Peluang itu ada di Dushanbe. Kota di Asia Tengah berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa, berada di ketinggian 823 meter diatas permukaan laut. Jika ditarik garis lurus, jarak Jakarta-Dushanbe adalah 6.334 km.

Di sanalah Asnawi Mangkualam dan kawan2 akan berjuang merebut peluang ke Piala Asia U23-2022 (1-19 Juni) di Uzbekistan.

Timnas Merah Putih U-23 akan memainkan pertandingan pertama versus Australia di Republican Central Stadium, Dushanbe, Tajikistan, pada 26 Oktober. Leg kedua 29 Oktober 2021. Tidak boleh ada keraguan sedikitpun menghadapi perang. Apalagi pesimisme.

“Karena pesimisme tidak pernah memenangkan pertempuran apapun”. Itu kata Dwight Eisenhower (presiden AS 1953-1961) panglima tertinggi sekutu yg memenangkan PD II di Eropa. Suka atau tidak, memang ada keraguan ditengah kita.

Bahkan mungkin pesimisme, apakah tim asuhan Shin Tae-yong bisa mengatasi Australia yg lebih diunggulkan? Tapi saya sepakat dgn optimisme, rasa percaya diri dan semangat juang yg terus digelorahkan Ketua Umum PSSI Komjen Pol (Pur) Mochamad Iriawan. Iwan Bule, mendapat apresiasi masyarakat karena terus berupaya melakukan semua hal yg bisa mendukung perjuangan Bagus Kahfi dan rekan2 di Dushanbe.

Kemenangan mengesankan (2-1) atas Tajikistan (19/10) dlm partai ujicoba makin menebalkan optimisme kita. Tajikistan bukan tim sembarangan. Mereka kini berada di peringkat 118 dunia. Kita semua tahu, sepakbola selalu menghasilkan kejutan.

Bahkan bisa berbeda 180 derajat dari prediksi. Fakta yg saya paparkan berikut ini tidak lain bertujuan utk lebih membesarkan optimisme, rasa percaya diri dan semangat juang para pemain timnas Merah Putih U-23.

Bahwa selalu ada peluang dlm sepakbola. Korea Utara membungkam Italia (1-0) di Piala Dunia Inggris 1966. Aljazair mengalahkan tim raksasa Jerman (2-1) di Piala Dunia Spanyol 1982. Maroko membekuk Portugal (3-1) di Piala Dunia Meksiko 1986. Kamerun menekuk juara dunia Argentina (1-0) yg dipimpin kapten Maradona di Piala Dunia Italia 1990. Nigeria membungkam Spanyol (3-2) di Piala Dunia Perancis 1998. Senegal mempermalukan juara bertahan Perancis (1-0) di Piala Dunia Korea-Jepang 2002. Korea Selatan mengalahkan juara dunia Italia (2-1) yg diperkuat super star Gianluigi Buffon, Francesco Totti, Allessandro Del Piero dsb di Piala Dunia 2002. Korsel juga menaklukkan juara eropa 2004 Yunani (2-0) di Piala Dunia Afrika Selatan 2010. Jepang mempecundangi juara Eropa 1992 Denmark (3-1) di Piala Dunia 2010. Afrika Selatan membekap juara dunia Perancis (2-1) di Piala Dunia 2010. Belanda menghancurkan juara bertahan Spanyol (5-1) di Piala Dunia Brasil 2014.

Raja sepakbola dunia Brasil dipermalukan Jerman (1-7) dan dibungkam Belanda (0-3) di rumahnya sendiri pada Piala Dunia 2014.

Masih segar dlm ingatan kita bagaimana tim asuhan Shin Tae-yong (Korsel) mempermalukan juara dunia Jerman (2-0) di Piala Dunia Rusia 2018.

Tim megabintang Argentina dipimpin kapten Lionel Messi dan saat itu dilatih legenda terbesar Maradona, tumbang (1-6) dari tim gurem Bolivia dlm pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2010 zona Amerika Latin.

