Oleh: Agustinus Liwulanga

Ketika pertandingan sudah berlangsung, hanya ada tiga pihak yg bisa menentukan jalannya permainan. Yaitu wasit, pemain dan pelatih dari pinggir lapangan.

Wajar jika tiga elemen penting ini selalu menjadi target empuk para pelaku kejahatan dalam sepakbola. Di belahan dunia manapun. Pada pertandingan level apapun.

Interpol dan Europol yang melakukan investigasi soal jaringan kriminal sepakbola sejak 2008 merilis data bahwa jaringan internasional ini sudah beroperasi di 80 negara (anggota FIFA).

Polanya memang masih konvensional. Yaitu menyogok wasit, pemain atau pelatih untuk pengaturan skor.

Meskipun para penegak hukum di banyak negara menemukan fakta bahwa jaringan mafia sepakbola ini memiliki kepiawaian dan kelihaian untuk infiltrasi ke dalam managemen pengelola klub atau tim.

Pada 2018, ramai pemberitaan di televisi nasional soal dugaan kasus suap dan pengaturan skor di liga Indonesia.

Bedanya saat itu semua narasumber membeberkan pengalaman pribadinya secara terbuka. Tidak pakai kamuflase wajah, suara, ataupun identitas.

Sehingga semua orang bisa mengenali mereka yg memang bukan orang baru dlm sepakbola Indonesia. Saat itu karena penasaran, saya sempat bertanya kepada kawan saya yg kebetulan waktu itu menjadi pimpinan di salah-satu televisi berita nasional yang memberitakan permasalahan tersebut.

Saya tanya, bagaimana caranya anda bisa yakin dgn kebenaran cerita yg diungkapkan si narasumber?

Kawan saya itu menjawab: “saya sebetulnya juga ragu. Tapi karena ini isue menarik dan sensitif, saya putuskan utk menampilkan narasumber secara terbuka dan mereka bersedia”. Berbagai upaya dan kerja keras untuk memberantas kejahatan sepakbola terus digencarkan. Termasuk di Indonesia.

Pada 22 Juli 2021, Ketua Umum PSSI Komjen Pol (Pur) Mochamad Iriawan sudah menandatangani perjanjian kerjasama (MOU) dengan MABES POLRI termasuk dukungan keamanan dan penegakkan hukum.

Sosialisasi mengenai hal ini juga sudah dilaksanakan PSSI dan MABES POLRI pada 17 November 2021 secara virtual melalui sarana video conference dari lantai lima MABES POLRI ke seluruh Indonesia.

Melibatkan secara langsung semua Asosiasi Provinsi PSSI (Asprov), Asosiasi Kabupaten (Askab), Asosiasi Kota (Askot) dan semua jajaran Polda sampai Polres.

Sebagai bagian integral dari komitmen memberantas mafia sepakbola, Iwan Bule juga sudah menaikkan gaji wasit 100% menjadi Rp.10 juta perpertandingan di Liga 1 musim 2021-2022.

Rinciannya, wasit tengah Rp. 10 juta, asisten wasit Rp. 7,5 juta, wasit cadangan Rp. 5 juta dan pengawas wasit Rp.5 juta.

Kenaikan ini dinilai fantastis karena merupakan kenaikkan gaji wasit tertinggi sepanjang sejarah persepakbolaan Indonesia.

Selama bertahun-tahun sebelumnya gaji wasit tengah di Liga 1 Rp. 5 juta perpertandingan. Dengan demikian gaji wasit di Indonesia saat ini merupakan salah-satu yg tertinggi di Asia.

Sangat jauh di atas negara Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia ataupun Vietnam yg berkisar antara Rp. 1,5 juta hingga Rp.3,5 juta perpertandingan untuk wasit di liga utama.

Iwan Bule mengatakan kenaikan ini merupakan langka kongkrit PSSI meningkatkan kesejahteraan wasit. Agar semua wasit bisa bertugas secara lebih profesional dan menjauhi segala bentuk godaan tercela.

Lebih dari itu, sebagai Ketua Umum PSSI, Iwan Bule ingin lebih meneguhkan penghormatan yg tinggi kepada integritas dan kinerja positif korps wasit.

Hal itu kembali ditegaskan mantan Kapolda NTB, Kapolda Jawa Barat dan Kapolda Metro Jaya ini dalam pertemuan sekaligus penandatanganan pakta integritas dgn semua wasit Liga 1 di Solo pada 17 November lalu.

Perjalanan panjang sejarah sepakbola dunia sejak Dinasti Han di Tiongkok (260 SM-220 M) sampai gemerlapnya sepakbola sejagat hari ini, tidak terlepas dari sumbangsih besar korps wasit.

Sejak dari beberapa kali pelarangan permainan sepakbola di Inggris waktu Raja Edward III (1369), Ratu Elizabeth I (1572) sampai diijinkan kembali oleh Raja Charles II (1680) hingga berdirinya federasi negara pertama The Football Association (FA) Inggris pada 1863, peran korps wasit sangatlah sentral.

Dari berdirinya FIFA 1904 hingga Piala Dunia 2018 yg ditonton lebih dari 3,3 milyar umat manusia, korps wasit berkontribusi luar biasa.

Sebab itu korps wasit juga wajib senantiasa menjunjung tinggi kehormatan yg sudah mereka miliki sepanjang sejarah.

Karena tanpa kehormatan wasit tidak akan pernah ada kehormatan dalam gemerlapnya sepakbola dunia. (Agus Liwulanga, wartawan senior dan pengamat sepakbola)

TINGGALKAN KOMENTAR