang dihadiri 18 Pengprov itu menurut Krisna Bayu sebagai bentuk kekecewaan Pengprov terhadap PB yang tak memiliki program pengembangan dan pěmbinaan terarah dengan baik.

“Bagaimana mungkin cabor kurash.yang masih baru ini bisa berkembang dengan baik kalau tidak didukung program yang jelas oleh PB,”kata legenda hidup judo Indonesia itu.

Sebagai atlet yang dibesarkan daerah, Krisna Bayu merasakan betapa sulitnya daerah melakukan pengembangan. Oleh karenanya menjadi tugas PB untuk mendorong perkembangan cabor kurash ini.

“Dalam program pengembangan ini bukan hanya atlet saja, pelatih wasit dan perangkat pertandingan juga diperhatikan,”tambahnya.

Krisna Bayu kini fokus dalam pengembangan cabor kurash dengan bercermin pada kepengurusan PB sebelumnya.
Ia tak mau menyalahkan kepengurusan PB sebelum karena hanya buang-buang waktu dan eneji.

Mengurus olahraga itu seperti dikatakan Krisna Bayu dengan hati. Tak ada sekat dengan atlet, pengurus baik di tingkat PB maupun daerah. Dengan demikian keharmonisan itu tercipta secara alami.

“Khusus kepada atlet, kita harus dekati mereka dengan hati. Atlet yang bermandikan keringat dalam latihan tidak boleh diposisikan bagaikan buruh dalam sebuah perusahaan,”tutur pria berbadan atletis yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Sambo Indonesia (PB.Persambi) ini.

Terkait perangkapan jabatan di dua cabor itu, Krisna Bayu mengatakan tak masalah.sejauh adanya pendelegasian tugas, wewenang dan tanggungjawab kepengurusan jelas.

“Semua pengurus diberikan kewenangan tugas sesuai bidangnya masing-masing. Jadi tak ada pengurus papan nama”tutur Krisna Bayu yang 4 kali tampil di Olimpiade ini.

Selain fokus pada pengembangan di dalam negeri, Krisna Bayu juga berupaya agar hubungan dan komunikasi dengan federasi kurash internasional harus kuat. Karena bagaimana punPB.Ferkushi sudah menjadi bagian dari federasi internasional.

”Intinya program-program federasi internasional yang berkaitan dengan pengembangan sebisa mungkin kita jabarkan dalam pengembangan di dalam negeri dan ini pasti akan menyentuh kepentingan daerah,”pungkasnya. TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR