Garuda Pertiwi kembali mengangkasa ke langit Asia. Waktu penantian 33 tahun sangatlah panjang. Pantas jika prestasi gemilang yg diperlihatkan timnas sepakbola putri di Stadion Republican Central, Dushanbe, Tajikistan pada 24 dan 27 September 2021 lalu disambut gembira dan mendapat apresiasi tinggi masyarakat.

Rakyat Indonesia sudah menanti moment bersejarah ini selama 33 tahun. Garuda Pertiwi terakhir berlaga di Piala Asia Wanita di Hongkong 1989.

Bahkan melalui akun resminya AFC memberikan ucapan selamat atas sukses Indonesia setelah penantian panjang 33 tahun.

Keberhasilan mengalahkan Singapura (agregate 2-0) di Tajikistan membawa Baiq Aminatun dan kawan2 tampil di Piala Asia Wanita di India pada 20 Januari – 6 Februari 2022.

Akan bersaing dgn 12 tim elit Asia lainnya, bersama juara bertahan Jepang (juara 2014 dan 2018) yg juga juara dunia 2011. Termasuk raksasa sepakbola wanita Asia, Tiongkok (8 gelar Piala Asia) dan “ratu” sepakbola Asia Tenggara, Thailand (4 gelar Piala AFF).

Yang menarik sekaligus menantang Piala Asia Wanita 2022 di India juga menjadi ajang kualifikasi Piala Dunia Wanita 2023 di Australia dan Selandia Baru.

Seperti yg ditegaskan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan, Indonesia sangat bangga karena dgn kerja keras pantang menyerah akhirnya berhasil menembus jalur utama persaingan di kelompok elit Asia.

Bahkan dunia. Besar atau kecil, peluang Garuda Pertiwi utk memburu tiket ke Piala Dunia Wanita 2023, tetap terbuka.

Selalu ada peluang dalam sepakbola. Seperti kata John Barr, analis dan pencari bakat ternama dari Skotlandia yg pernah menjadi mentor Sir Alex Ferguson: “sepakbola adalah permainan yang sulit diprediksi.

Hasil apa saja bisa terjadi”. Ada waktu tersisa tiga bulan bagi pelatih Rudy Eka Priyambada utk mempersiapkan timnya secara lebih intensif.

Mengutip Iwan Bule, modal utama kita adalah optimisme dan semangat juang. Dan itu sudah diperlihatkan Octavianti Dwi Nurmalita dan kawan2.

Bicara tentang perkembangan sepakbola wanita di Indonesia saya teringat kawan lama, Muthia Datau. Muthia adalah bintang dan legenda sepakbola wanita Indonesia thn 1980-an. Dia menjadi idola, ikon, sekaligus pesona sepakbola wanita Indonesia tempo itu.

Muthia menjadi kiper utama Garuda Pertiwi saat Indonesia pertamakali berlaga di Piala Asia Wanita 1977 di Taiwan dan 1981 di Hongkong. Banyak kalangan menilai, Muthia adalah kiper timnas wanita terbaik yg pernah ada.

Kesemarakkan kompetisi Liga Sepakbola Wanita (Galanita) waktu itu sejak 21 April 1980 (mengambil momen hari Kartini) tdk terlepas dari sosoknya yg tekun berlatih, disiplin, ulet dan menjadi panutan di dalam maupun luar lapangan.

Selain pesona kecantikannya yg dikagumi banyak orang. Muthia gantung sepatu 1986 dan melanjutkan kariernya sebagai bintang film layar lebar.

Pada banyak kesempatan, Muthia bercerita kepada saya bagaimana dia mulai tertarik main bola sejak usia 13. Bahkan dia harus berhadapan dgn keinginan orangtuanya yg berbeda.

Tapi Muthia menjawab semuanya dgn prestasi nyata di lapangan hijau. Harapan kita semua, akan semakin banyak bermunculan pengganti2 Muthia Datau.

Momentum bersejarah lolosnya tim Garuda Pertiwi ke Piala Asia 2022 (setelah 1977, 1981, 1986 dan 1989), akan lebih mendorong daya tarik bermunculannya talenta2 berbakat sepakbola wanita di seluruh tanah air. (Agus Liwulanga, wartawan senior dan pengamat sepakbola).

TINGGALKAN KOMENTAR