Secara teknis, kita bisa melihat ambisi besar tim Australia U-23 mengamankan kemenangan pada leg pertama. Langsung memberikan tekanan tinggi sejak menit awal.

Dengan harapan Asnawi Mangkualam cs akan terkejut dan panik. Tapi yg menarik perhatian saya justru kemampuan para pemain Garuda Muda menahan tekanan tinggi dari para pemain Australia. Bahkan mampu membuka cela melakukan penetrasi balik.

Dua gol Witan Sulaeman dan Taufik Hidayat membuktikan bahwa para pemain Garuda Muda sebetulnya sudah mendapat cela untuk mengantisipasi gempuran tim asuhan Trevor Morgan. Terutama setelah melewati kepungan sengit di babak pertama. Ini tentu akan menjadi bahan evaluasi Shin Tae-yong.

Masyarakat Indonesia tetap bangga dan memberikan apresiasi yg tinggi terhadap perjuangan hebat Ernando Ari Sutaryadi dan kawan2 di Republican Central Stadium, Dushanbe, Tajikistan (26/10). Perlu kita ingat, Australia kini diperingkat 34 dunia (Oktober) dan Indonesia 165.

Kekalahan tipis 2-3, justru membuka peluang untuk kesiapan pada leg kedua Jumat (29/10). Karena secara teknis Shin Tae-yong sudah memiliki bahan evaluasi up to date yg utuh yakni pertandingan selama 90 menit. Dengan demikian, ada cela yg bisa dimanfaatkan secara efektif utk partai kedua.

Mencetak dua gol ditengah presure tinggi dan kendali permainan Australia, bukan hal mudah. Dari sinilah secara teknis saya melihat ada peluang yg terbuka pada partai menentukan di leg kedua.

Australia tentunya akan tetap memanfaatkan keunggulan bola2 atas terutama di kotak pinalti. Dengan pola presure tinggi sejak menit awal. Karena strategi ini mereka anggap berhasil memberikan kemenangan. Tapi sekali lagi, soal teknis, taktik dan strategi tim Garuda Muda, tidak ada yg lebih paham dari Shin Tae-yong.

Untuk tetap menjaga optimisme kita seperti yg selalu digelorahkan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan atau Iwan Bule, saya ingin kembali menceritakan apa yg terjadi pada 17 November 1993 di Stadion Parc des Princes, Paris.

Tim nasional Perancis yg tempo itu diperkuat pemain bintang seperti Eric Cantona, Jean-Pierre Papin, Didier Deschamps dkk, tinggal membutuhkan satu hasil imbang (1 nilai) dari dua laga tersisa kualifikasi zona Eropa utk lolos ke Piala Dunia Amerika Serikat 1994.

Dua lawan terakhir diatas kertas bukan lawan berat Perancis yg kala itu ditangani pelatih Gerard Houllier. Yaitu Israel dan Bulgaria. Tapi apa yg terjadi? Partai tersisa pertama mereka dipermalukan Israel (2-3).

Pertandingan hidup-mati partai terakhir lawan Bulgaria pada 17 November 1993 di
Stadion Parc des Princes. Eric Cantona membuka gol menit ke-31.

Rakyat Perancis bersorak. Tapi dua gol tak terduga penyerang Bulgaria, Emil Kostadinov (gol kedua terjadi detik2 terakhir di injury time) membuyarkan impian Perancis utk tampil di Piala Dunia 1994.

Rakyat Perancis makin berduka kareena justru mereka akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 1998. Itulah misteri terindah dlm sepakbola.

Jadi, marilah kita tetap optimis dan terus memberikan dukungan kepada Bagus Kahfi dan kawan2 yg kembali akan berjuang di leg kedua, nun jauh disana di Dushanbe, Tajikistan, yg berjarak 6.334 kilometer dari Jakarta. (Agus Liwulanga, wartawan senior dan pengamat sepakbola)

TINGGALKAN KOMENTAR