Mempora Imam Nahrawi

JAKARTA-(TribunOlahraga.com)
Menpora Imam Nahrawi berharap Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) menjadi pelopor gerakan memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat yang belakangan ini sudah hilang.
Padahal gerakan yang dicetuskan pertama kali pada 9 September 1983 bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional (Haornas) di Solo oleh Presiden Soeharto waktu itu dinilai ampuh dan strategis.
Harapan Menpora itu disampaikannya ketika membuka secara resmi Munas FORMI di Hotel Twin Plaza Jakarta, Jumat, (29/11).
Menurut Menpora, tingkat kebugaran masyarakat Indonesia sekarang ini berdasarkan data statistik Depkes, paling rendah di antara negara-negara Asean.
‘’Padahal, salah satu indikasi suatu bangsa mengalami kemajuan apabila masyarakatnya produkti dan kreatif. Nah produktif dan kreatif itu kan harus melalui manusia-manusia yang tumbuh dengan sehat baik fisik maupun jasmaninya,’’tambah politisi PKB itu.
Dengan melalui program FORMI yang memang tugas pokoknya menciptakan budaya berolahraga terutama olahraga tradisioanal di masyarakat, tingkat kebugaran masyarakat kita niscaya akan meningkat.
‘’Sesungguhnya Indonesia ini lemah dalam sumber daya manusia (SDM( yang karena salah satu penyebabanya adalah lemahnya tingkat kebugaan tadi. FORMI harus menjadi garda terdepan untuk menciptakan budaya berolahraga di masyarakat,’’papar Menpora yang didampingi Ketua Umum Pengurus Nasional (PN) FORMI Hayono Isman itu.
=Senam Kesegaran Jasmani=
Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PN FORMI Hayono Isman mengatakan, krisis kebudayaan dan tingkat kebugaran masyarakat Indonesia menjadi bahasan utama dalam Munas Federasi Olahraga Masyarakat (FORMI) IV.

Menurut politisi Partai Demokrat itu, krisis kebudayaan ini menjadi salah satu penyebab rapuhnya budaya di Indonesia. Untuk itu, FORMI melihat salah satu upaya untuk membenahi kembali masalah kerapuhan budaya itu dengan mengangkat kembali olahraga tradisional Indonesia.
‘’Jangan pernah meremehkan atau memandang sebelah mata olahraga tradisional. Karena justru di situlah akar budaya dan semangat untuk memunculkan patriotisme kebangsaan,’’paparnya.
Senam kesegaran jasmani (SKJ) yang begitu marak di era 1980-an baik di instansi pemerintahan maupun swasta harus kembali digalakkan. Kalau di instansi pemerintahan seperti diakui Hayono sudah berjalan setiap hari Jumat.
Sementara di lingkungan swasta seperti pabrik-pabrik, tentu harus lebih digalakkan lagi.’’Kan SKJ ini olahraga murah meriah, tak butuh tempat yang luas. Di dalam ruangan tempat bekerja pun bisa berolahraga dan kalau itu rutin dilakukan setiap hari sebelum karyawan bekerja, saya yakin produktifitas mereka meningkat dan dampaknya lebih luas lagi yakni tingkat kebugaran masyarakat kita semakin membaik,’’kata mantan Menpora ini.

Mengenai agenda pembahasan dalam Munas FORMI ini, Hayono mengatakan bahwa persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Pesta Olahraga Masyarakat Internasional (TAFISA) 2016 menjadi topic utama.
Hayono mengatakan, persiapan menjadi tuan rumah TAFISA 2016 itu harus dilakukan sejak jauh-jauh hari. Pasalnya ini even dunia yang menghadirkan sekitar 110 negara.
Persiapan itu tentu berupa anggaran dan FORMI berharap adanya dukungan pemerintah.’’Saya terus terang tidak ingin persiapan TAFISA 2016 ini seperti kita menjadi tuan rumah Islamic Solidarity Games (ISG) 2013 lalu di Palembang, Sumsel di mana pencairan dananya menjelang detik-detik pelaksanaan. Ini jangan sampai terjadi,’’papar Hayono. TOR-02

TINGGALKAN KOMENTAR