Oleh:Suhol Hippy
Awal Desember 2021 masa jabatan Laksma TNI (Purn) Djamhuron P Wibowo, SE. sebagai Ketua KONI DKI Jakarta berakhir. Kegagalan meraih juara umum di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua tidak bisa dipikulnya sendiri.

Dalam tubuh KONI DKI Jakarta banyak jajaran pengurus di dalamnya, baik Wakil, Ketua Harian, Bimpres dan para jajaran pengurus. Hal itu yang membuat masyarakat olahraga mengharapkan, bukan sekedar pimpinan yang harus diganti dari jabatannya, namun jajaran pengurus perlu lengser.

Dengan harapan, roda oranisasi KONI DKI ditempati figur – figur yang layak memajukan prestasi olahraga di ibukota Jakarta. Dengan waktu yang tinggal beberapa hari pimpinan KONI Jakarta memangku jabatannya, masyarakat olahraga menghimbau agar jalannya Musyorda KONI DKI Jakarta segera digelar.

Pasalnya, kalau sempat diundur- undur dengan berbagai alasan, seperti karena penyusunan pertanggung jawaban selama menduduki KONI DKI dan pengiriman kontingen menuju PON XX Papua belum rampung, dikhawatirkan timbul isu – isu yang sumbang.

Melalui pertimbangan itulah masyarakat olahraga DKI menghimbau agar Musyorda KONI DKI Jakarta tepat waktu. Dengan pertimbangan persiapan menuju PON XXI di Sumut dan Aceh waktunya relatif singkat. Apalagi pelaksanaan PON waktunya dimajukan karena bersamaan jadwal Pilkada maupun Pilpres yang digelar serempak tahun 2024.

Melalui pertimbangan singkatnya waktu persiapan menuju PON XXI di Sumut dan Aceh, sudah selayaknya Musyorda digelar tepat waktu, maksimal Januari 2022.

Kegagalan meraih juara umum dua kali di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 Jabar dan 2021 di Papua secara berturut-turut bagi kontingen DKI Jakarta tentunya meninggalkan kenangan pahit dan cukup menyakitkan bagi masyarakat olahraga Ibukota Jakarta.

Pada umumnya masyarakat olahraga DKI Jakarta berharap regenerasi jajaran pengurus, bukan sekedar pimpinan atau Ketua KONI saja. Ketika KONI gagal mempertahankan juara umum di PON 2016 Ketua KONI DKI diganti Djamhuron, sementara jajaran pengurusnya tetap bercokol dan hasilnya sama terpuruk di PON XX Papua tahun 2021.

Kondisi ini menjadi tanda tanya dan harus dilakukan evaluasi besar – besaran. Namun kenyataannya dengan kepemimpinan kurang solid belum mampu menjawab penyebab kegagalan yang dialaminya.

Bahkan terkesan jajaran pengurus KONI DKI Jakarta terkesan mencari-cari alasan atau membela diri dengan mangatakan, secara peringkat perolehan medali lebih bagus dibanding tahun sebelumnya. Padahal yang namanya kalah ya tetap kalah, bukan malah mencari – cari jawaban yang tak berkenan di hati masyarakat Jakarta.

Semoga dengan pengurus baru dan pimpinan KONI yang baru pula, mampu menjawab tantangan untuk menjadikan DKI Jakarta tampil kembali sebagai juara umum di PON XXI di Sumu dan Aceh.(Penulis adalah pemerhati olahraga Jakarta).

TINGGALKAN KOMENTAR