JAKARTA(TribunOlahraga.com)

Luar biasa, itulah kalimat yang pantas dialamatkan kepada tim tenie meja Papau. Betapa tidak, tim tenis meja Papua tampil mengejutkan dalam Kejurnas Tenis Meja versi PB.PTMSI yang berlangsung di By Walk Mall Pluit Jakarta Utara, Minggu, (11/11)

Bermaterikan pemain muda usia seperti Zadrat Yaboy,Sembut,kakak beradik Gusti Saiful Desrizal dan Gusti Aditya Muarif, Papua merebut medali emas nomor beregu putra senior (25) tahun setelah di final mengalahkan tim kuat Kaltim dengan skor 3-1. Sukses ini merupakan sejarah karena selama ini peta kekuatan tenis meja nasional dikuasai tim-tim dari Jawa.

Selain merebut medali emas, Papua juga boleh berbangga diri karena di nomor perorangan, Saiful Desrizal merebut medali perak. Di final Gusti dikalahkan pemain Kalsel.

Keberhasilan Papua merebut medali emas dan perak di Kejurnas Tenis Meja ini tak lepas dari sosok Solfianus Betaubun yang kini menjabat Ketua Harian Pengprov PTMSI Papua. Berkat tangan dingin Solfianus prestasi tenis meja Papua menggeliat.

Sejak Ketua Umum Pengprov PTMSI Papua, Jaya Ibnu mengundurkan diri karena fokus sebagai Wakil Bupati Mapi, roda organisasi PTMSI Papua dikendalikan Solfianus.

Menurut dia, sukses merebut medali emas dan perak ini bukan datang tiba-tiba-. Ini merupakan buah pembinaan selama empat tahun. ”Meski baru empat tahun dibina, kami telah memberikan prestasi membanggakan. Mudah-mudahan ini menjadi pelecut semangat bagi kami untuk berbuat yang lebih baik lagi,”katanya.

Solfianus berharap, sukses ini juga menjadi perhatian Pemprov Papua dan KONI Papua agar pembinaan tenis meja di Papua lebih digalakkan lagi. Hasil ini pun, lanjut dia menjadi modal besar bagi tenis meja Papua menghadapi PON 2020 di Papua.

Sebagai tuan rumah PON 2020, Papua tentu ingin tampil yang terbaik dan tenis meja siap memberikan kontribusi medali. Yang pasti, tenis meja berani mematok target medali di PON ke-20 nanti.

”Memang kami sadar daerah lain juga punya tekad yang sama dan Papua tentu merasa tertantang. Untuk mematangkan persiapan ke PON, para atlet tenis meja Papua sudah tiga tahun dilatih di Jakarta. Kami sengaja berlatih di Jawa karena menguntungkan untuk uji kemampuan,”tambahnya.

Solfianus yang didampingi pembina tenis meja Papua Mansur Lakoro itu juga mengatakan, pihaknya akan mengirim atletnya berlatih di Cina. Dengan berlatih di negeri Tirai Bambu itu, Solfianus yakin kemampuan para atletnya makin terasah.

”Kami berharap program kami akan mendapat dukungan penuh dari KONI Papua. Memang selama ini pendanaan masih swadaya dari orang tua,”tuturnya.

Sementara itu Mansur Lakoro menyebut sukses Papua ini semakin membuktikan bahwa tenis meja kini tak didominasi lagi oleh kekuatan dari Jawa.”Sukses di kejurnas ini tentu menjadi awal baik bagi tenis meja Papua dan tentu KONI Papua tak perlu ragu lagi menjadikan tenis meja sebagai salah satu cabang olahraga prioritas,”katanya.

Menurut pria asal Gorontalo itu, pembinaan tenis meja di Papua sekarang ini semakin menunjukkan adanya peningkatan.”Yang patut digaris bawahi Papua telah melahirkan atlet tenis meja putera daerah seperti Zadrat. Ini membuktikan tenis meja Papua punya masa depan untuk bersaing bukan hanya di level nasional juga internasional,”kata Mansur Lakoro.

Memang untuk pelatihan,lanjut Mansur Lakoro, tenis meja Papua masih mengandalkan pelatih dari luar seperti Faturozi dan Sumitro Gusti. Namun ke depannya, Papua tak hanya membina atlet juga akan mengembangkan pelatih lokal supaya akan ada transfer ilmu. TOR-08

 

TINGGALKAN KOMENTAR