PON XX Papua telah berakhir dengan sukses baik penyelenggaraan dan prestasi. Sapu bersih oleh tim Jawa Timur itu fakta tak bisa dihindari. Patut dapat jempol atas prestasi sapu bersih yang sudah lama tidak pernah terjadi.

Tetapi timbul kesan pembinaan didaerah lain kurang menggigit. Itu masalah lain yang harus dibenahi mulai sekarang.

Sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya karena pemainnya semua tim nasional Indonesia yang cukup dikenal.

Bagi orang awam tentunya bangga dengan keberhasilan tersebut. Tapi bagi orang tenis yang mengenal petenis Indonesia pasti lain lagi pendapatnya  Ya ada yang kecewa karena merasa daerahnya tidak menggunakan pemain sendiri. Wajar wajar saja bahkan anggota Pengprov Pelti sendiri tidak puas atas hasil tersebut.

Perpindahan atlet dari satu daerah ke daerah yang lain masih jadi fenomena yang bertahan lama di Pekan Olahraga Nasional yang katanya PON Prestasi. Dalam hal ini, atlet sama sekali tidak salah.

Karena menurut pengakuan atlet ,  mereka cukup professional dan realistis. Semua membutuhkan dana untuk membeayai try out keluar negeri.

Dan sudah dibuktikan sewaktu sebelum PON beberapa petenis memanfaatkan dana try out ke luar negeri. Ini segi positifnya.

Peluang ini dilihat oleh petinggi KONI Provinsi bersama Pelti setempat, sehingga mengambil jalan pintas. Ada yang mengatakan daripada membina atlet, butuh waktu dan juga dana lebih besar.

Lebih mudah jalan pintas dan juga membantu pertenisan nasional sendiri. Tapi tentunya lupa kalau melukai atlet daerah sendiri sehingga terjadi demotivasi.

Biasanya dilakukan oleh petinggi olahraga yang belum pernah menjadi atlet tenis daerahnya.

Regulasi sudah dibuat oleh KONI Pusat sebagai yang punya hajatan. Disinilah butuh sportivitas yang perlu  diajarkan kepada petinggi2 KONI Provinsi yang memafaatkan kelemahan kelemahan regulasi tersebut.

Hal yang perlu diperhatikan adalah persyaratan KTP, yang mudah  didapatkan. Yang jelas tinggal dan berkeluarga maupun bersama orangtua di Jakarta bertahun tahun dengan mudahnya mendapat KTP baru.

Tuan rumah kali ini kalah pamor dibandingkan tetangganya, Papua Barat. Ternyata Papua Barat lebih unggul dalam perolehan jumlah medali walaupun sama sama menggunakan atlet ” binaannya”. Sama sama peroleh medali perak dan kalah jumlah perunggu didapat.Selama mengikuti PON prestasi Papua Barat kali ini yang terbaik.

Yang patut mendapat apresiasi adalah daerah sejak lama konsisten gunakan atlet binaan sendiri. Ada beberapa daerah. Dan juga munculnya beberapa petenis yunior dalam arena PON XX Papua kali ini. Ada yang berhasil sebagai pemenang dengan medali perunggu.

Yang jadi pertanyaan adalah pemerintah sudah mencanangkan Disain Besar Olahraga Nasional,  apakah bisa dilaksanakan ?

Walaupun diperkuat dengan KepPres sekalipun. Memang agak pesimis melihatnya selaku pelaku tenis. Karena kenyataan yang terjadi  Undang Undang No 3 tentang SKN yang lebih kuat hukumnya bisa dilanggar oleh pelaku pelaku olahraga.

Disini tugas petinggi Kemenpora untuk meyakinkan petinggi KONI Provinsi maupun cabor tersebut selaku induk organisasi olahraga di Indonesia.

Jangan sampai dikatakan kita pandai merumuskan prigram program baru tapi tidak bisa melaksanakannya.

Dari hasil PON XX Papua bisa diambil hasil positifnya. Munculnya petenis petenis muda perlu mendapat perhatian oleh induk organisasi Tenis. Munculnya M Althaf D yang sudah pernah dipanggil masuk pelatnas hanya sekali saja, Priska Madelyn Nugroho, Fitriana Sabrina, Fitriani Sabatini yang perlu dibina ketingkat internasional.

Disini peranan induk organisasi Tenis perlu sadar akan kepentingan nasional . Sistem recruitment perlu dirubah. Yaitu seleksi merupakan jawaban terhadap kesan pilih kasih yang selama ini makin subur saja.

Baik dibuat aturan yang seharusnya untuk seleksi dipakai patokan aturan menjadi pemain nasional. Buntut buntutnya berdasarkan selera saja sehingga mematikan semangat kompetisi yang seharusnya dipupuk.

Ayolah fondasi sudah terbentuk dengan frekuensi turnamen2 yunior makin semarak tapi tidak diimbangi dengan turnamen2 senior.

Wajib induk organisasi tenis segera lakukan perubahan yang mendasar. Jika tidak, maka kebanggaan selama ini waktu junior petenis Indonesia sanggup mengalahkan petenis dunia. Setelah senior lenyap tak berbekas.

Kita masih boleh bangga petenis putri yang akhir2 ini berkiprah jauh lebih maju dibandingkan petenis putra. Ayo torang bisa !(August Ferry Raturandang)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR