Setiap ada kejuaraan catur baik yang level lokal maupun nasional yang berlangsung di Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi), sosok Fabian Lumentut hampir tak pernah absen.

Pria kelahiran Gorontalo 1 Oktober 1940 itu memang dikenal ”maniak” catur. Bahkan di usianya yang sudah 78 tahun, kecintaan Febian Lumentut terhadap permainan olah raga asah otak semakin kental.Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang duduk, tabel, catur dan dalam ruangan

Dijumpai TribunOlahraga.com di sela-sela berlangsungnya JAPFA Chess Festival 2018 di Auditorium Wisma Karsa Pemuda Senayan Jakarta, Jumat, (15/11), Febian baru menyelesaikan pertandingannya melawan Gordon Samosir di babak ke-7 dari 9 babak yang akan dimainkan.

Pada babak ke-7 Febian mencatat kemenangan sehingga membuat ayah 4 anak dan kakek dari 13 cucu itu mengemas 4 poin untuk kategori veteran. Namun bagi Febian, keikusertaannya di turnamen ini bukan semata-mata mengejar kemenangan apalagi juara.

”Bagi saya, keikutsertaan di setiap turnamen ini selain untuk ajang silaturahmi juga untuk mencari kesenangan belaka. Saya hidup enjoy bersama catur. Mengenal permainan catur sejak SMP, saya merasa hidup ini bahagia. Apalagi di sisa usia saya ini, catur menjadi pilihan utama untuk membuang kepenatan,”kata pria yang mengaku pernah menjuarai catur Pekan Olahraga Maesa pada era 1970-an ini.

Kehidupan Febian juga penuh warna, lahir di Gorontalo kemudian menghabiskan waktu remaja di Tondanio, Minahasa, Sulut. Dari Minahasa, Febrian hijrah ke Makassar, Sulsel pada awal tahun 1960-an. Di kota angin mamiri itu dia sempat menjadi Kepala Dok Kapal dari sebuah perusahaan pelayaran.

Usai pecah peristiwa Gerakan 30 September (G-30/S-PKI) pada 1965 tepatnya tahun 1968, Febian pindah dan mengadu nasib di Jakarta. Di Ibukota inilah, kegilaan Febian terhadap permainan catur makin menjadi-jadi.

Kadang dia menganalisa partai-partai penting yang pernah dimainkan para Grand Master dunia seperti Garry Kasparov dan Anatoly Karpov. Meski usianya sudah tak muda lagi, daya pikir dan daya ingat Febian masih oke. Penglihatannya pun masih tajam setajam permainannya di papan catur.

Febian pun mengaku tak kenal kata berhenti untuk bermain catur. Selagi masih diberi kesehatan dan kekuatan oleh Tuhan, dia masih terus bermain catur.”Tak mungkin saya berhenti main catur karena permainan  inilah yang justru membuat saya merasa enjoy,”demikian Febian Lumentut yang kini punya 12 cicit itu. TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR