Pekan Olahraga Nasional ( PON ) sesuai dengan tujuan awalnyĆ  adalah pemersatu bangsa kemudian berkembang inginnya PON Prestasi sejalan dengan tuntutan zaman.

Jika pertama kali Pekan Olahraga Nasional ( PON ) I th 1949 digulir dengan tujuan mempersatu bangsa maka PON XX 2021 kembali lagi ketujuan pertama itu. Sesuai pula dengan kata sambutan Pesiden Jokowi saat pembukaan PON XX 2 Oktober lalu. Memang tepat sekali dikatakan PON Pemersatu Bangsa dibandingkan PON Prestasi.

Wajar disebutkan demikian karena situasi negara saat ini dengan ribut ribut soal politik membuat bangsa terpecah belah sehingga dibutuhkan sarana olahraga tepatnya yang bisa mempersatukan bangsa kita. Apalagi situasi Papua saat ini diselingi dengan teror yang terjadi di pegunungan pegunungan di Papua.

Teringat saat yang sama terjadi pada PON V 1961 di Bandung dimana saat itu suasana DI / TII. Waktu siang pertandingan berjalan lancar, sebagai peserta saat itu tidak ada kekuatiran tetapi waktu malam terlihat kearah pegunungan pembakaran pembakaran yang dilakukan oleh gerombolan saat itu. Keamanan peserta terjamin karena saat itu peserta ada kebagian tempat akomodasi di asrama tentara di Tegalega.

Yang jadi pertanyaannya kapan bisa jadi PON Prestasi. Sebaiknya dievaluasi dulu pelaksanaan PON selama ini.

Sebaiknya KONI bersama Kemenpora duduk bersama membicarakan rencana Pemerintah dengan programnya Grand Design Olahraga Indonesia. Tujuannya agar prestasi itu bisa terprogram apik mulai dari PORPROV, PON, SEA GAMES, ASIAN GAMES dan Olimpiade.

Disamping itu jenis pertandingan disesuaikan dengan cabor Olimpiade. Dan juga apakah cabor tersebut populer di daerah tuan rumah.

Sebaiknya cabor diperkecil, jangan semua cabor anggota KONI ikut PON. Bayangkan di PON XX ada yang dipertandingkan cabor hanya diikuti 5 provinsi saja.Disinilah membuktikan kurang selektip dalam pemilihan cabor tersebut.
Seharusnya pemilihan cabor minimal bisa diikuti 15 provinsi.

Disamping itu perlu dipikirkan cabor tersebut telah diselenggarakan kejuaraan nasional dan internasional setiap tahunnya sebagai syarat ikuti PON.
Sudah waktunya cabang olahraga juga dievakuasi kinerjanya.

Belum lagi dibicarakan Pasca PON tersebut. Ternyata dampaknya besar sekali. Akibat cabor tidak populer maka venue venue jadi museum belaka.

Begitu juga induk organisasi menyadari situasi demikian. Buatlah programnya memanfaatkan venue venue PON sehingga tugas induk organisasi memassalkan cabor tersebut didaerah tersebut berhasil.

Intinya hanya segera dibuat turnamen turnanen minimal setahun sekali. Maka secara tidak langsung ketertarikan penduduk setempat untuk lebih mengenal cabor tersebut. Disinilah tugas pemassalan terjadi dan seharusnya dilakukan oleh induk organisasi cabor tersebut.

Sudah waktunya berani move on, jangan berjalan ditempat. Begitu juga aturan PON adalah peserta berdasarkan KTP minimal 2 tahun. Yang terjadi akal akalan saja oleh KONI Provinsi.

Bagaimana kalau 5 tahun. Kalau masih terjadi akal akalan maka jangan harapkan PON Prestasi.Memang banyak PR harus dilakukan tapi kita harus lakukan pembaruan tersebut. Kalau tidak, maka akan terulang lagi kasus kasus lama tersebut.(Penulis adalah pemerhati dan pembina tenis remaja)

TINGGALKAN KOMENTAR