Pada final Piala Afrika 2012, tim Zambia yg hanya diperkuat pemain lokal menaklukkan tim mega bintang Pantai Gading (8-7) lewat adu pinalti setelah bertarung tanpa gol sepanjang 120 menit.

Kemenangan Zambia sangat mengejutkan. Sebab saat itu Pantai Gading sangat diunggulkan karena diperkuat 12 pemain yg tengah menjadi bintang di klub2 elit Eropa.

Mulai dari kapten Didier Drogba (Chelsea), Salomon Kalou (Chelsea), Yaya Toure dan Kolo Toure (Manchester City), Gervinho (Arsenal), Siaka Tiene (Paris Saint Germain), dsb. Itulah pesona sekaligus misteri terindah dlm sepakbola.

Dalam tulisannya di suratkabar terbitan London, Financial Times, mantan guru Sir Alex Ferguson, John Barr pencari bakat terkenal asal Skotlandia mengatakan: “sepakbola adalah permainan yg paling sulit diprediksi. Bahkan oleh ahli manapun.

Hasil apa saja bisa terjadi”. Ada catatan kecil tapi bermakna besar yg bisa kita jadikan pelecut optimisme, motivasi dan semangat juang. Timnas Merah Putih pernah mengalahkan timnas Uruguay (2-1) dlm pertandingan ujicoba di Stadion Utama Senayan (GBK) 1974.

Saat itu Anwar Ujang cs menekuk Uruguay yg tengah melakukan ujicoba jelang tampil di Piala Dunia Jerman 1974. Tahun 1983,

klub kebanggaan masyarakat Surabaya waktu itu, Niac Mitra mengalahkan Arsenal (2-0) dlm partai ujicoba di Stadion Gelora 10 November Surabaya. Begitu banyak catatan sukses yg pernah diraih tim sepakbola Indonesia.

Lalu bagaimana dgn Australia? Tim U-23 Australia yg kini ditangani Trevor Morgan lolos ke Olimpiade Tokyo 2021 setelah menempati urutan tiga besar di Piala Asia U-23 di Thailand 2020. Dibawah sang juara Korea Selatan, runner-up Arab Saudi bersama Jepang yg lolos otomatis sebagai tuan rumah.

Di Olimpiade Tokyo barusan, mereka sempat mengalahkan Argentina (2-0), tapi kalah (0-1) dari Spanyol dan tumbang (0-2) oleh Mesir, sehingga terhenti di fase grup. Mereka juga belum pernah menjadi juara Piala Asia U-23 dalam empat keikutsertaan sejak 2013.

Jadi Australia bukanlah lawan yg terlalu istimewa untuk dikalahkan. Optimisme, motivasi tinggi dan semangat juang pantang menyerah, akan menjadi kunci kemenangan timnas Merah Putih U-23.

Menarik menyimak pernyataan pelatih Selandia Baru, Ricky Herbert, dalam wawancara dgn harian terbitan Wellington, The Evening Post, usai menahan imbang juara bertahan Italia (1-1) di Piala Dunia Afrika Selatan 2010.

“Saya menginstruksikan para pemain untuk menghadang setiap pergerakan para pemain Italia. Sehingga mereka kesulitan mengatur aliran bola. Dan para pemain saya melakukannya dengan penuh semangat sepanjang 90 menit”.

Selandia Baru mencatat sejarah sebagai satu-satunya tim yg tidak terkalahkan di fase grup Piala Dunia 2010. The All Whites menahan imbang juara bertahan Italia (1-1), Slowakia (1-1) dan Paraguay (0-0).

Padahal Selandia Baru lolos ke Piala Dunia 2010 setelah melalui babak play-off melawan wakil Asia, Bahrain (0-0, 1-0).

Saat itu Selandia Baru juga hanya menempati peringkat 78 dunia. Jadi, jangan pernah ada keraguan. Australia bisa dikalahkan. Karena selalu ada kejutan dalam sepakbola. (Agus Liwulanga, wartawan senior dan pengamat sepakbola).

TINGGALKAN KOMENTAR