Oleh: Agustinus Liwulanga

Saya kira semua penonton di tanah air bisa melihat lewat live televisi bagaimana Evan Dimas, Asnawi Mangkualam dan kawan2 bermain dgn motivasi tinggi penuh semangat sepanjang 90 menit.

Setidaknya timnas Merah Putih memiliki lima peluang emas mencetak gol. Tapi Afganistan berhasil mencuri gol melalui satu tekanan di mulut gawang Muhammad Riyandi.

Makanya dlm sepakbola dikenal banyak adagium. Kesalahan satu detik bisa menghapus kemenangan selama 89,59 menit. Setiap satu peluang harus menghasilkan dua gol. Garis 16 depan gawang sendiri adalah zona merah.

Sedangkan garis 16 di depan gawang lawan adalah zona hijau. Itu semua menggambarkan bagaimana filosofi sepakbola wajib dimainkan dgn visi yg sangat fokus dan teliti.

Melakukan kesalahan sedikitpun adalah terlarang. Karena bisa membuahkan malapetaka bagi tim. Semua pelatih apalagi sekelas Shin Tae-yong sangat paham hal itu.

Yang pasti banyak pelajaran berharga dari Antalya yg bisa menjadi bahan evaluasi secara lebih serius, fokus, dan detail oleh Shin Tae-yong.

Karena salah-satu tujuan utama dari pertandingan ujicoba adalah melihat dan memetakan setiap kekurangan tim untuk menjadi bahan perbaikan. Pada akhirnya sepakbola adalah soal menang atau kalah.

Seperti kata pelatih yg membawa Jerman juara pertamakali di Piala Dunia Swiss 1954, Sepp Herberger: “sepakbola adalah 22 pemain yang memperebutkan bola selama 90 menit.

Selebihnya adalah teori.” Yang terpenting bagi timnas Merah Putih agar optimisme, motivasi dan semangat juang tetap terjaga dengan baik.

Itulah hal prinsip yg terus dipacu oleh Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan. Termasuk saat Iwan Bule menyerahkan langsung bonus untuk para pemain timnas Merah Putih sesaat sebelum keberangkatan ke Antalya, Turki.

Iwan Bule optimistis, motivasi dan semangat juang Evan Dimas cs tetap membara menatap Piala AFF 2021 di Singapura. (Agus Liwulanga, wartawan senior dan pengamat sepakbola).

TINGGALKAN KOMENTAR