JAKARTA-(TribunOlahraga.com)

Musyawarah Olahraga Nasional Luarbiasa (Musornaslub) KONI yang digelar di Ball Room Hotel Sultan, Jakarta, Jumat(23/11) mencabut mandat Ketua Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI) Sudirman.

Pencabutan mandat itu terkait erat dengan sepak terjang Sudirman di BAORI yang dinilai pata petinggi telah melampaui batas kepatutan. Banyak keputusan dan kebijakan BAORI yang tanpa koordinasi dengan KONI.Gambar mungkin berisi: Sayid Iskandarsyah, berdiri dan teks

Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman  (Foto/OLII)

Sebelum mencabut mandet Ketua BAORI, KONI melalui Wakil Ketua Umum 1 yang juga Ketua Panpel Musornaslub, Suwarno membeberkan daftar ”dosa” Sudirman selama memimpin lembaga peradilan khusus olahraga itu.

Sejak terpilih dalam Musornaslub KONI Pebruari 2017 lalu di Lemhanas Jakarta, Sudirman belum menyusun kepengurusan lengkap BAORI. BAORI juga sudah melakukan sidang-sidang dan hasilnya tidak dikoordinasikan dengan KONI Pusat. Padahal BAORI belum dilantik oleh KONI.

Meski tidak secara ekplisit disampaikan Suwarno, ”dosa-dosa” BAORI di bawah kepemimpinan Sudirman yang mungkin dianggap KONI agak nyeleneh adalah ketika BAORI memenangkan gugatan PTMSI Sulut versi PP.PTMSI pimpinan Oegroseno.Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk dan dalam ruangan

Sudirman, khlas menerima keputusan pencabutan mandat sebagai Ketua BAORI (Foto/OLII)

Dalam kaitan kasus dualisme PTMSI itu, BAORI memang menganulir hasil Munaslub PB.PTMSI 2018 di Hotel Santika Jakarta yang mengantarkan Tahir sebagai Ketua Umum. Padahal sudah bukan rahasia umum lagi bahwa KONI Pusat mengakui kepengurusan PB.PTMSI hasil Munaslub di Hotel Santika tersebut.

Bahkan menurut Suwarno, BAORI juga ada keinginan untuk membentuk kepengurusan di tingkat Provinsi (Kabupaten/Kota). Dan yang terakhir pada tanggal 19 Nopember 2018 BAORI menggelar seminar di UI Salemba.

Serentetan ”dosa’dosa” itulah KONI kemudian menindaklanjuti hasil Rapat Kordinasi Teknis (Rakornis) yang digelar beberapa waktu lalu dengan merekomondasikan pencabutan mandat Ketua BAORI.

”Dan KONI tentu harus menindaklanjuti amanah itu agar BAORI tidak semakin liar dan tak terkendali. Bagi KONI, pembenahan organisasi itu penting agar BAORI memiliki kewibawaan dan bermartabat,”kata Suwarno.

Dalam Musornaslub yang dihadiri 75 peserta dari unsur pengurus induk organisasi cabang olahraga (PB/PP) dan KONI Provinsi itu, posisi Sudirman di BAORI memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Mayoritas angota menyetujui pencabutan mandat tersebut.

Sudirman yang hadir dalam Musornaslub itu sebagai Ketua Umum PB.Muaythai Indonesia memang dibuat tak berdaya. Mantan karateka nasional ini tak diberi kesempatan sedikit pun untuk membela diri dalam kapasitasnya sebagai Ketua BAORI>

Sementara itu Ketua Umum KONI Pusat, Tono Suratman, mengatakan pemberhentian ini merupakan keputusan bersama seluruh anggota KONI Pusat.

“Dasarnya adalah selain rangkap jabatan, juga selama ini BAORI tidak transparan dalam hal memutuskan kebijakan dan tidak membentuk kepengurusan BAORI,” kata Ketua Umum KONI Pusat, Tono Suratman usai Musornaslub, Jumat(23/11).

Selain itu, alasan lainnya, kata Tono Suratman, para anggota KONI Pusat menginginkan kepengurusan BAORI kedepan lebih solid. Mengenai kekosongan jabatan Ketua BAORI, KONI seperti dikatakan Tono akan menunjuk Pelaksana Tugas (Plt) yang dipegang langsung oleh Bidang Hukum KONI Pusat.

Menurut rencana, kepengurusan baru BAORI akan dibentuk pada saat Raparnas KONI pada 2019 mendatang,” tandasnya.TOR-08

 

TINGGALKAN KOMENTAR